Senin, 25 Oktober 2010

ORANG-ORANG BALIAGA DAN BALI HINDU


1.      PENDUDUK ASLI PULAU BALI
              Di dalam sebuah kitab yang berjudul”MARKANDEYA PURANA” dan “agastya parwa” TEREBUTLAH SEORANG Yogi yang bernama : MARKANDEYA.
Beliau bertapa dibukit Damalung. Tempat ini terletak di pegunungan Dieng di Jawa Tengah. Di dalam pertapaan ini beliau sering diganggu oleh jin dan syaitan (wengker). Karenanya terpaksalah beliau pindah dari tempat itu. Beliau menuju arah ke timur dan sampailah di lereng Gunung Raung yang terletak di Jawa Timur. Disitulah beliau melanjutkan tapanya. Berkat keteguhan imannya maka akhirnya terdengarlah sabda gaib. Beliau diharuskan membuka hutan rimba raja kejurusan Timur, untuk perpindahan penduduk.
              Di kaki Gunung Raung itu terdapat beberapa buah desa. Penduduknya disebut Wong-Aga. Suku bangsa ini adalah keturunan dari percampuran darah antara orang-orang Jawa dengan orang-orang Hindu yang datang dari India. Mereka itulah digerakkan oleh MARKANDEYA. Puncak Gunung Agung yang remang-remang kelihatan dari situ, menambah kegembiraan mereka. Mereka yakin disekitar tempat itu terdapat tanah yang subur, penuh dengan sumber-sumber mata air.
              Pada suatu hari yang telah ditetapkan berangkatlah mereka dengan penuh perlengkapan dan perbekalan. Rombongan ini terdiri dari ± 8000 orang. Sampai di suatu tempat yang banyak mata airnya, MARKANDEYA lalu memerintahkan orang-orang Aga itu melakukan perabasan. Akan tetapi setelah beberapa bulan mereka bekerja, banyaklah rombongan itu meninggal dunia. Ada yang mati diterkam binatang buas, banyak pula yang ditimpa penyakit deman panas. Karenanya semangat mereka bekerja makin berkurang. MARKANDEYA yakin kalau pekerjaannya akan menemui kegagalan, maka diperintahkanlah agar orang-orang Aga itu menghentikan pekerjaannya. Sedangkan beliau sendiri segera kembali ke lereng Gunung Raung ketempat pertapaannya se4mula. Disitulah beliau bertapa kembali, akhirnya terdengarlah sabda gaib lagi yang memberi petunjuk kepadanya bagaimana caranya untuk melanjutkan usahanya itu.
              Keberangkatan MARKANDEYA untuk kedua kalinya ini, disertai oleh ± 4000 orang-orang Aga. Merekapun lengkap denan perbekalan dan peralatan. Sedangkan MARKANDEYA terus menuju kelereng Gunung Agung. Disitu beliau memendam 5 (lima) jenis logam yang disebut PANCA – DATU. Tempat itu diberinya nama BASUKI atau BESAKIH. Menurut kepercayaan bahwa kelima jenis logam tersebut dapat menolak segala bencana. Sesudah itu barulah beliau memerintahkan sekalian pengikutnya merabas hutan, dan ternyata usaha mereka kini berhasil. Tiap-tiap orang mendapat pembagian tanah yang cukup luas untuk sawah ladang dan pekarangan. Tempat ini bernama desa PUAKAN, terletak disebelah Utara desa Taro di Kecamatan Tegallalang Gianyar. Puakan berarti pembagian Desa itu mengingkatkan kita, bahwa disanalah MARKANDEYA pulang memutuskan pembagian tanah kepada orang-orang Aga. Setelah MARKANDEYA selesai membagi-bagikan tanah kepada sekalian pengikutnya lalu beliau berpidnah-pindah tempat untuk bertapa atau beryoga. Beliau selalu mendoakan agar sekalian pengikut-pengikutnya tetap mendapat kebahagiaan di tempatnya yang baru itu. Sebuah desa bernama Pajogan mengingatkan kita dimana MARKANDEYA pernah beryoga, dan tiada jauh dari tempat itu terdapatlah sebuah pura bernama Pecampuhan. Di situlah beliau memadukan ciptanya. Pecampuhan berarti perpaduan. Pura ini disebut Pula Gunung Lebah yang terletak disebelah Barat desa Ubud – Gianyar. Dari situ beliau menuju arah ke utara, sampai di suatu tempat dimana beliau bertapa pula yang kemudian diberinya nama Sarwada. Disitu kini terdapat sebuah pura besar, dan desa disekitarnya bernama Taro. Kedua nama itu memberikan pengertian bahwa segala keinginannya telah tercapai. Sarwada berarti serba ada dan Taro berarti keinginan. Dari Sarwada beliau berpindah tempat arah kebarat. Pada suatu tempat beliau membuat sebuah AMNDALA tempat memuja Dewa-dewa. Tempat itu bernama pura Murwa yang terletak di desa Pajaragan Gianyar. Murwa berarti tempat para dewa-desa.
              Keturunan dari orang-orang Aga itulah yang sekarang disebut WONG BALI AGA atau WONG BALI MULA, sebagai penduduk asli Pulau Bali. Mereka itu tinggal di desa; Sembiran, Cempaga, Sidhatapa, Padawa, Sobleg, Beratan, Tigawasa, Bakung, Sangsit, Tangawan, Timbrah, Kutapang, Sental-kawan, Lembongan (Nusa-Penida), Batur, Bantang, Dausa-Catur, Kintamani, Kedisan, Sukawana, Lampu, Kembangsari, Kutadalem, Bajung, Abang, Satra, Trunyan, Kayubihi, Kayag, Pangootan, Cekang, Abianbase, Sambaan Camengawon, Pengalu, Pasokan, Lot, Tebhuwana, Marga, Angkal Gadungan, Blahkiuh dan Plaga. Desa-desa tersebut kebanyakan terletak di daerah pegunungan, sehingga timbul pengertian bahwa Aga berarti gunung.
              Mengingat bahwa MARKANDEYA pulang kembali kelereng Gunung Raung, ketika usahanya yang pertama itu gagal, maka daerah yang dibukannya itu disebut Bali. Ada pula yang mengartikan kata Bali itu teguh atau mulia. Itu dapat dimengerti karena betapa teguhnya orang Bali mempertahankan kepercayaan leluhurnya yang dianggapnya mulia itu.

2.      PUTUSNYA PULAU BALI DENGAN PULAU JAWA
              Kisah perjalanan MARKANDEYA BERSAMA orang-orang Aga dari Jawa Timur ke Bali tiada menyebutkan suatu alat-alat pengangkutan untuk menyebrang. Hal itu mempertebal kepercayaan orang-orang bahwa Pulau Bali dengan pulau Jawa dijaman purba adalah menjadi satu daratan.
              Di dalam kitab “NEGARA-KERTAGAMA” karangan Prapanca terdapatlah suatu kalimat yang berbunyi “Samudra nanggung bhumi”. Kalimat ini ternyatalah suatu perhitungan tahun Saka yang mempergunakan perhitungan “Tjandra Sangkala”. Samudra berarti angka 4, nanggung berarti 2, dan bhumi berarti 1. Peristiwa itu terjadi di dalam tahun Saka 124, Samudra nanggung bhumi sama artinya dengan Segara Rupek, sebagai termuat di dalam kitab “Wewatekan”. Dengan demikian putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa terjadi dalam tahun Saka 124; Samudra nanggung bhumi sama artinya dengan Segara Rupek, sebagai termuat didalam kitab “Wewatekan”. Dengan demikian putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa terjadi dalam tahun Saka 124 (tahun 202 M). Kisah putusnya kedua pulau ini termuat didalam kitab, Usana – Bali; yang menguraikan antara lain : terebutlah seorang pendeta besar bersama Mpu Sidhimantra. Pendeta itu bertempat tinggal di Jawa Timur dan bersahabat karib dengan seekor ular besar yang bernama “Naga Basukih”. Naga itu diam pada sebuah goa besar di Besakih yang terletak dikaki Gunung Agung. Persahabatan Mpu Sidhiamantra dengan Naga – Basukih demikian eratnya sehingga tiap-tiap bulan purnama Mpu Sidhimantra pergi ke Besakih untuk membawakan makanan baginya. Makanannya itu terdiri dari madu, susu dan mentega. Pada suatu ketika Mpu Sidhimantra ditimpa suatu penyakit, maka untuk mengantarkan makanan tersebut beliau menyuruh anaknya yang bernama : Ida Manik Angkeran.
              Ketika hendak berangkat, Ida Manik Angkeran mengambil genta ayahnya. Mendengar suara genta itu maka keluarlah Naga – Basukih dari goanya. Melihat rupa Naga-Basukih yang angker ini, maka bersujudlah Ida Manik Angkeran dihadapannya. Beliau menceritakan akan kedatangannya itu serta menyerahkan makanan untuk Naga itu. Maka dengan senang hati Naga-Basukih menerima kiriman tersebut sambil mempersilahkan ular besar itu masuk kedalam goanya.
              Naga – Basukih lalu masuk kedalam goanya, sedang sebagian ekornya yang panjang itu masih berada di luar. Ida Manik Angkeran sangat kagum melihat keadaan ular itu. Tetapi ketika dilihatnya sebuah batu permata yang amat besar melekat pada ujung ekor Naga itu, timbullah keinginannya yang jahat. Karena terdorong oleh keinginannya itu, lalau ujung ekor ular itu dipenggalnya. Batu permata itu dibawanya lari, yang akan dijadikannya modal berjudi seumur hidup. Akan tetapi baru sampai pada sebuah hutan cemara Ida Manik Angkeran lalu mati terbakar. Disitulah Ida Manik Angkeran menemui ajalnya. Tempat itu sekarang bernama hutan “Cemara-Gosong”. Gosong artinya terbakar. Kematiannya itu disebabkan oleh kesaktian ular itu yang dapat menjilat jejak kaki Ida Manik Angkeran, ketika beliau lari membawa permata itu.
              Mpu Sidhimantra amat cemas hatinya, mengenangkan perjalanan anaknya yang tiada kembali itu. Tatkala beliau mengetahui bahwa gentanya telah hilang, yakinlah beliau kalau anaknya telah mendapat nasib yang buruk didalam perjalanan. Segeralah beliau datang mendapatkan sahabatnya di Besakih dan menceritakan soal anaknya yang tiada kembali itu. Mendengar uraian Mpu Sidhimantra itu, lalu Naga-Basukih menceritakan segala kelancangan tidnakan Ida Manik Angkeran, sampai beliau menemui ajalnya di hutan Cemara Gosong. Alangkah malunya Mpu Sidhimantra mendengar akan tabiat anaknya itu. Mungkin tabiat anaknya itu diliputi oleh kegemarannya bermain duji. Mpu Sidhimantra lalu mohon ampun atas kelancangan tabiat anaknya itu sambil bermohon kepada ular besar itu agar anaknya dihidupkan kembali. Jika permohonannya ini terkabulkan, maka beliau rela menyerahkan anaknya itu untuk mengabdikan dirinya di Besakih.
              Permohonan Mpu Sidhimantra itu diluluskan oleh Naga-Basukih, dan Ida Manik Angkareanpun hidup kembali sebagai sedia kala. Maka semenjak itu Ida Manik Angkeran menetap di Bali sebagai Abdi Pura (Pemangku) di Besakih turun temurun hingga kini. Untuk menajga agar jangan sampai Ida Manik Angkeran kembali ke Jawa, maka Mpu Sidhimantra lalu menggoreskan tongkatnya pada suatu tempat yang semping sewaktu beliau kembali pulang ke Jawa. Tempat itu lalu berubah menjadi laut yang diberinya nama “Segara-Ruipek”. Itulah yang kini bernma Selat Bali, yang menceraikan pulau Bali dengan Pulau Jawa.
              Walaupun keterangan kitab “Usana-Bali” sebagai tersebut diatas merupakan cerita dongeng, akan tetapi keturunan Ida Manik Angkeran yang bernama : “I Gusti Ngurah Sidemen” hingga kini masih tetap menjadi Pemangku di Besakih. Kecuali kitab “Usana-Bali, Negara-Kertagama dan Wewatekan” yang mengungkapkan terjadinya peristiwa tersebut diatas, para akhli sejarah bangsa Barat ada yang menafsirkan putusnya pulau Bali dengan pulau Jawa adalah : disebabkan karena meletusnya Gunung berapi yang terletak disitu. Penafsiran ini didasarkanpada bukti-bukti, bahwa disepanjang Selat-Bali terdapat sumber-sumber mata air panas yang disebut Banyu Wedang. Banyu berarti air dan Wedang berarti panas. Ada pula yang berpendapat, bahwa Selat Bali itu terjadi bersamaan dengan Selat-Sunda, laut jawa dan sebagainya, ketika Gunung-gunung yang dikutub utara dan selatan mencair. Kiranya pendapat yang mendasarkan pada teori yang terkahir inilah yang mengandung kebenaran.

3.      PAHAM HINDU BERKEMBANG DI BALI
              Seorang musyafir bangsa Yunani bernama Jambulos dapat berkunjung ke Bali ± pada tahun 50 M. Tujuh bulan lamanya ia menetap di Pulau Bali. Keindahan alam pulau Bali dan keramahtamahan penduduknya sangat berkesan dihatinya. Tambahan pula ia dapat mengahadap ke istana baginda raja. Peradaban dan susunan masyarakat sudah teratur bgaik. Penduduknya berbadan tegap dan sehat, menandakan kesuburan pulau Bali, sehingga rakyat tiada pernah kelaoparan karena kekurangan makanan. Penduduknya kebanyakan bercocok tanam, mengusahakan sawah ladang. Mereka tinggal berkampung-kampung. Beberapa buah kampung menjadi satu desa yang dikepalai oleh seorang kepala desa. Mereka menyembah Dewa-dewa yang disangkanya berkahyangan di sorga. Dewa yang mereka paling muliakan ialah dewa Bahma dan Wisnu. Dengan demikian paham Hindu pada waktu itu sudah berkembang di Bali.
              Kecuali dari keterangan Yambulos sebagai terebut diatas, juga pemakaian tarich Isaka dan huruf Dewanegari (ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya). Dapat membenarkan, bahwa paham Hindu telah berkembang di Bali. Di India tarich Isaka ini diresmikan oleh seorang raja bernama : Kaniskha sejak tahun 78 sesudah Masehi. Kerajaannya bernama : Kushana degnan ibu kotanya Purusha-pura yang sekarang disebut Pashawar. Baginda raja itu memuliakan agama Budha. Sedangkan huruf Dewanegari adalah diciptakan oleh Aji Saka, Aji Saka ialah seorang Hindu yang mendirikan sebuah kerajaan di Jawa setelah mengalahkan raja di Jawa yang bernama Dewata Cengkar. Baginda raja Dewata Cengkar katanya gemar memakan daging manusia, terutama daging anak-anaka. Ceritra ini adalah melambangkan, bahwa peradaban orang-orang Hindu yang datang ke Jawa lebih tinggi.
              Dalam pada itu didalam kitab-kitab perpustakaan di Bali yang disebut “Purana” diokisahkan pula antara lain sebagai berikut : ketika pulau Bali mengalami kegoncangan, Hyang pasupati (Hyang Mahadewsa) yang berkahyangan di puncak Gunung Mahameru, segera menitahkan kepada pekalian Dewa-deswa agar memindahkan sebagian Gunung Himalaya dari Yambudwipa (India) ke Bali; guna menyelamatkan pulau Bali dari kehancuran. Maka semenjak itulah terdapat 4 (empat) buah Gunung di Bali, yang terletak disekitar Gunung Agung. Gunug-gunung trsebut ialah :
1)      Gunung Lempuyang Kahyangan Bhatara Hyang Geni Jaya terletak disebelah Timur.
2)      Gunung Andakesa Kahyangan Bhatara Hyang Tugu terletak disebelah Selatan.
3)      Gunung Watu Karu kahyangan Bhatara Hyang Tumuwah terletak disebelah Barat, dan
4)      Gunung Beratan kahyangan Bhatara Hyang Dhanawa atau yang disebut juga Bhatara Manik Kumayang terletak disebelah utara.
              Perpidnahan keempat Gunung itu adalah lambang dari masuknya paham “Catuir Lokapala” dari India ke Bali. Catur berarti 4 dan lokapala berarti mata angin. Paham itu mengajarkan, bahwa pulau Bali telah dijaga kuat oleh keempat Dewa itu, sehingga pulau Bali selamat dari segala gangguan dan beencana, serta melindungi kemuliaan dan kesucian Gunung Agung. Memperhatikan nama dewa-dewa itu, ternyata masyarakat di Bali masih tetap memegang teguh kepercayaan leluhurnya. Sebab di India nama Dewa-dewa didalam paham Catur Lokapala itu ialah : Indra, Yama, Waruna, dan Kwera. Memang pahanm “Catur Lokapala itu mengesankan, bahwa paham Hindu mulai berkembang di Bali. Walaupun demikian masyarakat di Bali masih tetap memegang keasliannya. Ternyata dari keteguhan imannya tetap merupakan kebesaran mahadewa yang berkahyangan di Gunung Agung hingga sekarang.

4.      PERPADUAN AGAMA SIWA – BUDHA DI BALI
              Perpindahan keempat buah Gunung dari India ke Bali yang melambangkan masuknya paham “Catur Lokapala” itu terjadi dalam tahun 11 Isaka. Perhitungan tahun Isaka itu, dinyatakan dengan sebutan “Candra Sangkala” yang berbunyi “Rudira – Bhumi”. Rudira dan Bhumi masing-masing berarti angka 1, dengan demikian Rudira Bhumi berarti angka 11,. Diterangkan juga selanjutnya didalam kitab Purana itu bahwa Gunung Agung pernah meletus di dalam tahun 13 Isaka, dengan sebutan Candra Sangkala “Gni Bhudara”. Gni = 3 dan Bhudara = 1. Letusan Gunung Agung itu menimbulkan gempa bumi yang amat hebat disertai hujan lebat tiada henti-hentinya siang dan malam selama 2 (dua) bulan. Sesudah itu turunlah 2 orang Dewa dan seorang Dewi di Bali. Dewa-dewa dan Dewi itu ialah : Putra Jaya, Geni Jaya, dan Dewi Danuh.
              Diantara ketiga Dewa dan Dewi itu, Putra Jayalah paling dimuliakan, sebab itu disebut pula Mahadewa, berkahyangan di puncak. Gunung Agung sebagai Siwa. Sedangkan Geni Jaya berkahyangan di puncak Gunung Lempuyang sebagai Brahma, dan Dewi Danuh berkahyangan di Danau Batur. Dipuja sebagai Wisnu. Adanya ketiga Dewa dan Dewi itu ialah mengesankan, bahwa disamping paham Catur Lokapala, paham Tri Murti pun telah masuk ke Bali. Paham itu mengajarkan, bahwa Tri Murti terdiri dari tiga Dewa, yakni, Brahma sebagai Dewa Pencipta (Utpeti), Wisnu sebagai Pemelihara (Stiti) dan Siwa sebagai Dewa Pembinasa (Pralina). Pendapat umum di Bali, bahwa Siwa itu bukan saja sebagai Dewa Pembinasa, tetapi juga sebagai Guru besar yang pengasih dan penyayang. Dalam pada itu diberikan julukan Bhatara Guru. Juga Siwa telah menyelamatkan pulau Bali dari kehancuran, ketika dia memerintahkan Dewa-dewa memindahkan sebahagian Gunung Mahameru dari Yambudwipa ke Bali. Karenanya siwalah paling dimuliakan oleh penduduk di Bali.
              Di Besakih terdapat pemujaan bagi ketiga Dewa-dewa itu yakni : di pura Kiduling – Kreteg tempat memuja Brahma, di pura Gelap tempat memuja Siwa, dan di pura Batu Madeg tempat memuja Wisnu. Pura Penataran Agung terletak di tengah-tengah, karena dianggap paling terkemuka. Disitulah penduduk Bali mengadakan upacara persembahyangan tiap-tiap tahun sekali, yang dinamai “Bhatara – Turun – Kabeh”. Upacara ini jatuh pada Purnamaning ke Dasa yang disebut juga Wesaka. Perayaan besar diadakan tiap-tiap 5 (lima) tahun sekali yang disebut Pancja Balikrama, dan yang paling besar dilangsungkan tiap-tiap 100 (seratus) tahun sekali yang disebut upacara EKA DASA RUDRA. Perkataan Rudra ialah pengganti nama Siwa, tatkala berganti wujud sebagai Mahakala.
              Di atas telah diterangkan bahwa Siwa yang disebut juga Mahadewa berkahyangan di Gunung Agung. Karena Gunung Agung adalah Gunung yang tertinggi dipulau Bali, maka biasa juga disebut Giri. Telangkir. Giri berarti Gunung, To berarti orang dan langkir berarti menjulang tinggi. Perkataan “Langkir” didalam bahasa Sansekerta berarti Mahadesa. Sedangkan Mahadewa didalam ajaran Agama Buddha – Mahayana dianggap Lokanata atau Lokaswara, yang lebih terkenal lagi dengan sebuatan Awalokiteswara, yang berarti seorang Buddha yang tinggi kedudukannya.
              Baik penganut Agama Siwa, maupun penganut Agama Buddha di Bali, sama-sama memuja dan memuliakan kebesaran Gunung Agung, karena Mahadewa yang berkahyangan disitu dianggapnya Siwa oleh penganut Agama Siwa, sedangkan penganut Agama buddha memandang Mahadewa itu ialah Buddha. Pemimpin mereka masing-masing disebut “Pedanda”. Perpaduan kedua pemimpin Agama itulah disebut Pedanda “Siwa – Segata” (Dwijendra) yang berkewajiban memimpin upacara perayaan disitu.
              Memperhatikan tentang kesanggupan penduduk pulau Bali telah dapat mempersatukan ajaran kedua Agama yang berlainan sifatnya itu, betul-betul patut diganggakan. Perpaduan kedua paham  Agama itulah menjadi dasar kerukunan tata hidup penduduk di Bali, baik didalam keagamaan maupun dibidang adat-istiadat yang akhirnya melahirkan tradisi gotong royong.

5.      BESAKIH
              Di dalam sebuah kitab kuno yang berjudul “Babad Gunung Agung” disebutkan, bahwa gunung Agung telah meletus untuk kedua kalinya pada tahun Isaka 70 (tahun 148 M). Ini jatuh pada hari Jumat Keliwon Wuku Telu, Sasih Kelima. Semanjak itulah dikawah Gunung itu terdapat sejenis benda yang disebut “Salodaka”. Salodaka itu dipandang mempunyai kekuatan gaib oleh penduduk di Bali, karenanya biasa dipergunakan didalam upakara keagamaan. Lebiyh lanjut diterangkan didalam Babad Gunung Agung itu, bahwa Gunung tersebut mel4tus lagi untuk ketiga kalinya pada tahun 111 Isaka. Perhitungan tahun itu disebutkan dengan Candra Sangkala 189 M. Perhitungan tahun itu disebutkan degan Candra Sangkala “Wak-sasi-sak”. Yang masing-masing kata itu berarti angka 1. Sejak itulah mulai diadakan perayaan besar di pura Besakih yang disebut  EKA DASA RUDRA BUAT KEPERTAMA KALINYA. Perayaan itu maksudnya untuk memuja kebesaran Mahadewa yang berkahyangan di puncak Gunung Agung. Sebelum perayaan itu dilangsungkan, terlebih dahulu dilakukan perayaan korban yang disebut “Pecaruan Agung atau Tawur Agung”. Perayaan ini maksudnya agar Siwa yang berwujud Mahakala atau Rudra itu, membatalkan maksudnya untuk membinasakan dunia. Pada waktu itu Siwa ditakuti, tetapi sesudah hilang murkanya, lalau dipuja-puja sebagai De2wata mulia. Pemujaan itu terletak, dimana MARKANDEYA dijaman dahulu memendam 5 (lima) jenid logam yang disebut Panca Datu.
              Dibawah Pura Penataran Agung terdapat sebuah pura yang disebut “Pura Basukihan” Sebutan itu mengingatkan kata kepada seekor ular raksasa yakni Naga Basukih. Naga Basukih itulah yang mengikat “Bhadawang-Nala” yang mendukung pulau Bali. Bhadawang-Nala itu ialah seekor binatang kura-kura yang amat besar (Empas), yang hidup didasar bumi. Apabila binatang itu bergerak duniapun akan goncang dan hancur karenanya. Itulah sebabnya maka Naga Basukih selalu siap membelitnya erat-erat, jangan sampai Bhadawang-Nala dapat bergerak. Demikianlah kepercayaan penduduk Bali, sehingga untuk Naga Basukih itu patut dibuatkan suatu pemujaan. Tempat pemujaan itulah yang disebut Pura Basukihan, yang terletak dibawah Pura Penataran Agung sebagai tersebut diatas.
              Disekitar tempat itu kini terdapat sebuah desa yang disebut desa Besakih. Desa itu dianggap suci oleh sekalian penduduk di Bali. Dua buah prasasti yang kinimasih tersimpan di pura Penataran Agung, menyebutkan tentang kesucian desa Besakih itu dengan ucapan : “Desa hulungdang ring Basuki” dan “Desa hila –hila ring Basuki”. Dari ucapan prasasti-prasasti tersebut diatas, dapatlah dinyatakan, bahwa segenap penduduk di Bali memandang desa Besakih itu tempat yang suci. Pandangan itu dapat dimengerti, karena disitulah letaknya pura-pura yang besar, tempat mereka melakukan ibadat sepanjang masa untuk memuja kebesaran dan kemuliaan Gunung Agung.
              Mengingat bahwa perayaan besar yang disebut “Bhatara Turun Kabeh” yang diadakan tiap-tiap tahun sekali di pura Penataran Agung itu jatuh pada Purnamaning ke Dasa atau Wesakha, dapatlah dipastikan, bahwa perayaan itu ditujukan untuk memuja kemuliaan “Budha”. Sebagaimana dimaklumi, segenap penganut amaga Buddha diseluruh dunia, merayakan kelahiran Buddha Gautama pada waktu itu. Buddha Gautama adalah pencipta dan penyebar agama Buddha. Beliau lahir, serta kemudian mencapai ilmu kesempurnaan, dan akhirnya wafat tepat pada hari purnamaning ke Dasa atau Wesakha. Itulah sebabnya Buddha Gautama disebut juga Tathagata, artinya Buddha yang sudah mendapatkan kesempurnaan dilapangan kerochanian.
              Dalam uraian yang lalu telah diterangkan bahwa agama Siwa dan Buddha dapat dipertemukan di Bali. Mereka sama-sama memuliakan kebesaran Gunung Agung dengan melakukan pemujaan di pura Bnesakih. Karenanya Besakih bukan saja tempat yang suci, tetapi juga tempat pemersatu bagi segenap penduduk yang beragama Siwa – Buddha di Bali.
             
6.      ORANG-ORANG HINDU DATANG KE BALI
              Kira-kira pada bulan Maret atau April tahun 250 M (Sasih Kesanga tahun 172 Isaka) datanglah serombongan orang-orang Hindu dari Jawa ke Bali. Rombongan itu terdiri dari orang-orang Bangsawan, prajurit, pemuka-pemuka agama, pendeta Siwa Buddha, akhli pertukangan dan kesenian serta rakyat biasa lainnya yang berjumlah ± 40) orang. Hal itu termuat didalam sebuah prasasti yang kini disimpan di pura Puseh desa Sading di Kabupaten Badung. Pemimpin-pemimpin agama itu terdiri dari : 1. Sri Bayu, 2. Sri Geni Jaya Sakti, 3. Sri Syambu, 4. Sri Brahma, 5. Sri indra dan Sri Wisnu. Sedangkan yang memimpin rombongan itu ialah Baginda Maharaja Jaya Sakti. Kedatangan mereka itu ke Bali, mula-mula menuju pada sebuah gunung yang disebut Adri Karang. Adri berarti Gunung dan Karang berarti batu karang. Tempat itu terletak di Bali bahagian Timur. Baginda Maharaja Jaya Sakti akhirnya bertolak kembali ke Jawa, dan pimpinan atas rombongan tesebut diserahkan kepada Sri Bayu yang kemudian bergelar Prabhu Maharaja Bima. Dibawah pimpinan Sri Bayulah para peimpin-pemimpin agama menyebarkan agama di Bali, serta para akhli-akhli lainnya mengajarkan kejakapannya masing-masing kepada orang-orang Bali-Aga. Sri Bayu membuat sebuah sastra atau pesangerahan di Banti4ran (Tabanan). Disitulah beliau mula-mula mengajarkan tentang Tata Susila yang disebut sila Krama. Ajaran itu melarang penduduk melakukan perkawinan terhadap saudara sapupu, terutama terhadap ibu bapak yang melahirkannya. Sri Geni Jaya Sakti mendirikan pertapaan di Gunung Lempuyang. Pertapaannya disebut “Karang-sama”. Asma berarti asrama. Perkataan tersebut lama kelamaan berubah bunyinya menjadi Karangasem.
              Demikian banyaknya para peimpin-pemimpin Agama menyebarkan Agama di Bali, sehingga sampai sekarang masih terdapat orang-orang Balia-Aga yang memeluk Agama Bayu, Agama Syambu, Agama Kala, Agama Brahma, Agama Wisnu dan Agama Indra. Agama Bayu mengajarkan agar penganutnya mnyembah Dewa Bintang dan Dewa Angin, serta para waktu meninggal mayatnya tidak dikuburkan. Mayat tersebut harus diletakkan ditebing-tebing sungai yang dianggapnya keramat. Agama itu hingga kini masih dianut oleh orang-orang desa Trunyan (Kintamani). Agama Syambhu mengajarkan, agar penganutnya menyembah Dewa-dewa yang bersemayam pada Patung-Patung atau arca-arca, serta pada waktu matinya mayat tersebut harus segera ditanam, setelah dimandikan denna air petpetan ketan. Agama Kala mengajarkan agar penganutnya menyembah segala yang dianggapnya angker. Upacara pada waktu mati mempergunakan daun bidara, serta mayat terebut harus dibuang kedalam jurang. Penanut Agama itu terdapat di desa Sembiran. Agama Brahma mengajarkan kepada penganutnya menyembah Dewa Agni. Pada waktu mati mayatnya dimandikan dengan air delima dan segera dibakar dikuburan. Agama Wisnu mengajarkan agar penganutnya menyembah Dewa hujan. Upacara pada waktu mati mempergunakan air bunga (yeh kumkuman) untuk memandikan mayatnya, dan segera dihanyut ke dalam sungai. Agama Indra mengajarkan kepada penganutnya menyembah Dewa Gunung dan Bulan. Pada waktua mati, mayatnya dimandikan dengan air beras, kemudian diletakkan di tebing-tebing sungai atau didalam goa-goa. Agama ini dianut oleh penduduk di Tenganan (Karangasem).
              Memperhatikan akankedatangan orang-orang Hindu itu tepat pada sasih Kesanga, maka perayaan Hari Raya Nyepi yang diadakan tiap-tiap tahun sekali di Bali, dapat juga dikirakan untuk menghormati hari kedatangan para leluhurnya di jaman bahari. Keturunan orang-orang Hindu itulah yang kini disebut orang-orang Bali Hindu, disamping orang-orang Bali-Aga yang telah lebih dahulu mendiami pulau Bali. Sesudah kedatangan orng-orang Hindu seperti tersebut pada sebuah prasasti yang disimpan di pura Puseh desa Sading (Badung), tiada terdengar lagi berita-berita mengenai pulau Bali selama ± 3 abad lamanya. Hal itu mungkin karena orang-orang yang datang itu dapat menyesuaikan dirinya pada orang-orang Bali-Aga, atau mungkin pula catatan-catatan yang dibuat pada jaman itu belum diketemukan hingga sekarang. Akan tetapi catatan-catatan resmi yang terdapat di Negeri Cina menunjukkan bahwa pada tahun 518 dan tahun 671 ada utusan dari baginda raja di Bali menghadap kepada raja Cina yang berkuasa pada waktu itu. Kemungkinan dari sejak jaman itulah uang kepeng bolong beredar di Bali, sesudah raja-raja di Bali mengadkaan hubungan dagang dengan kerajaan – kerajaan Cina.

7.      PENGARUH SIWA – BUDHA MELUAS DI BALI
              Di dalam kitab sejarah sunda yang bernama : “Hikayat parahyangan” menyebutkan antara lain, bahwa bekas sebuah kerajaan kecil di Jawa Tengah yang bernama : Kaling, lama-kelamaan menjelma menjadi sebuah kerajaan besar. Kerajaan tersebut lalu berubah namanya menjadi Mataram dengan ibu kotanya di Medang. Seorang rajanya yang amat mashyur bernama : Sanjaya, yang mampu memperluas kekuasaannya hingga meliputi seluruh kepulauan Nusantara bahagian timur. Baginda raja memuliakan Agama Siwa. Karenanya banyaklah candi-candi Siwa dibangun pada waktu itu, baik di pulau Jawa maupun di Pulau Bali. Kebesaran kerajaan Mataram di Bawah pimpinan Baginda raja Sanjaya, diabadikan pada sebuah piagam yang terletak di desa Canggal Di wilayah keresidenan Kedu di Jawa Tengah. Piagam tersebut ditulis pada sebuah batu besar, yang bertahun Isaka 654 atau tahun 732 Masehi. Setelah baginda mangkat, kerajaan Mataram yang luas itu dipimpin oleh salah seorang putranyayang bernama : Panjapana. Beliau mempergunakan gelar Rake panangkarana, serta memuliakan Agama Buddha Mahayana. Maka banyak pula candi-candi Buddha didirikan pada waktu itu, diantaranya candi Borobudur yang dibangun kira-kira pada tahun 775 Masehi.
              Perkembangan Agama Siwa-Budha yang terjadi di Jawa, sangat luas pengaruhnya di Bali. Kemungkinan pada waktu itulah banyak para ulama yang dissebut Rsi, Muni, Bhiksu dan sebagainya datang di Bali. Mereka mendirikan tempat-tempat pertapaan yang disebut Wihara atau Bihara, yang hingga kini masih banyak terdapat di daeah Gianyar, yakni : ditebing – tebing sungai : pakerisan, ialah :
1)      Gunung Kawi, terletak di sebelah Timur Desa Tapak Siring,
2)      Krobokan, terletak pada pertemuan batang air sungai Krobokan,
3)      Goa Garbha, terletak disebelah Timur desa patemon, dekat sebuah pura Pangukur-Ukuran.
Wos ialah :
1)      Goa raksasa, terletak dekat pura Gunung Lebah disebelah Barat desa Ubud, Gianyar.
2)      Jukut Paku, terletak diantara desa Negari dan Singakerta,
3)      Negari, terletak di desa negari.
Kungkang, ialah :
1)      Telaga Waja, terletak dekat desa Sapat.
              Lain dari pada Wihara-wihara atau Bihara-bihara seperti tersebut di atas, terdapat pula tempat pertapaan lagi, yakni :
1)      Goa Gajah, terletak disebelah Barat desa Bedulu Gianyar.
2)      Yeh Pulu, terletak disebelah selatan desa Bedulu.
3)      Gunung Kawi, terletak disebelah Selatan Desa Bbira Gianyar.
              Disamping wihara-wihara yang merupakan goa tempat para ulama bertapa, juga didekat desa Riang Gede terdapat sebuah patilasan merupakan sebuah candi. Patilasan itu disebut Goa Patinggi, yang tingginya lebih dari 20 m, dan bentuknya sama dengan candi Kalebutan yangt terdapat disebelah Barat Desa Pejeng.
              Menilik dari keterangan-keterangan yang tersebut didalam prasasti-prasasti, ternyatalah Bihara-bihara itu sebahagian tempat pertapa siwa dan yang lainnya adalah untuk pertapa buddha. Kedua golongan pemeluk Agama itu dapat hidup rukun berdampingan, satu antara lain saling hormat menghormati pahamnya masing-masing. Hal itu tidaklah mengherankan, karena mereka sama-sama menyebutkan bahwa hidup ini adalah samsara atau sangsara. Hal itu disebabkan karena kita dibelenggu oleh perbuatankita sendiri yang disebut “Karma”. Untuk melepaskan diri dari ikatan samsara yang berwujud “kelahiran dan kematian”, maka di dalam ajaran Agama diberikan petunjuk 4 jalan yang disebut “Marga”, keemapat marga terebut yakni : Karma-marga, Jnaayana Marga, Bakti nmarga dan Yoga marga. Sebab itlah para Bhiksu-bhiksu itu membuat bihara-bihara tempat mengarhkan pandangannya menuju cita-cita untuk mencapai “moksa, mukti atau nirwana”, di alam baka kelak.
              Menurut penyelidikan para akhli arkeologi, mereka berpendapat bahwa bihara-bihara itu didirikan didalam abad ke VIII. Pendapat mereka itu diperkuat lagi dengan terdapatnya beratus-ratus benda-benda kuna disebelah selatan desa Pejeng. Benda-benda tersebut terbuat dari tanah liat, bentuknya bulat kecil bergaris tengah ± 2½  cm. Tiap-tiap 2 buah dibalut pula dnegan tanah liat, bentuknya menyerupai stupa-stupa kecil. Sedangkan pada kedua belah permukaan  benda  itu terdapat tulisan-tulisan kuna yang berbunyi sebagai berikut :
              “Ye dharma hatu prabhawa.
              Hetun tesan tathagato hiyawadat.
              Tesanca yo hirodha.
              Ewam wadi mahacramunah.”
Menurut Dr. R. Goris, bahasa sansekerta tersebut di atas berarti :
              “Keadaan tentang sebab-sebab kejadian itu, sudah diterangkan oleh tathaguta (‘Buddha). Tuan Mahatapa itu telah menerangkan juga apa yang harus diperbuat orang supaya dapat menghilangkan sebab-sebab itu”.
Ternyatalah ucapan-ucapan itu ialah mantera-mantera ajaran Agama Buddha, yang dapat menolak marabahaya.[1]
Rupanya disana pada jaman purba menjadi tempat pemuasatan Agama buddha di Bali. Tulisan-tulisan yang bunyinya serupa itu, terdapat juga diatas pintu candi kalasan di Jawa Tengah, dan bertahun Isaka 700 (778 M). Dengan demikian dapatlah dipastikan bahwa di dalam abad VIII pengaruh siwa-Buddha meluas di Bali.


[1]    Benda-benda tersebut diketemukan di dalam tahun 1925, dan kini sebagian disimpan di Museum Kota Denpasar, dan sebagian lagi di pura Penataran Sasih di desa Pejeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar