Di dalam permulaan abad ke XVII sudah ramailah pedagang-pedagang bangsa Barat berlayar di lautan Indonesia untuk mencari rempah-rempah.
Keuntungan yang mereka peroleh berlipat ganda di Eropah menyebabkan mereka datang berlomba-lomba. Maka terjadilah persaingan dan perebutan didalam dunia perdagangan, yang menimbulkan banyak ketegangan di Indonesia. Apalagi pada waktu itu di Indonesia tidak terdapat suatu kekuatan yang cukup besar untuk menghadapinya, seperti pada jayanya kerajaan Sri Wijaya maupun kerajaan Majapahit. Kerajaan-kerajaan di Indonesia yang kecil-kecil selalu bermusuhan satu dengan yang lainnya, menyebabkan terbukanya suatu kesempatan baik bagi bangsa Barat untuk menguasainya. Dalam suasana yang demikianlah Raden Parbayun dinobatkan menjadi raja di Gelgel dengan gelar Dalem Di Madhe atau Sri Di Madhe. Baginda adalah memuliakan agama Siwa, seperti termuat di dalam sebuah kitab yang bernama “Srat Andya Purana” dengan mempergunakan gelar Adi Paramartha Siwa Baginda adalah putra mahkota Sri Sagening yang telah mangkat didalam tahun 1621, setelah menduduki tahta kerajaan selama ± 24 tahun. Didalam pemerintahan baginda dibantu oleh seorang Patih Agung yakni Kyai Agung di Madhe salah seorang cucu dari Kyai Agung. Sedangkan kedudukan Demung dan Tumenggung masing-masing dipegang oleh Kyayi Kaler dan Kyayi Bebelod, yang keduanya masih berkeluarga dekat dengan Kyai Agung Di Madhe.
Baginda Sri Di Madhe adalah seorang raja yang terkenal kesabarannya, serta cakap didalam mengemudikan pemerintahan. Beliau pandai memikat hati para pemuka-pemuka rakyat di ibu kota, sehingga ketenangan dan ketenteraman tetap terjamin. Sedangkan Kyai Agung Di Madhe adalah Patih Agung yang berkemauan karas dan bercita-cita tinggi. Ia juga digelari oleh rakyatnya I Gusti Agung Maruti, karena tulang ekornya menonjol keluar kira-kira sejengkal panjangnya.
Sebuah kitab yang berjudul Babad-Blahbatuh menerangkan adanya seorang raja bertahta di pulau Nusa Penida yang bergelar Dalem Bungkut. Mungkin karena saktinya, lalu beliau mengingkari kekuasaan baginda raja di Gelgel, serta mengadakan pemberontakan disitu. Maka dititahkanlah Kyai Jelantik Bungahya beserta dengan 200 orang tentara untuk menindas pemberontakan itu. Didalam perjalanan itu turut pula gusti Ayu Kaler yakni istri Kyai Jelantik Bungahnya untuk membawa keris pusakanya yang bernama Ki Pencok Sabang. Rombongan tentara Bali yang berkekuatan 200 orang itu, mendarat pada suatu tempat bernama Jungut Batu. Ternyata disitu sudah banyak rakyat yang menunggunya dibawah pimpinan seorang Kepala dasarnya yang bernama Ki Bendesa. Mereka menyatakan masih setia mengabdi di bawah kakuasaan baginda raja di Gelgel, serta mengadakan pemberontakan disitu. Maka dititahkanlah Kyai Jelantik Bungahnya beserta dengan 200 orang tentara untuk menindas pemberontakan itu. Di dalam perjalanan itu turut pula Gusti Ayu Kaler, yakni istri Kyai Jelantik Bungahya untuk membawa keris pusakanya yang bernama Ki Badesa. Mereka menyatakan masih setia mengabdi dibawah kekausaan baginda raja di Gelgel. Dengan demikian bertambah yakinlah pasukan dari Bali itu, bahwa Dalem Bungkut tersebut kurang pengaruhnya, bahwa ia dibenci oleh rakyatnya sendiri. Di dalam pertempuran itu Kyai Jelantik Bungahya dapat berhadap-hadapan dengan Dalem Bungkut. Dengan mudah Dalem bungkut dapat ditewaskan, dan sekalian pengikutnya lalu menyerah. Setelah selesai pertempuran itu, keamanan dan ketenteraman segera pulih kembali, serta sekalian penduduknya bernaung kembali dibawah kekuasaan pemerintahan di Bali.[1]
Kemenangan Kyai Jelantik bungahya di pulau Nusa Penida mendapat penghargaan besar dari pemerintah kerajaan di Gelgel. Baginda raja Sri Di Madhe bertambah yakin, bahwa kekompakan para pemimpin-pemimpin rakyat yang mendukung kekuasannya, beliau akan dapat menyelamatkan rakyatnya dari kehancuran. Maka didalam tahun 1624 terjadilah suatu perjanjian persahabatan antara pemerintah kerajaan di Gelgel dengan sultan Makasar yang bergelar Alauddin. Kiranya perjanjian tersebut dimaksudkan antara lain untuk membendung kekuatan-kekuatan pedagang bangsa Belanda yang sering mengacau di daerahnya masing-masing.
Setelah baginda Sri Di Madhe berkuasa lebih kurang 12 tahun lamanya, terdapatlah suatu kemajuan yang pesat dirasakan oleh segenap penduduk di Bali. Pemerintahan Baginda yang adil dan bijaksana, selalu membangkitkan kesetiaan rakyat untuk mengabdi. Maka pada suatu ketika, baginda mengadakan pertemuan besar di kota Gelgel. Segenap pemuka-pemuka rakyat di Bali dan pemimpin-pemimpin pemerintahan ikut hadir di dalam pertemuan itu. Pokok persoalan yang dibicarakan ialah tentang kekuasaan baginda di Jawa Timur yang telah dirampas oleh kerajaan Mataram. Diutuskanlah di dalam pembicaraan itu, bahwa kekuasaan baginda di Jawa Timur harus direbut kembali, demi kebesaran dan keagungan keraton Gelgel. Untuk melakukan penyerangan itu, baginda Sri Di Madhe telah menunjuk Kyai Tabanan dan Kyai pacung untuk memimpinnya. Dan hari keberangkatannya telah ditetapkan suatu hari yang baik, yakni pada “Ring Sasih Kecatur Dina Redite Pon Kurantil tanggal ping pitu”. Demikianlah antara lain telah diputuskan didalam pertemuan besar yang diadakan di kota Gelgel itu, seperti termuat didalam sebuah kitab yang berjudul Kidung Pamencangah”.
Sehubungan dengan keternagan diatas, lebih lanjut sebuah kitab yang berjudul “Babad-Tabanan” menyebutkan, bahwa Kyai Tabanan bersama-sama Kyai Pacdung memimpin penyerbuan ke Blangbangan. Dalam penyerbuan itu Kyai Tabanan dan Kyai Pacung mendaratkan pasukan yang berkekuatan 20000 orang banyaknya. Pasukan kerajaan Mataram yang menduduki daerah tersebut dapat dihancur leburkan, berkat keberanian dan kecakapan Kyai Tabanan dan Kyai Pacung memimpin peperangan. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1633, seperti termuat didalam pemberitaan VOC. Dan sejak itulah daerah Blangbangan kembali lagi di bawah kekuasaan pemerintahan di Gelgel. Kegembiraan atas kemenangan Kyai Tabanan dan Kyai pacung di Jawa timur tidak berkesan lama, karena pada tahun itu juga kekuasaan baginda di pulau sumbawa digempur oleh pasukan Sultan Makassar. Kerajaan Bima yang sejak dahulu bernaung dibawah kekuasaan kerajaan Gelgel telah dirapas oleh Sultan Makassar. Dengan demikian hubungan baik antara kerajaan Bali dan Makassar yang telah diikat dengan suatu perjanjian di dalam tahun 1624 menjadi berantakan kembali. Denan demikian kedudukan baginda Sri Di Madha didalam mengeudikan pemerintahan di Bali terasa makin sulit. Kerajaan Mataram yang terletak disebelah Barat keadaannya makin lama bertambah kuat, sedangkan sultan Makassar sudah mulai memperluas daerah kekuasaan di daerah Blangbangan antara kerajaan Mataram sering terjadi, sehingga merupakan suatu persoalan yang sulit untuk diatasi. Sedangkan kekuasaan baginda dibagian Timur sudah tampak mulai goyah, dengan adanya kekuasaan Sultan Makassar di pulau sumbawa.
Kegawatan suasana yang demikian itu, selalu mengancam kekuasaan baginda bertahta di Bali. Akan tetapi dengan tiba-tiba terjadilah huru-hara di kota Gelgel. Kyai Agung Di Madhe yang menjadi Patih Agung dikerajaan itu mencoba mengadakan perebutan kekuasaan di dalam saat-saat yag sulit. Di dalam sebuah kitab yang berjudul Pemancangan Pasek, lebihjauh menceritakan, bahwa rencana Kyai Agung Di Madhe itu didukung oleh Kyai Kaler yang menjadi Demung di dalam pemerintahan itu. Sedangkan para keluarganya yang bertempat tinggal di daerah Bali timur, yakni masing-masing bernama :
Gusti lanang Djungutan
Gusti panaraga, dan
Gusti Nengah Sibetan,
telah berkesanggupan untuk melaksanakannya.
Demikianlah pada hari Kamis Wage Wuku Tolu didalam Sasih Kasa, baginda Sri Di Madhe dicegat dan ditangkap ditengah perjalanan ketika baginda hendak bersembahyang ke Besakih. Pengawal baginda tiada sanggup mengadakan perlawanan karena pasukan yang mencegatnya berjumlah amat besar. Baginda lalu ditahan disebuah tempat bernama desa Galiran atas titah Kyai Agung Di Madhe.
Sementara itu kentongan diistana Gelgel telah dibunyikan, dan kemudian disambung oleh ketongan ditiap-tiap kampung. Kegaduhan suara kentongan dibarengi dengen keluarnya rakyat yang memanggul senjata sehingga jalan-jalan di kota Gelgel menjadi penuh sesak. Para pemimpin-pemimpin rakyat masih menyatakan setia membela rajanya. Mereka itu ialah :
Kyai Tegeh Kori Kyai Cangahan Ewer,
Kyai Buringkit, Kyai Basangkasa,
Kyai Kaba-kaba Kyai Ubud,
Kyai Kapal, Kyai Tegallinggah,
Kyai Pinatih, Kyai Teges,
Kyai Sidemen, Kyai Tambesi,
Kyai Mambal, Kyai Kawan,
Kyai Sukahet, Kiyai Undisan,
Kyai pacung, Kyai Batan,
Kyai Cacaha, Kyai Bondalem,
Kyai Abiansemal, Kyai Lambing dan
Kyai Pering, Kyai Purnadesa.
Dari golongan kaum Ksatrya yang menyokong pernyataan setiap para Arya itu ialah :
Dewa Kaleran, Dewa Pasawahan,
Dewa Karang, Dewa Kulit
Dewa Cahu, Dewa Bedahulu,
Dewa Belayu Dewa Kabetan
Dewa Sumerta, Dewa Kandel,
Dewa Sidan, Dewa Waringin
Dewa Lebah, Dewa Teges dan
Dewa Pameregan, Dewa Abasan.
Sedangkan dari kaum Brahmana tesebut namanya :
Ida Buddha, Ida Siku,
Ida Antugan, Ida Tembahu,
Ida Peling, Ioda Intaran dan
Ida Kacang Dawa, Ida Banjar Carik.
Ida Manuhaba,
Melihat kekuatan yang berdiri di belakang baginda Sri Di Madhe demikian besarnya, maka timbullah kekhawatiran Kyai Agung Di Madhe mengenangkan perbuatannya itu. Segeralah ia menghadap baginda di dewa Galiran, serta mohon ampun atas kekeliruan perbuatannya itu. Kemudian ia bersumpah untuk tetap setia mengabdikan dirinya demi kebesaran kerajaan baginda di Gelgel. Mendengar permohonan Kyai Agung Di Made yang diperkuat dengan sumpahnya tu, bagindapun berkenan memberikan ampun atas kekeliruan langkahnya itu. Baginda memaklumi bahwa Patih Agunya itu masih berusia muda, sehingga cepat terpengaruh oleh gesekan-gesekan orang lain. Disamping itu juga, kegawatan suasana yang sering terjadi di sekitar kerajaannya, memaksa baginda untuk menghindari pertumpahan darah yang akan terjadi.
Demikianlah kebijaksanaan yang telah diambil oleh baginda ‘Sri Di Madhe didalam rencana perebutan kekuasaan itu, sehingga keamanan di kota Gelgel dengan segera dapat dipulihkan. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1638, menurut keterangan seorang Belanda yang bernama HEURNIUS yang kebetulan pada waktu itu berkunjung ke kota Gelgel.
Setelah gagalnya rencana pemberontakan itu persatuan di kalangan pemimpin-pemimpin rakyat telah baik kembali. Suasana ibu kota menjadi aman dan tenteram. Walaupun demikian, baginda memandang perlu untuk mendekati V.O.C., karena kekeruhan yang pernah terjadi di kota Gelgel mungkin akan dipergunakanoleh kerajaan mataram maupun kerjaan Makasar untuk melakukan serangannya. Maka pada suatu hari didalam tahun 1639 dikirimlah utusan kepada VOC untuk membicarakan kembali suatu perjanjian persahabatan, seperti yang pernah disarankannya 6 tahun yang lalu. Akan tetapi perjalanan utusan terebut ternyata sia-sia, karena dari pihak VOC masih mempertimbangkan permintaan baginda raja itu.
Kelamahan yang sedang menimpa kerajaan Gelgel ternyata dipergunakan oleh kerajaan Makassar untuk merongrong kekuasaannya. Didalam catatan VOC disebutkan bahwa pada tanggal 30 Oktober 1640 angkatan perang Makassar yang besar jumlahnya menggempur pulau Lombok. Orang-orang Sasak yang diserang itu mengadakan perlawanan dengan sengitnya. Terjadilah pertempuran yang hebat disitu, masing-masing pasukan mempertahankan kekuatannya. Tentara Sasak yang ggah berani itu, akhirnya dapat mengusir pasukan Sultan makassar dari pulau Lombok, dibawah pimpinan seorang rajanya yag bernama Kebo Mundar. Setelah angkatan perang sultan Makassar dari pulau Lombok, di bawah pimpinan seorang rajanya yang bernama Kebo Mundar. Setelah angkatan perang sultan Makassar menderita kekalahan di pulau Lombok, maka Kebo Mundar lalu menyatakan tidak mengakui lagi kekuasaan baginda raja di Gelgel. Mungkin kemenangan yang telah dicapainya melawan Sultan Makassar itu membangkitkan kepercayaananya untuk membebaskan pulau lombok dari kekuasaan pemeritnahan di Bali.
Peryataan Kebo Mundar yang demikian itu dianggap oleh pemerintah kerajaan di Gelgel sebagai suatu pemberontakan, maka baginda Sri Di Madhe menitahkan Kyai Tabaan untuk menumpasnya. Selanjutnya didalam kitab yang bernama “Babad Tabanan” menjelaskan, bahwa didalam penyerangan itu Kyai Tabanan mendaratkan pasukan yang berkekuatan ± 100.000 0rang. Pasukan Bali yang demikian besar jumlahnya itu melakukan penyerangan dengan hebatnya, terhadap kekuasaan Kebo Mundar. Setelahrajanya gugur didalam pertempuran, maka orang-orang Sasak takluk lagi dibawah kekuasaan baginda raja di Gelgel. Kemenangan Kyai Tabanan di pulau Lombok itu mendapat penghargaan dan pujian dari baginda Sri Di Madhe. Dua buahkitab syair yang berjudul “Susumbung parwasari”, dan “Tabanan Sari” seperti yang termuat di dala kitab Kidung Pemencangah, adalah suatu pujian tehradap kegagahan dan keberanian Kyai Tabanan.
Sesudah Sri Baginda berhasil megnadakan penumpasan di Pulau Lombok di dalam tahun 1640, maka kekuasaan baginda di Jawa timur dirampas lagi oleh angkatan perang dari kerajaan Mataram. Hal itu disebutkan didalam sebuah kitab yang bernama “Babad Tabanan”. Kitab itu antara lain menceritakan bahwa untuk membebaska nkekuasaan baginda di Jawa timur dikirimlah angakatan perang dari Baliyang dipimpinoleh 2 oerang anak Kyai Tabanan. Kedua anak gtersebut masing-masing bernama :
Gusti Wayan Pamadekan alias Gusti Raka dan
Gusti Made Pamadekan alias Gusti Rai.
Mereka dibantu oleh Kyai Pacung yang sudah banyak berpengalaman di medan pertempuran. Di dalam pertempuran itu ternyata angkatan perang Mataram jauh lebih kuat, sehingga pasukan ali menderita kekalahan. Gusti Wayan Pamadekan dapat digtawan disana, sedangkan adiknya yang bernama Gusgti Made Pamadekan dapat meloloskan dirinya bersama-sama Kiyai pacung. Mereka tiba dengan selamat di Bali beserta dengan beberapa anak buahnya. Peristiwa itu terjadi didalam tahun 1641, seperti termuat didalam pemberitaan VOC. Yang berkedudukan di Jepara (Jawa Tengah). Kekalahan angkatan perang dari kerajaan Gelgel di Blangbangan itu, menunjukkan suatu kemunduran yang sedang dialami oleh suatu kerajaanyang pernah jaya. Kesempatan yang baik itu dipergunakan oleh kerajaan Sumbawa untuk menggempur pulau Lobok. Penyerbuan secara besar-besaran dari kerajaan Sumbawa itu, dibantu pula oleh angkatan perang dari kerajaan Makassar, sehingga angkatan perang Bali yang menguasai Lombok Tiur terpaksa mengundurkan diri sampai ke Lombok Barat. Disitulah mereka berkumpul sambil mempertahankan kekuasannya. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 14 Oktober 1641, seperti tersebut didalam catatan harian VOC.
Kekalahan yang berturut-turut dialami oleh angkatan perang Bali itu, memaksa baginda Sri Di Madhe untuk mengirimkan utusan lagi kepada pembesar VOC yang berkedudukandi Batawi.[2]
Kedatangan utusan dari Bali itu di Batawi disambut baik oleh pembesar VOC., dan sejak itu terciptalah suatu perjanjian saling bantu membantu dibidang pertahanan antara kerajaan Gelgel dengan VOC. Setelah utusan itu tiba di Gelgel pada bulan Pebruari 1648, segera melaporkan hasil perjalanannya itu. Baginda Sri Di Madhe amat gembira menerima hasil perutusan itu, karena perjanjian yang telah diadakannya dengan VOC itu, sedikit banyak akan mempengaruhi ketenteraman pemerintah di Bali. Demikialah besar harapan baginda Sri Dio madhe dengan adanya sebuah perjanjian saling bantu membantu dibidang pertahanan dengan pembesar – pembesar VOC. Memang sejak perjanjian itu diadakan, selama beberapa tahun keraton Gelgel tetap aman dan tenteram, tiada suatu ganggua lagi yang datang, baik dari kerajaan Mataram maupun dari kerajaan makassar, Akan tetapi suatu kesalahan baginda didalam mengambil kebijaksanaan didalam negeri, mengakibatkan hancurnya kerajaan baginda dari dalam.
Tersebutlah didalam kitab “Kidung pamancangah” bahwa semasa baginda Sri Di Madhe berkuasa, terdapat seorang pertapa bernama : Dukuh suladri. Ia bertapa ditebing sungai Melangit dan mempnyai 2 oerng anak perempuan yang cantik parasnya. Seorang diantaranya kawin dengan seorang pemuda, yang sejak kecilnya dapat dipungut ditepi sungai Melangit dan terus dipelihara oleh Dukuh Suladri didalam pertapaannya. Sedangkan anaknya yang seorang lagi kawin denan baginda Sri Di Madhe diistana Gelgel. Kemudian baginda Sri di Madhe menghadiahkan rakyat sebanyak 700 orang kepada iparnya yang tetap tinggal dipertapaan itu. Rakyat yang sebayak 700 orang inilah menjadi penduduk sebuah desa yang bernama Tamanbali. Ternyata dari kedua perkawinan anak Dukuh Suladri itu mempunyai keturunan. Istri baginda raja Srio di Madhe melahirkan seorang putri, sedangkan iparnya yang tinggal di desa Taman Bali melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan parasnya. Setelah putri baginda dewasa, lalu ditimpa penyakit salah ingatnyang sukar disembuhkan. Terpaksalah baginda mengirim putrinya itu ke desa Tamanbali untuk berobat pada Dukuh suladri. Berkat ketinggian ilmuya, maka raja putripun tiada berselang lama telah sembuh kembali. Akan tetapi tiap-tiap pulang keistana, penyakitnya kumat sebagai semula. Karenanya terpaksalah baginda merelakan putrinya untuk tetap tinggal dipertapaan Tamanbali demi keselamatan jiwanya. Akhirnya kawinlah putri baginda itu dengan anak iparnya yang tetap tinggal dipertapaan. Setelah perkawinan itu dilangsungkan, baginda berkenan mengangkat derajat menantunya itu denan sebutan Pungakan, yang sederajat tingkatannya dengan golongankaum Ksatrya. Menantunya itu dengan sebutan Pungakan, yang sederjat tingkatannya dengan golongan kaum Ksatrya. Menantunya itu kemudian tinggal disebelah Utara istana di Gelgel, maka ia biasa disebut oleh penduduk disitu Pungakan Kanca Den Bancingah, sebagai panggilan kehormatan bagi menantu seorang raja yang telah mendapat kedudukan kanca.
Didalam sebuah kitab yang berjudul “Pamencangah pasek” dapat membenarkan uraian kitab kidung Pemenedangaha seperti disebutkan diatas. Bahkan dapat ditambahkan pula, bahwa Dukuh suladri itu adalah berasal dari warga – pasek, yang ketika kecilnya disebut Pasek Sadri. Sedangkan saudaranya yang lain masing-masing bernama :
Pasek padang Subadra menjadi abdi pura di silayikti, Pasek Sadra menjadi Kepala Desa di Kusamba dan pasek Subrata menjadi Kepala Desa di Tulaben. Pasek Sadri setelah menjadi seorang pertapa lalu dipanggil Dukuh suladri, selaku panggilan kehoratan atas ketinggian ilmunya. Kedua anak gadisnya itu masing-masing bernama Ni Wayan Nilawati dan Ni Made Wati. Ni Made Wati inilah menajdi istri baginda raja Sri dDi Madhe dikeraton Gelgel, yang kemudian melahirkan seorang putri bernama Dewa Ayu Mas. Akan tetapi didalam sebuah kitab yang berjudul “Babad Ksatrya Taman bali”, menerangkan agak berlainan berkenaan dengan hal itu. Kitab tersebut menerangkan antara lain bahwa Dukuh Suladri itu adalah anak seorang Dewa yang bernama Sri haji Jaya Rembat. Dewa yang mulia itu berkahyangan pada sebuah pura yakni pura Kantel Gumi yang kini terletak di desa Tusan (Klungkung). Sedangkan seorang anak laki-laki yang dipungutnya itu adalah anak dari Dewa Wisnu yang kawin degan Dewi Enjung Asti. Dewa Wisnulah menaruh anaknya itu ditepi sungai melangit pada sebuah sumber mata air yang harum baunya bernama Tirtha Harum. Pada waktu kecilnya anak itu bernama Sang Anom, dan setelah dewasa berganti nama dengan Angga Tirtha. Pemuda dari keturunan Desa Wisnu itulah keudian kawin dengan putri baginda raja di Gelgel yang bergelar Dalem Sekar Angsana.
Demikianlah antara lain disebutkan didalam kitab Babad kasyra Taman bali, yang juga menyinggung adanya seorang raja yang bergelar Dalem Sekar Angsana yang pernah bertahta di kerajaan Gelgel. Keterangan kitab gterebut sangat menyimpang dengan keterangan kitab Babad Dalem maupun kitab kidung pamecangah, yang menjadi sumber sejarah mengenai adanya raja-raja di keraton Gelgel.
Kembali diceritakan Pungakan Kanca dan Bancingah yang menjadi menantu baginda raja Sri Di Madhe itu. Keudian baginda berkenan menangkat menantunya untuk menjadi Punggawa pada sebuah desa bernama Nyalian. Keangkatannya itu disertai dengan hadiah, yakni sebuah keris pusaka yang bernama Ki Lobar.
Kebijaksanaan baginda Sri Di Madhe didalam menghadiahkan keris pusaka kerajaan terseb ut dipandang oleh para pemimpin-peimpin rakyat di kota Gelgel, sebagai suatu tindakan yang paling amat istimewa yang belum pernah terjadi. Hal itu menimbulkan kekesalan dan sakit hati meraka. Semenjak itu para pemimpin-pemimpin rakyat meninggalkan kota Gelgel berangsur-angsur mereka megnalih kedaerah kekuasannya masing-masing dengan alasan agar lebih erat bergaul denan rakyatnya. Semenjak itu terasalah ibu kota tiada bercahaya lagi. Para pembesar-pembesar kerajaan tiada setia lagi terahadap baginda raja Sri Di Madhe. Kyai Agung Di Madhe sebagai Patih Agung dikerajaan Gelgel, amat sedih melihat kehancuran pemerintahan yang demikian itu. Para pemimpin-pemimpin rakyat yang mendukung tegaknya kerajaan sudah meninggalkan ibu kota untuk kembali ke tengah-tengah rakyatnya yang dicintainya. Sedang beberapa pembesar-pembesar kerajaan yang masih tinggal di ibukota sudah tidak menghiraukan tugasnya lagi. Metreka semua membenci kebijaksanaan baginda raja Sri Di Madhe yang telah menghadiahkan keris pusaka Kraton kepada Pungakan Kanca Den Bancingah. Tiada seorangpun yang mampu mengatasi sikap pemimpin-pemimpin rakyat dan para pembesar kerajaan yang demikian itu.
Di dalam suasana yang demikianlah tiambul niatan Kyai Agung Di Madhe untuk menumbangkan kekuasaan baginda Sri Di Madhe dari tahta kerajaannya. Maka mulailah ia dengan giat mempenaruhi pembesar-pembesar istana beserta dengan penduduk ibu kota agar menyokong gerakannya. Dalam waktu yang singkat Kyai Agung Di Madhe telah banyak mempunyai pengikut, bahkan hampir kebanyakan pembesar-pembesar istana dan rakyat ibu kota menyatakan sokongannya. Maka pada suatu hari pecahlah pemberontakan di kota gelgel dibawah pimpinan patih Agung Kyai Agung di Madhe. Istana segera dikurung rapat, tiap-tiap pintu dijaga denankuat, sehingga baginda raja Sri Di Madhe tiada sempat mengadakan perlawanan. Tiap-tiap orang yang disangka masih setia terhadap baginda lalu ditangkap dan dipenjarakan di dala istana. Entah beberapa hari lamanya baginda raja Sri Di Madhe terkurung didalam istananya, maka pada suatu ketika baginda dapat meloloskan diri meninggalkan istananya. Diiringkan oleh segenap keluarganya beserta degnan ± 300 orang rakyatnya yang masih setia. Harta benda kerajaan yang tiada ternilai harganya ikut pula dibawanya. Beliau meninggalkan kota Gelgel dan terus mengungsi kedaerah pegunungan. Akhirnya sampailah pada suatu tempat yang bernama Desa Culiang, disitulah baginda menetap bersama dengan sekalian pengiringnya.
Rupanya Kyai Agung di Madhe sengaja membiarkan baginda Sri Di Madhe meninggalkan istananya dengan aman. Sebab denan tindakannya yang demikian itu akan dapat dibenarkan oleh pemimpin-pemimpin rakyat di Bali, sehingga kemudian mereka menyokong kekuasannya sebagai raja.
Peristiwa yang meyedihkan itu terjadi di dalam tahun 1651. Demikianlah keternaga seorang bangsa Belanda yang bernama Jacob Bacherah, yang kebetulan pada waktu itu berada di kota Gelgel. Ia dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang terjadinya peristiwa yang menyedihkan itu.
Demikianlah sejarah kerajaan Gelgel dibawah kekuasaan Dinasti Kresna Kapakisan yang memerintah di Bali ± 2 ½ abad menguasai suatu darah yang luas, yakni dari Jawa Timur sampai kepulau Sumbawa. Namun akhirnya didalam tahun 1651 kerajaan tersebut mencapai keruntuhannya.[3] Semenjak itukekuasaan di Bali tiada membulat lagi dibawah satu pimpinan, karena kekuasaan Kyai Agung Di Madhe tidak mendapat dukungan yang kompak dari segenap pemimpin-pemimpin rakyat di Bali. Bahkan dua kekuatan besar yang ketika itu sudah mencul di Bali, akan menghancurkan kekuasaan Kyai Agung di Made kelak seperti diuraikan pada pasal yang berikut ini. Walaupun demikiania selaku patih Agung yang bercita-cita tinggi, telah menunjukkan kemauannya yang keras dan keberaniannya yang luar biasa. Rupanya Kyai Agung Di Made telah cukup mendalami tentang lintasan sejarah pulau Bali dimana pada jaman purba kala pulau tersebut telah dibina oleh leluhurnya sendiri, yakni pada jaman pemerintahannya dinasti Warmadewa. Dinasti tersebut yang mula-mula dikembangkan oleh Sri Kesari Warmadewa di dalam penghabisan abad ke IX, telah banya jasanya terhadap kemuliaan dan keagungan pulau Bali. Berdasarkan dengan pengertiannya itu, maka sudah sewajarnyalah kalau Kyai Agung di Madhe merasa cemas dan khawatir melihat perkembangan di Bali pada waktu itu, yakni pada saat-saat berakhirnya Sri Di Madhe berkuasa di Gelgel. Wibawa pemerintahan telah sangat merosot dimata masyarakat, lebih-lebih setelah para Ksatryang Kediri pulang kembali ke daerahnya masing-masing. Tindakan Sri Di Madhe terhadap menantunya itu dipandang sangat bertentangan dengan hukum adat, serta mencemarkan kemuliaan martabat istana. ‘Beliaj telah mengangkat menantunya menjadi seorang Ksatrya dengan sebutan pangakan, yang sebelumnya orang-orang belum mengetahui tentang asal-usulnya. Disamping itu ia telah diberi pula kedudukan sebagai seorang Kanca, yang kemudian lalu dipindahkan menjadi Punggawa di desa Nyalian. Yang lebih menyebablkan perasaan para Mentri dan Bahudanda di kota Gelgel, ialah ketika Sri Di Madhe menghadiahkan keris pusaka Ki Lober kepada menantunya itu. Inilah latar belakang pengambil alihan Kyai Aguing di Madhe didalam pemerintahan dikerajaan Gelgel di dalam tahun 1651.
[1] Sebagai kenang-kenangan atas penaklukan Dalam bungkut di pulau Nusa Penida, Kyai Jelantik Bungahya dapat merampas sebuah guci besar yang kini disimpan di puri Blahbatuh.
[2] Kini kota tesebut bernama Jakarta.
[3] Di pura Besakih terdpat sebuah meru bertingkat e, tempat memuja arwah bnaginda Sri Di Madhe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar