Senin, 25 Oktober 2010

2. SRI BEKUNG


Kira-kira pada penghabisan abad ke XVI, tersebutlah sebuah kapal dagang milik bangsa Portugis terdampar pada suatu tempat dipantai Bukit Pecatu (Bangli Selatan).
Semua barang-barang muatan kapal itu dirampas oleh penduduk yang berdiam di sekitar pantai itu. Perbuatan yang serupa itu meang dibenarkan oleh suatu undang-undang yang berlaku ketika itu di Bali, yakni undanga-undang yang disebut Tawan – Karang. Diantara barang-barang yang dirampas  itu, terdapatlah beberapa buah petunjuk meriam, yang segera diserahkan kepada pemerintah di Gelgel. Anak buahnya hanya 5 orng yang masih hidup, sedangkan yang lainnya tiada diketahui nasibnya.  Kapal itu sendiri telah hancur berantakan terbentur pada sebuah batu karang, akibat pukulan angin yang sangat kencangnya. Kelima orang awak kapal itu diangkut ke Gelgel dan disana mendapat perlindungan yang baik dari pemerintah. Salah seorang diantaranya akhirnya kawin dengan gadis Bali, dan tetap berdiam disana hidup sebagai petani.
              Yang memutar roda pemerintahan ketika itu di Gelgel ialah sebuah Badan PERWALIAN MAHKORA yang beranggotakan 5 orang yakni : Dea Gedong Artha, Dewa Nusa, Dewa Pagedangan, Dewa Anggungan, dan Dewa Bangli. Mereka adalah orang-orang bangsawan, yakni putra dari Almarhu Dewa Tegalbesung. Badan perwalian Mahkota itulah yang memegang kekuasaan tertinggi, serta bertanggung jawab penuh atas keselamatan kerajaan, selama putra mahkota almarhum Sri Batur Enggong masih kecil. Ketentraman dan keamanan masih tetap terpelihara, dibawah kekuasaan yang bijaksana. Pendeuduk pulau Bali hidup aman dan sejahtera, karena tiap-tiap kepala desanya tetap memegang teguh adat istiadat yang berlaku, serta mampu menciptakan ketertiban dan kemakmuran.
              Di dalam ketenangan suasna yang demikian itu, tiba-tiba rakyat di kota Gelgel dikejutkan oleh suatu kejadian yang mengerikan. Kiyai Batan jeruk yang menjadi Patih Agung dikerajaan itu mengadakan penghianatan terhadap  pemerintah kerajaan. Tidanakan Kiyai Batan Jeruk mendapat dukungan dari Dewa Anggungan, yakni salah seorang dari anggota Badan perwalian Mahkota itu beserta dengan Anglurah lainnya. Mereka yakni, bahwa tindakannya akan berhasil, mengingat dengan kekausaan yang dipegang oleh Kiyai Batan Jeruk sebagai patih Agung, akan mendapat dukugnanluas dari penduduk ibu kota maupun dari para pembesar-pembesar kerajaan. Lebih-lebih dengan adanya beberapa buah pucuk meriam dari hasil sitaan itu, yang langsung diawasi olehKiyai Batan Jeruk, mempertebal keyakinan Dewa Anggungan, bahwa ia akan dinobatkan kelak sebagai raja di kota Gelgel, Demikianlah secara diam-dia terbventuk suatu komplotan rahasia dibawah pimpinan Kiyai Batan Jeruk, yang tindakannya itu telah menggemparkan seluruh penduduk di kota Gelgel. Dengan beberapa orang pengawalnya yang amat setia, Kiyai Batan jeruk lalu menangkap para putra dan putri almarhum Baginda raja Sri Batur Enggong. Dalam penangkapan tersebut ternyata putri Baginda yang masih kecil itu menangis meronta-ronta, dan menjerit-jerit minta pertolongan. Dengan kejamnya Kiyai Batan Jeruk lalu menusuk putri itu dengan kerisnya, sehingga seketika putri itu menemui ajalnya. Sedangkan kedua saudaranya yang laki-laki yakni Raden Pagharsa dan Raden Anom Sagening lalu ditahan dan dikurung di dalam istana.
              Berita kemangkatan putri tersebut, menggmparkan penduduk di kota Gelgel. Mereka kebanyakan menjela perbuagtan Kiyai Batan Jeruk yang amat kejam itu, tiada mengenal belas kasihan dan perikemanusiaan. Sementara itu kiyai Kubon Tubuh telah banyak dapat mengadakan hubugnan dengan pemuka-pemuka rakyat, dan mereka menyatakan masih setia kepada para putra mahkota yang sedang ditahan itu. Karena itu dengan diam-dia Kyai Kubon Tubuh lalu melakukan penculikan keistana, dnegan jalan membongkat tembok istana disebelah barat. Kedua putra mahkota itu lalu segera dilarikannya, dengnamelalui rumah Kyai Banguri dan akhirnya tiba di desa pekandelan. Disana sudah siap para pemuka-pemuka rakyat menunggu diantaranya : Kyai Penatih, Kyai Tabanan, Kyai Tegeh Kori, Kyai Pagotepan, Kyai Buringkit, Kyai Kaba-kaba, Kyai Kapal, Kyai Sukehet, Kyai Pacung, Kyai Abiansemal, Kyai Pering, Kyai Cagahan, Kyai Tangap dan Kyai Brangsingha. Di samping itu telah tersedia pula pauksn yang kuat, yang siap menunggu komando untuk meghancurkan kekuatan Kyai Batan Jeruk yang mendurhaka itu.
              Setelah beberapa saat Baginda raja putra tiba di desa Pekandelan, suara kentonganpun lalu kedengaran dimana-mana. Suasana kota Gelgel menajdi hiruk-pikuk, semua rakyat keluar memanggul senjata sehingga jalan-jalan penuh sesak oleh manusia. Rumah Kyai Batan Jeruk segera dikepung dari segala jurusan, oleh suatu pasukan yang bersenjatakan lengkap. Akan tetapi Kyai Batan Jeruk telah terlebih dahulu meninggalkan kota Gelgel bersama-sama dengan sekalian keluarganya, karena ia mengetahui bahwa kebanyakan pemuka-pemuka rakuat masih mencintai rajanya. Walaupun demikian tentara yang sedang marah itu terus megnadakan pengejaran terhadap Kyai Batan Jeruk beserta dengan pengikutnya yang menghilang itu. Sampai pada suata tempat yang bernama Jungutan Kyai Batan jeruk dapat dicegat dan segera dibunuh. Sedangkan saudaranya yang lain yakni : Kyai Abian nangka, Kyai Tusan bagian Timur, sehingga  mereka sampai pada suatu desa bersama Batu Aya, disitulah mereka menetap bersama-sama dengan tersangkut pula Kyai Pohjiwa didalam pemberontakan itu.
Karem itu ia segera ditangkap dan dibunuh. Sedangkan Kyai Pande dan Kyai Jelantik dibebvaskan dari tuntutan karena ia terbukti tiada bersalah. Sementara itu Dewa Anggungan telah menyerahkan dirinya, dan mengakui segala kesalahannya. Ia amat menyesali perbuatannya itu, karenanya ia tiada jadi dijatuhi hukuman mati. Hanya kebangsawanannya dicabut, dan ia tiada lagi diakui berderajat Kesatya oleh sekalian keliarganya.
              Menurut keterangan kitab Babad Dalem bahwa pemberontakan Kyai Batan Jeruk itu terjadai didalam tahun Isaka 1509 (tahun 1586 M), dengan sebutan Candra Sangkala yang berbunyi : Brahmana Nyarita kawahan wani”. Brahana berarti angka 8, kawahan berarti angka 5, dan wani berarti angka 1. Syukurlah pemberontakan Kyai Batan Jeruk itu menemui kegagalan dan dalam waktu yang amat singkat api pemberontakan itu telah dapat dipadamkan. Korban rakyatpun tiada banyak yang terlibat. Didalam waktu yang singkat keamanan dan ketenteraman telah dapat dipulihkan kembali, sehingga rakyat merasakan seolah-olah tiada pernah terjadi sesuatu apa. Untuk menggantikan Kyai Batan Jeruk maka diangkatlah Kyai Manginto  sebagai patih Agung dikerajaan Gelgel. Ia adalah salah seorang anak dari pangeran Anak.
              Peristiwa pemberontakan Kyai Batan Jeruk yang gagal itu, ternayta besar pengaruhnya didaeah sebearang. Di pulau Sumbawa tejadi pemberontakan, dan menyatakan dirinya bebas dari kekuasaan Baginda Raja di Gelgel. Maka untuk memadamkan pemberotnakan itu, dikirimlah sejumlah tentara yang kuat dari Bali dibawah pimpinan Kyai Bande untuk menguji kesetiaannya. Didalam pertempuran itu, Kyai Panda menunjukkan keberanian dan keunggulannya, sehingga tiada menunjukkan keberanian dan keunggulannya, sehingga tiada sedikit musuh-musuhnya mati diujung senjatanya. Demikian pula tentara Bali yang dipimpinnya, ternyata bertempur mati-matian, sehingga pemberontakan itu dapat dipadamkannya.
              Nama Kyai Pande amat dipuji-puji oleh penduduk di kota Gelgel. Kedatangannya dari pulau Sumbawa mendapat sambutan yang sangat meriah, suatu tanda bahwa rakyat Gelgel menghormati pahlawannya yang gagah itu. Akan tetapi tiada lama berselang, mendarat pula tentara dari kerajaan Mataram dan pasuruan yang besar jumlahnya dipantai desa Tukan (Bali Selatan). Untukmenghadapi musuh yang telah mendarat itu, pemerintah di Gelgel lagi menunjuk Kyai Pande untuk menghadapinya. Dengan kebulatan tekad Kyai Pande bersama-sama dengan tentara Kerajaan yang telah banyak berpengalaman di medan pertempuran berangkat kepantai desa Tuhan. Setelah tiba disana, segera pertempuran mulailah. Penyerangan Kiyai Pande sangat mengagukan. Beberapa buah giginya telah hilang kena peluru, namun keberaniannya didala pertempuran makin berkobar-kobar. Ia tiada mempedulikan jumlah korban  yang bergelimpangan. Berkat keberanian dan kecakapannya memimpin pertempuran, maka tentara kerajaan Mataram dan pasuruhan yang telah mendapat itu dapat dihancurkan. Sedangkan sisanya terpaksa mengundurkan diri, dan meninggalkan pulau Bali untuk kembali ke Jawa. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1587.
              Kemenangan Kiyai pande didalam dua pertempuran itu mendapat penghargaan besar dari pemerintah kerajaan. Untuk membalas jasanya yang besar itu, ia mendapat hadiah tanah yang luas terletak di sebhelah timur sungai Unda beserta dengan sekalian penduduknya. Semenjak itu, Kiyai Pande berhak menentukan nasib penduduk di desa tersebut, karena daerah itu sudah menjadi hak miliknya.
              Tersebutlah raja Putra Raden Pangharsa setelah meningkat dewasa, lalu dinobatkan menjadi raja dikerajaan Gelgel. Beliau dibantu oleh adiknya yang bernama Raden Anom Segening, dengan kedudukan sebagai wakil Raja yang disebut Iwa Raja. Beliau dibantu oleh adiknya yang bernama Raden Anom Segening, dengan kedudukan sebagai Wakil Raja yang disebut Iwa Raja. Beliau merawisi sebuah kerajaan yang besar, yang baru saja mengalami beberapa peristiwa penting, diantaranya pemberontakan Kiyai Batan Jeruk, pemberontakkan rakyat di Sumbawa dan pendaratan tentara dari kerajaan Mataram dan Pasuruhan. Dengan adanya peristiwa-peristiwa itu, maka kerajaan menuntut kenaikan seorang raja yang cakap, adil dan bijaksana, untukmelindungi rakyatnya dari segala kehancuran. Akan tetapi setelah Raden pangharsa dinobatkan menjadi raja, ternyatalah beliau bukan orang yang cakap dan bijaksana. Syukurlah Raden Anom segening yang mendampingi beliau sebagai Iwa Raja, pandai memikat hati rakyat, sehingga rakyat ibu kota masih tetap menghormati tegak berdirinya keraton Gelgel.
              Smenjak Raden pangharsa meutar roda pemerintahan dikeraton Gelgel, suasana pemerintahan tampak kian hari bertambah suram, ketertiban dan keamanan sering terganggu, sendi-sendi kesuilaan yang menjadi ukuran akan martabat seseorang, sudah tidak diindahkan lagi. Perbuatan cabul meraja lela, baik di kalangan atas maupun dikalagangn rendah, bahkan baginda raja sendiri turut terlibat didalam perbuatan yagn mesum itu. Tiada seorangpun diantara pemuka-pemuka rakyat yang berani menentangnya bahkanmereka memudi tindakan baginda raja, sehingga menimbulkan suasana gairah bagi pemimpin-pemimpin didalam menghadapi tugasnya. Hanya Kiyai Pandelah yang mereka sedih melihat suatu perkembangan yang demikian, sebab ia yakin kemerosotan oral pemimpin akanmembawa kehancuran bagi kerajaan beserta rakyatnya. Lebih-lebih terhadap tingkah lakunya Kiyai Telabah. Ia amat benci melihatnya, karena berani menodai keharuman nama Istana, disamping telah menghinda pula kedudukannya.
              Pada suatu ketika Kiyai pande dengan mengenakan sebuah kalung yang indah ia menghadap baginda raja di istana. Baginda amat kagum melihat perbuatan kalung Kiyai Pande yang demikian indahnya, sehingga baginda menitahkan untuk dibuatkan sebuah. Pada kalung itu hendaklah dihiasi dengan batu-batu permata yang baik, sehingga sesuai dengan pakaian kebesaran seorang raja. Kiyai Pande menyanggupi permintaan baginda raja, serta akan mengusahakan batu permata yang sesuai dengan keinginan baginda. Setelah mohon diri lalu Kiyai Pande segera mendapatkan Kiyai Telabah dirumahnya. Ia menyampaikan maksud kedatangannya, ialah atas kitab baginda untuk meminjam cincin yang dipakainya itu. Kiyai Telabah tiada berani menolaknya, dan cincin itu segera diserahkannya untuk dibawa keistana.
              Melihat kedatagan Kiyai Pande yang demikian cepatnya, baginda merasa gembira serta memuji akan ketulusan hatinya untuk mengabdikan dirinya kepada kerajaan. Kiyai Pande segera menyerahkan cincin yang dibawanya itu, serta mengatakan bahwa cincin tesebut adalah kepunyaai Kiyai Telabah. Menurut hematnya bahwa baginda akan berkenan mempergunakan batu permatanya yang besar itu, untuk menghiasi kalung yang baginda inginkan. Setelah memperhatikan cincin yang diserahkannya itu, baginda lalu terkejut, karena baginda yakin bahwa cincin itu adalah kepunyaan istri baginda yang bernama : Ni Samuan Tiga. Timbullah rasa curiga dihati baginda, bahwa kIyai Telabah sudah jelas melakukan hubungan rahasia terhadap istrinya, sehingga ia rela menyerahkan cincin tersebut kepadanya. PerbuatanKiyai Telabah yang tidak senohoh itu, sangat melukai hati baginda, karena mencerminkan keharuman nama keraton di Gelgel. Bangkitlah kemarahan baginda, sehingga beliau menitahkan Kiyai pande untuk segera melenyapkan Kiyai Telabah dari muka bumi ini. Baginda menasehatkan, hendaknya Kiyai Pande cukup bijaksana didalam menjalankan tipu muslihatya, mengingat dengan banyaknya keluarga Kiyai Telabah yang menjadi pemimpin rakyat di kota Gelgel. Walaupun demikian baginda berjanji akan tetap melindungi perbuatan Kiyai Pande, seandainya kemudian ada yang mengetahui atas kematian Kiyai Telabah itu. Sebab perbuatan Kiyai Pande itu dipandang oleh baginda adalah tugas kerajaan, didalam memusnakahkan segala bentuk kejahatan. Untuk lebih meyakinkan, maka baginda lalu mengajak Kiyai Pande ketempat pemujaannya yang bernama “Warapsari”, disitulah mereka sama-sama mengucapkan sumpahnya. Baginda bersumpah akan tetap melindungi perbuatan Kiyai pande, sedangkan Kiyai Pande bersumpah akan melakukan pembunuhan atas diri kiyai Telabah.
              Demikianlah suatu perjanjian yang diadakan oleh baginda raja Sri pangharsa dengan Kiyai Pande diperkuat dengan sumpah yang diucapkan bersama-sama ditempat pemujaan baginda yang bernama Warapsari. Setelah mohon diri, akhirnya Kiyai Pande lalu pulang, dan segera memanggil seorang budaknya yang brnama : Ki Capung. Budaknya itu berasal dari desa Penasan, amat setia serta tangkas dan pandai menyimpan rahasia. Kepadanya lalu diserahkan sebilah keris pusaka yang amat ampuh bernama “Kapal Angsoka”, serta tugas rahasia yang harus dilaksanakan. Setelah Ki Capung mengerti akan maksud majikannya itu, lalu ia mohon diri dan kemudian pergi dengan diam-diam.
              Tersebutlah Kiyai Telabah yang sejak beberapa bulan telah berdiam di desa Kuta (Badung). Ia meninggalkan kota Gelgel, setelah ia menyerahkan cincinnya kepada kiyai pande, yang akan diperlihatkannya sebagai contoh kepada baginda raja. Sejak itu hatinya selalu cemas, bahwa jiwanya akan teracancam, karena cincin itu diperolehnya dengan jalan curang dari hubungan rahasia terhadap istri baginda. Karenanya demi keselamatan jiwanya, terpaksalah ia meninggalkan kota Gelgel dengan diam-diam, hidup sebagai nelayan di desa Kuta. Walauopun demikian, hatinya tetap selalu was-was, mengingat akan perbuatannya yang tiada wajar itu. Untuk menjaga keselamatan jiwanya, ia tetap membawa keris pusakanya yang bernama “Ki Tindak Lesung”.
              Pada suatu malam ketika ia baru tiba dari mengail, tiba-tiba ia disergap dan ditikam oleh 2 orang yang tidak dikenal. Untunglah sebelum ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan, ia dapat pula mengadakan pebelasan dengan keris pusakanya itu, sehingga peristiwa yang menyedihkan itu menelan koraban 2 orang. Melihat mayat yang bergelimpangan itu, kawanan penyergap yang tinggal seorang lagi lalu menyelinap di tepat gelap. Dan kemudian terus menghilang denan tiada berani menampakkan diri lagi. Orang ituialah Ki Capung, yang telah berhasil menunaikan tugasnya denan seksama. Ia dibantu oleh seorang nelayan yang pernah disiksa oleh Kiyai Telabah, sehingga kematian 2 orang itu menimbulkan kesan, bahwa mereka mati karena berperang tanding. Sedikitpun tidak ada dungaan di masyarakat, kalau kematian kiyai Telabah itu akan membawa ekor yang panjang, yang akan mengkibatkan gugurnya beberapa orang pahlawan di kota Gelgel nanti.
              Suasana di kota Gelgel tetap tenang, walaupun telah tersiar kabar tentang meninggalnya Kiyai Telabah di Desa Kuta, Ki Capung sangat pandai menyimpan rahasia., segala tindakannya tiada mencurigakan. Cara hidupnya tetap sedeerhana meskipun kecayaannya telah bertambah karea banyak memperoleh hadiah dari baginda raja maupun dari Kiyai pande. Dan tetapi setelah beberapa tahun kemudian ialah pada kematian Ki Capung yang tiada terduga – duga itu, menjadi buah pembicaraan masyarakat di kota Gelgel. Mayatnya penuh luka-luka terlentang ditepi jalan di pinggir tembok pekarangan Kiyai Pande. Isterinya menangis tersedu-sedu, dan tiada henti-hentinya mengumpat serta memaki-maki Kiyai Pande, yang katanya tiada tahu membalas jasa. Demikian besar pengabdian suaminya, sampai ia rela menyambung nyawa untuk membunuh Kiyai Telabah di desa Kuta. Namun akhirnya Kiyai Pande sampai hatijuga membunuh suaminya yang tiada berdosa itu. Akhirnya berita tersebut terdengar pula oleh Kiyai anglurah Kanca, yakni keluarga mendiang Kiyai Telabah. Ia segera pergi menghadap baginda raja ke istana, bermohon kehadapan baginda agar perbuatan Kiyai Pande seperti yang dikatakan oleh istri Ki Capung itu segera dituntut.
              Baginda raja Sri pangharsa yang sejak penobatannya selalu bersikap lemah dan kruang tegas, akhirnya menerima tuntutan Kiyai Anglurah Kanca itu, Baginda merasa khawatir, karena keluarga Kiyai Anglurah Kanca itu tiada sedikit jumlahnya, terpaksalah baginda memungkiri sumpahnya sendiri yang diucapkannya di tempat suci Warapsari. Untuk menjaga ketenangan suasana di ibu kota, maka baginda menasehatkan agar Kiyai pande rela melakukan persupahan yang disebut Tjor Pangrerata, yang berarti bahwa ia bersih dari tuduhan itu. Akan tetapi Kiyai Pande amat marah mendengar keputusan baginda yang tiada bertanggung jawab itu, maka bulatlah tekadnya untuk menghadapi segala tindakan pemerintah yang dirasakanya kurang bijaksana itu. Sebelum tiba waktunya, sempat pula ia membuat syair yang berjudul Nathamartha, yang mengisahkan kebahagiaan seorang kestya yang mati didalam perempuran. Kemudian ia lalu memanggil ketiga anaknya yakni : Kyai Agra Byasama, Kiyai Plangpung dan Kiyai Jalengkong, seraya diberitahukannya tentang kebulatan tekadnya untuk menghadapi tindakan baginda raja yang tiada setia akansumpahnya itu. Ketiga anaknya sangat memuji keluhuran budi ayahnya, yagn selalu menjaga nama baik keturunannya, walaupun hal itu akan meminta pengorbananjiwa dan raganya. Mereka rela membela kebenaran ayahnya, sebagai anak seorang Kesatya tiada gentar mengahdap maut di dalam pertempuran. Pada suatuhari yag telah ditentukan, ternaytalah kIyai Pande tiada datang untuk melakukan persumpahan. Karenanya ia lalu dijatuhi hukuman mati, atas perbuatanya yang menentang keputusan pemeritnah. Rumahnya lalu dikepung oleh pasukan pemerintah yang hendak menangkapnya, agar jangan sampai sempat ia melarikan diri.
              Keadaan kota Gelgel menjadi gawat, digemparkan degan berita bahwa Kiyai Pande akan ditangap dan dibunuh. Istana Baginda telah dijaga kuat oleh pasukan pengawal kerajaan, disamping rakyat biasa yang datang berduyun-duyun untuk menyatakan kesetiannya. Didalam keadaan suasana yang demikian itulah Kiyai Pande beserat dengan ketiga anaknya lalu keluar dari rumahnya. Mereka diiringkan oleh 400 orng rakyatnya yang masih setia, lengkap dengan senjata untuk menghadapi pasukan baginda raja yang akan membinasakan majikannya. Ditengah jalan Kiyai Pande berjumpa dengan adiknya yang bernama Kiyai anyar Rame iapun lalu mengikuti jejak saudaranya.
              Pertumpahan darah tiada dapat dihindarkan lagi. Pasukan Kiyai Pande terpaksa mendahului mengadkaan serangan, kerana mereka yakin bahwa pasukan pemerintah yang datang dari Selatan dibawah pimpinan Kiyai Bedahulu akan menangkap majikannya. Pertempuran mulailah, yang mula-mulanya kelihatan seolah-olah tiada bersungguh-sungguh. Mungkin karena enggan berperang karena mereka tahu bahwa orang-orang itu satu dengan lainnya sama-sama penduduk ibu kota. Akan tetapi setelah kelihatan banyak tetesan darah yang mengalir, semangat mereka lalu berubah. Lebih-lebih setelah tejadi beberapa korban yang jatuh, jiwa kepahlawanan mereka lalu bangkit, masing-masing pihak lalu memperlihatkan ketangkasan dan keuletannya. Di dalam pertempuran yang makin menghebat itu, Kiyai Anuar Rame menemui nasibnya yang malang. Ia gugur sebagai seorang kesatrya, didalam membela saudaranya yang ingin menegakkan keadilan dan kebenaran. Melihat kematian Kiyai anyar Rame itu, maka tampillah Kiyai Agra Byasama untuk memimpin pertemapuran. Ia bertekad menghadapi maut, serta tiada memperdulikan mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Ia membabi buta menghadapi serangan lawannya, disamping itu ia meang mahir mempermainkan senjata. Tiada sedikit jumlah pasukan Kiyai Bedahulu yang ditewaskannya sehingga terpaksa mereka mengundurkan diri sampaike pinggir pantai. Akan tetapi pasukanKiyai Pande dibawah pimpinan anaknya yang sedang mengganas itu, terus melakukan pengejaran. Kiyai Bedahulu yakin bahwa kekuatan pasukannya sudah makin berkurang, lalu segera menyeberangi sungai Jinah, dan terus menggabungkan diri dengan pasukan yang mengadakan pertahanan disebelah Barat istana. Pasukan tersebut dipimpin oleh Kiyai Pinatih dan Kiyai Kubon Tu. Akan tetapi setelah pasukan Kiyai Pande tia di situ, ternyata pertahanan yang terletak di sebbelah barat Istana, tiada sanggup menghadapi Kiyai Biyasama yang sedang mengganas itu. Di dalam pertempuran yang tiada seimbang itu, beberapa orang dari pasukan Kiyai Pinatih telah jatuh bergelimpangan, dan yang lainnya lalulari tunggang langgang. Demi untuk keselamatan jiwanya, kiyai Penatih dan Kiyai Kubon Tubuhpun lalu mengikutijejak pasukannya, karena tiada tahan berhadapan dengan Kiyai Agra Byasama yang sedang membabi buta itu.
              Pertahanan pasukan baginda raja yang terletak disebelah Selatan dan Barat Istana telah dapat ditembus dengan pengorbanan Kiyai
Anyar Rame beserta beberapa orang anak buahnya. Akan tetapi Kiyai Pande tiada mau terhenti sampai disitu saja, dan ia terus menuju arah ketimur akhirnya sampai disebelah utara istana. Disana terdapat pertahanan yang kaut dibawah pimpinan Kiyai Tabanan, Kiyai Kaba-kaba, Kiyai Buringkit dan Kiyai Tegeh Kori. Pasukanyang menghadang itu lalu diserbu oleh Kiyai pande,Kiyai Agra Byasama, Kiyai Pangpung, Kiyai Jalengkong yang masing-masing telah memimpin pasukan sendiri-sendiri. Pertempuran yang sngit segera terjadi, masing-masing pihak memperlihatkan keberanian dan ketangkasannya. Ratusan korban jatuh berserakan, jerit dan tangis tiada ada yang menghiraukan. Siapa lengah berarti akan menemui ajalnya, dengan tiada ada rasa belas dan kasihan, walaupun mereka itu sama-sama saling mengenal yang satu dengan yang lainnya. Akhirnya pasukan baginda raja tiada sanggup menghadapi serangan-serangan Kiyai Pande yang sudah terkenal itu, mereka lalu mengundurkan diri dan kemudian terus melarikan dirinya. Para pemimpinnya yang sudah merasa kehilangan anak buahnya segera pula melarikan dirinya demi akan keselamatan jiwanya. Dalam pertempuran itu, Kiyayi Pande telah kehilangan kekuatan sebanyak ± 300 orang, sedangkan sisanya sudah merasa amat payah. Kiyai Pande yang sedang menganas itu terus mengadakan serangan arah ketimur, dan akhirnya ia bertemu dengan pasukan Kiyai Pandarungan yang mengadakan penjagaan disitu. Dalam pertempuran itu Kiyai Pande dapat berhadap-hadapan dengan Kiyai Pandarungan, lalu mereka melakukan perang tanding. Akhirnya kedua pahlawan itu menemui ajalnya disitu, karena sama-sama kena tusukan keris yang bertuah.
              Melihat gugurnya kedua pahlawan yang gagah itu, maka pasukan yang berjaga disitupun lalau melarikan dirinya, karena mereka khawatir menghadapi serangan Kyayi Agra Byasama bersama adiknya yang sedang mengganas itu. Dengan demikian semua pertahanan yang mengitari istana telah dapat dipatahkan. Dari sebelah Selatan, kemudian mengalih kesebalah Barat dan yang terakhir pertahanan disebelah Utara dan Timur istana. Kini tibalah gilirannya untuk menghancurkan kekuatan benteng terakhir, yakni istana baginda raja. Akan tetapi pasukanKiyai Agra Biyasama sudah tinggal hanya beberapa puluh orang saja, sedangkan kekuatan yang menjaga istana demikian banyaknya. Kiyai Agra Byasama yakin, bahwa penyerbuannya ke istana itu akan sia-sia, bahkan itu pasti akan menjadi kematiannya. Walaupun demikian, semangat kepahlawanannya sebagai seorang kesatrya makin berkobar-kobar, apalagi ia terkenang dengan kematian ayahnya. Bulatlah tekadnya untuk mengadakan penyerbuan ke istana, sebagai penyerbuannya yang terakhir.
              Setelah sesaat menenangkan pikirannya, maka berjalanlah mereka bertiga paling depan selaku pemimpin pasukan. Sedangkan dibelakangnya menyusul rakyatnya yang tinggal lagi beberapa puluh orang. Dari jauh Kiyai Agra Byasama sudah  menghunus keris pusakanya, terus menuju kehalaman istana. Disitu ia dicegat oleh sepasukan Bayangkara yang mengawal istana, serta memerintahkan supaya Kiyai Agra Byasama menyerahkan dirinya bersama-sama denan pasukannya. Dalam pada itu datanglah Anglurah Sidemen yang menjadi pimpinan pasukan Bayangkara itu, serta menasehatkan agar Kiyai Agra Dyasama mengurungkan niatnya itu. Ia sanggup akanmemohonkan ampun kehadapan baginda raja, agar kiyai Agra Byasama kemudian dibebaskand ari segala tuntutan. Namun nasehat itu tiada dihiraukannya, bahkan dipandang sebagai kata-kata penginaan terhadap dirinya. Maka pasukan Bayangkara itu lalu diterjangnya yang kemudian diikuti oleh anak buahnya yang amat setia itu. Terjadilah pertempuran dihalaman istana, antara pasukan Kiyai Agra Byanasama yang sedikit jumlahnya. Akhirya gugurlah kiyai Agra Biasama disitu, sebagai seorang Ksatrya yang telah dapat menunaikan dharmanya. Sementara pertempuran yang sedang berlangsung di halaman istana, Kiyai Pangpung dan Kiyai Jalangkong telah berhasil memasuki istana dengan jalan melalui sebuah lubang saluran air. Akan tetapi sebelum mereka sempat melakukan penyerangan, terlebih dahulu mereka disergap oleh sepasukan tentara, dan segera dibuuhnya.
              Demikianlah kisah pemberotntakan yang dilakukan oleh Kiyai Pande beserta dengan sekalian anak-anaknya, yang terjadi kira-kira tidada antara lama sebelum tahun 1597. Didalam peristiwa yang amat menyedihkan itu, tersebutlah Kiyai panulisan Dawuh Bale Agung seorang sastrawan yang sudah beruur lanjut tu, Ia amat menyesali hidupnya, terkenang akan kematian sekalian anak-anaknya beserta dengan cucu-cucunya yang malang itu. Sebagai kenang-kenangan atas kepahlawanan anak-anaknya itu, maka dikaranglah sebuah kitab yang berjudul “ARDJUNA PRALABDHA”, yang isinya memuji dharma para Kestrya yang gugur didalam medan pertempuran.
              Tersebutlah baginda raja Sri Pangharsa, yang selalu mengurung dirinya didalam istana, walaupun suasana di kota Gelgel telah tenang kembali. Baginda menyadari akan kekeliruan perbautannya, sehingga menimbulkan pemberontakan yang hebat itu. Syukurlah pada waktu itu sungai Unda sedang banjir besar, kalau tidak niscaya kota Gelgel akan hancur lebur, mengingat dengan rakyat Kiyai pande yang demikian banyaknya yang terletak disebelah Timur sungai Unda itu. Setelah pemberontakan itu berakhir, lalu Sri Pangharsa meletakkan jabatanya, dan kemudian berpindah tempat ke Jro Kapal. Sejak itulah baginda digelari “Sag Ing Bedauh” karena letak Jro Kapal itu adalah disebelah Barat Istana. Juga baginda digelari Sri Bekung oleh sekalian rakyatnya di kota Gelgel, karena baginda tiada mempunyai keturunan.
              Setelah baginda Sri Bangharsa yang kemudian disebut juga Sri Bekung meletakan jabatan, maka pemerintahan di Bali dipegang oleh Raden Anom Sagening, Baginda adalah seorang raja yang sangat dihormati oleh sekalian Penduduk di Bali, berkat pimpinannya yang bijaksana dan adil. Kehancuran kota Gelgel lambat laun dapat dipulihkannya kembali, serta ketegangan-keterangan yang terjadi diantara pemimpin-pemimpn rakyat telah dapat diatasinya pula. Walupun demikian kekuasaan baginda yang terletak di Jawa Timur telah direbut oleh kerajaan Mataram, seperti diuraikan dibawah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar