Senin, 25 Oktober 2010

3. SRI SAGENING


Keadaan kota Gelgel dibawah pemerintahan Sri Sagening mengalami wajah baru. Ternyata baginda adalah seorang raja yang cakap adil dan bijaksana,
sehingga segala keterangan-keterangan diatantara pemimpin-pemimpin rakyat yang pernah terjadi, dapat teratasi. Baginda amat disegani dan dicintai oleh sekalian rakyat, berkat kepandaiannya memikat hati para pemimpin-pemimpin rakyat di kota gelgel. Banyaklah baginda mengambil istri dari anak-anak para bangsawan, karena dengan perkawinan itu kedudukan baginda sebagai raja makin kokoh. Dengan demikian Sri Sagening didalam pemerintahannya telah mampu menciptakan suatu suasana baru, yang mengembalikan kewibawaan kerajaan Gelgel terhadap rakyatnya.
              Sebuah kerajaan besar yang menjadi tetangga kerajaan Gelgel disebelah Barat yakni kerajaan Mataram, selalu ingin meluaskan daerah kekuasaannya. Kekalahan yang mereka alami pada tahun 1575 dan tahun 1587, ternyata tidak mengendurkan semangatnya didalam meluaskan daerah jajahannya. Mereka selalu memperkuat daerahnya, sambil menunggu suatu perkembangan yang menguntungkan untuk menaklukan lawannya. Demikianlah kelemahan yang dialami oleh kerajaan Gelgel semasa pemerintahan Sri Bekung berkuasa, adalah suatu kesempatan yang amat baik baginya. Maka pada tahun 1597 kekuasaan kerajaan Gelgel di Jawa Timur lalu diserbu oleh angkatan perang dari Mataram, yang digerakkan dari daerah pasuruhan. Dalam penyerbuan tereut tiada kurang dari 8000 orang pasukan yang dikerahkan, dibawah pimpinan Senapati Mataram. Penyerbuan laskar kerajaan Mataram yang demikian besar jumlahnya, menimbulkan huru hara hebat di Jawa Timur. Pemimpin pemerintahan disana yang bernama : Santa Guna segera mempermaklumkan hal itu kepada pemerintahan di Gelgel, karena mereka tiada sanggup menahan serangan dari kerajaan Mataram yang demikian hebatnya.[1]
              Maka segeralah baginda raja Sri Sagening menitahkan Kiyai Jelantik menyiapkan pasukan yang besar, untuk membebaskan rakyat Jawa tiur dari serangan tentara Mataram.
              Sementara itu di dalam sebuah itab perpustakaan kuna yang bernama “Babad-Blahbatuh” tersebutlah seorang pemuka rakyat bernama Kiyai pasimpangan. Ia pernah melakukan pelanggaran terhadap hukum adat, yakni denganjalan mencemarkan kehormatan anak gadisnya sendiri pada suatu malam. Karenanya terpaksalah ia menempuh kematiannya dengan jalan meneburkan diri ke dalam lautan api, setelah memotong kemaluannya yang dianggapnya membawa dosa itu. Walaupun demikian rohnya tiada luput juga dari kesalahan, sehingga roahnya itu menjelma menjadi seekor lintah besar yang selalu kelihatan di tepi sungai Unda.
              Pada suatu ketika kebetrulan ada orang sedang mengail di dekat tempat itu ia amat terkejut melihat binatang lintah yang amat besar, sera dapat berkata-kata sebagaimanusia. Pengail itu lalu dipesaninya, agar anaknya Kiyai Jelantik rela mati didalam pertempuran guna menebus dosa ayahnya yang besar itu.          Pada permulaan tahun 1597 telah siaplah tentara kerajaan Gelgela yang jumlahnya tiada  kurang dari 20.000 orang di bawah pimpinan seorang panglima perangnya yang bernama Kyai Jelasntik. Pasukan yang besar jumlahnya itu diberangkatkan dari pelabuhan Kuta dengan mempergunakan perahu-perahu layar. Baginda raja Sri Sagening ikut pula mengantarkan pemberangkatan pasukan yang akan mengadakan penyerbuan itu, diiringkan oleh Kyai Lor dan beberapa pemuka-pemuka rakyat lainnya. Kebetulan pada waktu itu terdapat 3 buah kapal dagang banga Belanda (V.O.C) yang berlabuh dipelabuhan Kuta. Kapal Belanda tersebut dipimpin oleh Nahkoda Cornelis de Houtman, yang ingin bekrunjung ke Bali untuk menghadap baginda raja di Gelgel. Akan tetapi maksudnya itu terpaksa diurungkannya, berhubung pemerintah di kerajaan Gelgel. Akan tetapi maksudnya itu terpaksa diurungkannya, berhubung pemerintah di kerajaan Gelgel sedang sibuk. Dan selirnya Cornelis da Houtman terpaksa meninggalkan pelabuhan Kuta pada tanggal 27 Pebruari 1597, setelah lebih kurang sebulan lamanya mereka berlabuh di situ.
              Tersebutlah pasukan Bali telah mendarat dipantai penarukan, setelah 3 hari lamanya mereka mengarungi lautan didalam perjalanan. Segera Kyai Jelantik memerintahkan membuat kubu-kubu perkemahan, sambil menantikan perbekalan yang datang dari Blangbangan. Setelah dua hari lamanya mereka berada disitu.
              Tersebutlah pasukan Bali telah mendarat dipantai Penarukan, segtelah 3 hari lamanya mereka mengarungi lautan di dalam perjalanan. Segera Kyai Jelantik memerintahkan membuat kubu-kubu perkemahan, sambil menantikan perbekalan yang datang dari Blambangan. Setelah dua hari lamanya mereka berada di situ, barulah Kiyai Jelantik mengerahkan tenaganya untuk menggepur kerajaan Pasuruhan. Kota tersebut dikepung dari segala jurusan, setelah benteng-bentengt pertahanannya dapat dihancurkan satu demi satu. Akan tetapi bala bantuan dari kerajaan Mataram segera tiba, dengan jumlah pasukan yang amat besar. Kedatangan bala bantuan dari kerajaan Mataram itu, menimbulkan semangat baru bagi tentara Pasuruhan yang telah cerai berai itu. Mereka lalu menggabungkan diri dan terus mengadakan serangan-serangan balasan pada pos-pos pertahanan tentara Bali di sekitar kota pasuruhan. Terjadilah pertempuran yang amat dahsyat, masing-masingpihak memperlihatkan keuletannya didalam medan pertempuran. Tiada sedikit julah korban yang jatuh tiap-tiap hari dalam pertepuran itu, baik yang mati maupun yang menderita luka-luka berat. Setelah beberapa hari tentara Balid apat menguasai kota Pasuruhan, akhirnya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mataram yang persenjataannya jauh lebih sempurna. Disamping itujuga persediaan bekal bagi pasukan yang berjumlah 2000 orang itu besar mempengaruhi semangat mereka di dalam pertempuran.
              Kyai Jelantik yang selalu memperhatikan keadaan pasukannya didalam pertempuran itu, lalu segera mengatur siasat baru untuk mengadakan serangan balasan. Ia ingin merebut kota Pasuruhan kembali, guna mendapatkan bantuan perbekelan dari penduduk ibu kotal Karenanya pada suatuhari, tampillah Kyai Jelantik memimpin penyerangan kedalam kota. Ia mengendarai seekor kuda denan bersenjatakan sebuah pedang yang telah terhunus, terus menyerbu kebenteng pertahanan tentara Mataram. Melihat penyerangan Kyai Jelantik yang demikian hebatnya maka tentara Balipun timbul lagi semangatnya untuk bertempur. Dengan semangat yang berkobar-kobar, mereka serentak mengedakan penyerbuan diberbagai – bagai tempat. Terjadilah peperangan yang hebat lagi, masing-masing pihak mempertahankan kekuatannya. Tiada terhitung banyaknya mayat yang bergelipangan ditengah-tengah kancah peertempuranitu. Lebih-lebih pengamukan Kyai Jelantik. Ayunan pedangnya yang tajam itu, bagaikan kilat cepatnya meyambar kekanan dan kekiri, sehingga pasukan Mataram tepat dikacaukan. Iapun terus mengadakan pengejaran terhadap tentara Mataram yang melarikan diri itu, sehingga Kyai Jelantik terpisah dari pasukannya, akhirnya sampai pada suatu jalan yang sempit, Kyai Jelantik dapat dijebak oleh lawannya. Ia dikepug dan direbut oleh pasukan mataram yang amat kuat. Walaupun demikianKyai Jelantik sedikitpun tiada merasa gentar, pedangnya yangtajam itu terus diayunkannya, sehingga beberapa tentara Mataram rebah bergelimpangan di jalan yang sempit itu. Akhirya kuda Kiyai jelantik rebah kena tombak, dan pedangnya terpelanting  jatuh karena kena pukulan lawannya. Ia bangun dan segera menghunus keris pusakanya. Dengan bersenjatakan keris pusakanya itu ia terus megnadakan perlawanan. Namun akhirnya keris itupun terlepas pula, serta badannya telah penuh dengn luka-luka. Pada saat itu terkenanglah Kyai Jelantik dengan pesan ayahnya, agar ia rela mati didalam pertempuran. Maka didalam waktu yang sejenak, sempat pula ia mengheningkan cipta, dan kemudian terus mengadakan perlawanan dengan tanpa senjata (memogol) untuk mencari kematian didalam medan pertempuran. Tiada antara lama Kiyai Jelantik pun lalu rebah dengan menderita luka-luka yang amat banyak dan kemudian menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Ia gugur di negeri Pasuruhan sebagai pahlawan kerjaan Gelgel, yang hingga kini masih harum namanya.
              Setelah gugurnya Kiyai Jelantik sebagai panglima perang didalam pertempuran itu, maka kesatuan-kesatuan tentara Bali dengan mudah dapat dihancurkannya. Mereka lalu melarikan diri ketengah-tengah hutan, ada pula yang kepantai dan terus melarikandiri, denan perahunya, sedangkan yang lainnya ada pula menyerahkan diri dan akhirnya mereka melariandiri menetap disana sebagai penduduk.
              Berita kegagalan angkatan perang Bali pada permulaan tahun 1597 itu, menyebabkan berduka citanya baginda raja ri Dagening. Seluruh penduduk ibukota menyatakan turut berkabung, serta menghormati pahlawannya yang telah gugur di dalam pertempuran itu. Lebih-lebih isteri Kyai Jelantik yang sedang hamil, ia selalu terkenang akan suaminya yang malang itu. Untunglah tiada lama berselang, lahir dari dalam kandungannya seorang bayi laki-lai yang parasnya tampan. Kemudian baginda berkenan memberikan nama kepada bayi itu yakni : Ki DOCOL,  untuk kekang-kenangan atas keperwiraan ayahnya yang gugur dalam medan pertempuran. Bogol artinya tanpa senjata. Lebih lanjut didalam sebuah kitab perpustakaan yang bernama “Wewatekan” disebutkan bahwa jatuhnya daerah Blangbangan dibawah kekuasaan Mataram ialah pada tahun Saka 1520 (tahun 1598 M), dengan sebutan Candra Sangkala “Nora Katon Gatining wong”. Nora berarti angka katon angka 2, gatining angka 5 dan wong berarti angka 1. Rupanya dalam tahun itulah seluruh Jawa timur telah dikuasai oleh kerajaan Mataram, sedangkan kerajaan Gelgel tiada mampu untuk mengadakan pembalasan.
              Setelah jatuhnya daerah Blangbangan di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, kemudia disusul pula dengan meninggalnya seorang patih Agung dikerajaan Gelgel yaitu Kyai Nanginte. Beliau meninggalkan 2 orang anak lakia-laki masing-masing bernama Kyai Widya dan Kyai Pranawa. Kedua orang inilah diangkat oleh baginda raja Sri Sagening untuk menggantikan kedudukan ayahnya dengan pangkat Patih. Kekuasaan daerah ayahnya dibagi dua, yaitu : daerah dilingkungan kota dikuasai olehKyai ‘widya. Daerah tersebut biasa disebut daerah keagungan, karenanya Kyai widyapun mendapat sebutan Kyai Agung, sebagai panggilan kehormatan dari rakyatnya. Sedangkan Kyai Iranawa mendapat sebutan kehormatan yakni Kyai Di Ler atau Kyai Ler. Dengan dibantu oleh kedua Patih itu, baginda raja Sri Sagening masih mampu memelihara ketenangan da ketenteraman di Bali. Apalagi dengan politik perkawinan yang baginda laksanakan, kecintaan para pemuka rakyat makin tebal terhadap tegaknya kerajaan. Dari istri-istri beliau yang demikian banyaknya, maka bagindapun mempunyai putra dan putri sebanyak 14 orang yakni : Raden Pembayun, Raden karangasem, Dewa Balaju, Dewa Sumertha, Dewa Pameregan, Dewa Lebah, Dewa Sidan, Dewa Kabetan, Dewa Kulit, Dewa Pasawahan, Dewa Bedahulu, Dewa Caru.  Dewa Anom dan seroang putri bernama Dewa Ayu Rangda Gowang.
Di samping ke 14 orang putra dan putri itu, baginda raja Sri Sagening pernah mencintai salah seorang dari istrinya Kyai Di Lor, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki  tersebut diakui ayah sebagai anaknya sendiri oleh Kyai di Lor, dan kemudian dinamainya Kyai Mambul. Juga kepada Ki bogol yang kemudian setelah dewasa berganti nama dengan kyai Jelantik Bungahnya. Baginda menghadiahkan seorang istrinya yang sedang hamil. Isteri baginda tersebut bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari desa Panji (Buleleng), yang anaknya kemudian mampu mendirikan sebuah kerajaan besar di Bali – Utara. Hadiah yang demikian itu disebut Mana-kanya, ialah suatu pebalasan istimewa terhadap orang yang berjasa besar terhadap pemerintah kerajaan.
              Demikianlah caranya baginda raja Sri Sagening memikat hati para pemuka-pemuka rakyat, disamping baginda memiliki kecakapan dibidang pemerintahan. Pernah hampir terjadi suatu pemberontakan yang akan dipimpin oleh Kyai Pinatih, serta mendapat dukungan dari beberapa pemuka-pemuka rakyat lainnya. Namun akhirnya ia mengurungkan rencananya itu, mengingat dengan seorang adiknya yang turut menjadi isteri baginda raja. Walaupun rencana pemberontakan tersebut telah gagal, baginda denanhati-hati dan bijaksana telah mempersempit kekuasaan Kyai Pinatih, sehingga rakyatnya yang mula-mula berjumlah 35000 orang itu akhirnya tinggal hanya beberapa puluh orang saja yang setia kepadanya. Dengan demikian Kyai Pinatih menjadi tidak berdaya dan terpaksa menyatakan tunduk serta setia kehadapan baginda raja.
              Menurut catatan-catatan yang terdpat didalam perpustakaan VOC., maka antara lain disebutkan bahwa orang-orang Belanda mulai berkunjung ke Bali, yaitu pada masanya pemerintahan Sri Sagening bertahta di Gelgel. Seorang utusanyang bernama Cornelis Van Heemakerk pernah menghadap, dengan membawa sepucuk surat yang bertanggal 7 Januari 1601 dari Prins Maurits. Isi surat itu menyatakan bahwa pemerintah Belanda ingin mengadakan mengadakan hubungan baik didalam perdagangan dengan baginda susuhunan di Bali. Disamping surat tersebut, juga utusan itu menyerahkan bingkisan dari Prins Maurits, selaku tanda persahabatan dengan pemerintah di Bali. Anjuran pemerintah Belanda itu disambut baik oleh baginda Sri Sagening maka semenjak itu mulailah VOC. Melakukan perdagangan di Bali. Mungkin keuntungan yang diperolehnya berlipat ganda, maka orang-orang Belanda itu berturut-turut telah datang ke Bali, yaitu pada tahun 1603 dibawah pimpinan Wybrandt Van Warnyck. Atas permohonan mereka, baginda raja Sri Sagening memberikan ijin untuk mendirikan sebuah loji yang dipergunakan sebagai gudang dipelabuhan Kuta. Loji terebut didirikan dalam tahun 1620, akan tetapi setahun kemudiannya ijin tersebut lalu dicabut. Pencabutan itu disertai dengan larangan bagi orang-orang Belanda untuk berdagang di Bali, karena ternyata di dalam hubungan dagang itu, orang Belanda telah melakukan kecurangan-kecurangan, yakni dnegnajalanmenyekap orang-orang Bali didalam lodji trsebut. Orang-orang Bali yang disekapnya itu, kemudian lalu dijualnya kelain daerah dengan harga yang cukup besar memberikan keuntungan baginya. Perbuatan orang-orang belanda itu dianggap sebagai suatu penghinaan terhadap orang-orang Bali, karenanya sejak itu orang Belanda tiada dibolehkan lagi berdagang di Bali. Baginda raja Sri Sagening mangkat kira-kira didalam tahun 1621 setelah baginda berusia lanjut. Walaupun selama baginda berkuasa, kekuasaan baginda di Jawa Timur telah jatuh di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, namun baginda masih tetap dihormati oleh sekalian penduduk di Bali. Sebuah meru yang bertingkat 5 dan terletak disebelah Timur pura Penataran Agung di Besakih, adalah tempat memuja arwah baginda yang mulia itu. Dan selanjutnya pemerintahan dikerajaan Gelgel, dikemudikan oleh putra mahkota baginda raja yang bergelar Raden Pambayun.


[1] Santa guna yang disebut di atas adalahyang menjadi kepala Daeah di Blangbangan sejak tahun 1590. Ia adalahmenggantikan jabatan ayahnya yangjuga bernama Santa Guna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar