Sejak tahun 1651 cahaya kerajaan Gelgel telah mulai pudar. Kebesaran dan kejayaan yang pernah dicapai tinggal merupakan kenang-kenangan
didalam lembaran sejarah. Bali mengalami perpecahan didalam pimpinan, yang masing-masing hendak memperkuat daerahnya sendiri-sendiri. Demikian pula nasib kerajaan-kerajaan lain di tanahair, satu demi satu dapat dirongrong dan diadu domba. Suasana selalu tegang dan gawat, diliputi oleh perpecahan dan pertempuran. Nasib rakyat selalu terombang-ambing, menurut irama pasang surutnya gelombang setempat. Hanya V.O.C. ketika itu berhasil mengeruk keuntungan, berkat kepandaiannya memecah belah dan mengadu domba. Suasana panas dan tegang sepanjang maca, itulah iklum politik yang tetap dipelihara oleh VOC. Di dalam suasana yang demikianlah Kyai Agung Madhe menyusun pemerintahannya di kota Gelgel, setelah ia berhasil menumbangkan Sri Di Madhe dari tachta kerajaannya didalam tahun 1651. Ia menobatkan dirinya sebagai susuhunan di Bali, menggantikan Sri Di Madhe dan mewarisi kerajaan Gelgel. Akan tetapi daerah kekuasaannya hanya tinggal terbatas, sebab pemimpin-pemimpin rakyat yang telah meninggalkan kota Gelgel mereka memperkuat daerahnya masing-masing. Bahkan ketika itu sudah terdapat beberapa kerajaan baru yang muncul di Bali, yang tidak suka tunduk dibawah kekuasaan pemerintahan di Gelgel.
Diantara kerajaan-kerajaan yang baru muncul itu terdapatlah dua buah kerajaan yang sudah berdiri tegak, didukung oleh segenap penduduknya. Kedua kerajaan tersebut ialah buleleng dan Badung yang sudah mengadakan hubungan dengan pemerintahan VOC. Di Betawi untuk menyatakan kemerdekaannya. Sedangkan sejak tahun 1660 VOC telah menenpatkan kantor perdagangannya dipelabuhan Kuta atas ijin dari pemerintah kerajaan di Badung. Kecuali membeli hasil bumi yang terdapat di Bali, juga VOC membeli budak-budak yang besar membawa keuntungan baginya. Menurut pemberitaan yang terdapat di dalam catatan harian VOC. Menerangkan bahwa raja Buleleng pernah mengirim utusan ke Betawi. Utusan dari Buleleng itu tiba di Betawi pada tanggal 28 Agustus 1665 dan diterima oleh Moctaijker yang menjadi Gubernur jendral pada waktu itu. Raja Buleleng meminta kepada pemerintah VOC agar menyerahkan seorang warga negaranya yang bernama Willem, karena ia telah melakukan penculikan terhadap seorang dayang-dayang baginda. Penculikan itu dilakukannya dengan kekerasan, sehingga menelan korban seorang penduduk yang hendak meghalang-halanginya. Perbuatan willem yang demikian itu bukan sekali saja bahkan beberapa bulan yang lalunya ia telah pula melakukan penculikan terhadap 3 orang penduduk desa Bungkulan. Ketika rakyat Bungkulan datang hendak mencegah perbuatannya, ia lalu melepaskan tembakan sehingga salah seorang dari penduduk mati karenanya. Sebelum meninggalkan desa Bungkulan iapun melakukan perampokan serta membakar jukung-jukung penduduk yang terletak di pantai. Demikianlah pengaduan utusan tersebut, dengan tuntutan agar willem ditangkap dan diserahkan kepada kerajaan Buleleng untuk diadili perkaranya. Tuntutan baginda raja buleleng ternyata tidak mendapat perhatian dari pemerintah VOC. Di Betawi. Sikap pemeritnah VOC. Yang demikian itu dipandang sebagai suatu penghinaan dan merendahkan derajat baginda raya di kerajaan Buleleng,
Keterangan yang terjadi antara pemerintah VOC dengan pemerintah Buleleng, dipergunakan oleh baginda raja di kerajaan Gelgel. Kyai Agung Di Madhe segera mengirimkan utusan untuk menghadap pemerintah VOC di Betawi. Utusan dari kerajaan Gelgel itu tiba di Betawi pada tanggal 28 Septeber 1665 dibawah seorang pimpinan yang bernama I Gedor. Pengiriman utusan itu dimaksudkan untuk mengekalkan perjanjian persahabatan antara VOC dengan pemerintah di Bali, seperti yang telah diadakan dalam tahun 1648. Anjuran Kyai Agung Di Madhe ternyata disambut baik oleh Moersijker yang menajadi pembesar VOC. Ketika itu, dengan surat keputusannya tertanggal 1 Maret 1666, pemerintah di Betawi mengakui Kyai Agung Di Madhe menjadi Kepala Pemeritnahan di Bali dengan berkedudukan di kota Gelgel. Pengakuan pemerintah VOC itu, membesarkan hati Kyai Agung Di Madhe menjadi raja di kerajaan Gelgel. Dengan bantuan VOC terbayanglah kebesaran dan kejayaan keraton Gelgel di bawah kekuasaannya. Maka dikirimlah lagi utusan ke Betawi dengan membawa barang-barang kesenian Bali yang indah-indah, untuk memperkokoh persahabatan diantara kedua pemerintahan itu. Utusan tersebut tiba di Betawi pada tanggal 25 Agustus 1666, disambut dengan ramah tamah oleh para pembesar-pembesar VOC.
Perhubungan yang mesra antara VOC dengan kerajaan Gelgel, menimbulkan kebencian baginda raja dikerajaan buleleng. Apalagi tuntutan kerajaan Buleleng terhadap seorang Belanda yang bernama Willem, belum juga diperhatikan oleh pemerintah VOC. walalupun baginda telah mengirimkan utusan lagi ke Betawi pada bulan Oktober 1666. Semenjak itu pemerintah Buleleng lalu memutuskan hubungan dengan pemerintah VOC yang berkedudukan di Betawi.
Tersebutlah beberapa orang bangsawan dari kerajaan Makassar dibawah seorang pimpinannya yang bernama Daeng Tallolo.
Mereka meninggalkan kota Makassar, setelah kerajaan Goa di taklukkan oleh VOC. Dengan perahu layarnya orang-orang bangsawan Makassar itu mengacaukan kapal-kapal dagang Belanda di lautan. Untuk perbekalannya mereka telah melakukan perampokan di Banjarmasin dan di pulau Kangean yang terletak disebelah Timur pulau Madura. Dan didalam tahun 1676, Daeng Tallolo bersama anak buahnya telah melakukan perampokan di pulau Bali bagian Timur, yakni pada sebuah desa yang bernama Tulamben. Demikianlah pemberitaan yang terdapat di dalam kalangan VOC yang mengetahui hal itu. Sehubungan dengan berita tersebut diatas sebuah kitab perpustakaan yang bernama “Tanoncangah pasek” juga menyebutkan peristiwa itu. Antara lain disebutkannya, bahwa orang – orang Makassar itu mendapat perlawanan sengit dari penduduk desa Tulamben. Tiada sedikit jumlahnya orang-orang desa itu menjadi korban di dalam pertempuran itu. Akan tetapi karena orang-orang Makassar itu mempergunakan senjata api, maka orang-orang Tulamben itu dikalahkannya. Rumah-rumah rakyat lalu dibakarnya, dan harta benda penduduk disitu habis dilarikannya. Peristiwa yang menyedihkan itu tejadi pada hari Sukra Pahing wuku Dunggulan, Sasih Kasa panglong ping 13. Semenjak itulah desa Tulamben menjadi sepi, karena semua penduduk yang berjumlah ± 5900 orang telah mengungsi demi keselamatannya.
Sasaran orang-orang Makassar itu ternyata tiada menyimpang dari garis perjuangannya. Desa Tulamben adalah terletak di bawah kekuasaan kerajaan Gelgel, yang bersahabat dengan pemerintah VOC di Betawi. Ternyata peristiwa Tulamben yang menyedihkan itu dijadikan pedoman oleh raja-raja di Bali. Peristiwa itu menunjukkan bahwa Kyai Agung Di Madhe tidak mempunyai kesanggupan melindungi wilayahnya, yang berarti pemerintahnya masih lemah, juga di dalam hal itu pemerintah VOC tidak menunjukkan bantuannya, itu berarti bahwa perjanjian yang telah dibuatnya diantara kedua pemerintahan itu adalah merupakan suatu perjanjian yang mati.
Kini tersebutlah Pangeran pambayun dan Pangeran Jambe di desa gulingan setelah meningkat usia dewasa. Beliau adalah putra baginda Sri Di Madhe bekas raja di kerajaan Gelgel yang ditumbangkan oleh Patih Agung Kyai Agung Di Madhe dalam tahun 1651. Setelah baginda Sri Di Madhe mangkat, maka pada suatu hari kedua Pangeran itu mengadakan perundingan berkenaan dengan kekuasaan ayahanda baginda yang telah dirampas itu. Di dalam perundingan itu terjadilah pertentangan pendapat diantara kedua putrta raja itu. Pangeran Pembayun selaku putra mahkota kerajaan tidak intin merebut kembali tahta kerajaannya. Sedangkan pangeran Jambe yang lebih muda bertekad bulat untuk menumbangkan Kyai Agung di Madhe demi kebesaran nama keturunannya. Pertentangan pendapat itu menimbulkan persimpangan jalan. Pangeran Pambayun dengan diiringkan oleh ± 150 orang rakyatnya, lalu meninggalkan desa Culiang dan terus pergi arah kerabat. Sampai pada suatu tempat yang bernama Tampaksiring, disitulah beliau menetap bersama dengan sekalian pengiringnya untuk melanjutkan nasibnya yang malang itu. Sedangkan Pangeran Jamba yang sudah bertekad itu lalu pergi kejurusan Timur, juga diiringkan oleh rakyat yang berjumlah ± 150 orang. Harta benda kerajaan sama-sama dibagi dua, sedangkan keris-keris pusaka kebanyakan jatuh ketangan Pangeran Jambo, sebab beliaulah yang akan berjuang. Akhirnya rombongan Pangeran Jambe menetap pada suatu tempat bernama desa Ulah, termasuk kekuasaan Anglurah Sidemen.
Kedatangan pangeran Jambe di Desa Ulah, disambut oleh segenap rakyat disitu dengan perasaan terharu. Demikian juga Anglurah Sidemen telah menyatakan kesanggupannya untuk membatu perjuangan Pangeran Jambe dengan segenap kekuatannya. Sesudah mendapat kata sepakat, lalu Anglurah sidemen mengirim utusan kepada baginda raja dikerajaan Buleleng dan Badung. Diharapkan kepada kedua kerajaan itu agar suka membantu perjuangan Pangeran Jambe didalam menumbangkan kekuasaan Kyai Agung Di Madhe di kota Gelgel.
Baginda raja Badung yang bergelar Jambe Pulang dengan gembira menerima utusan itu. Baginda bersedih mempertaruhkan kerajaannya demi tegaknya kembali kerajaan baginda dibawah pimpinan pangeran Jambe. Maklumlah karena Pangeran Jambe ibunya berasal dari kerajaan Badung, yaitu adik baginda sendiri. Sedangkan utusan yang datang menghadap kepada baginda dikerajaan Buleleng mendapat pula sambutan yang baik. Baginda raja Buleleng berkesanggupan membantu dengan pasukan yang sudah terlatih, yakni pasukan “Taruna Coak” yang menjadi kebanggaan kerajaan Buleleng. Pasukan tersebut terdiri dari pemuda-pemuda yang berbadan tegap dan sehat serta mednapat latihan militer yang cukup baik. Suatu kesempatan yang sangat baik bagi baginda raja Buleleng untuk menunjukkan baktinya terhadap keturunan baginda raja Sri Sagening almarhum, disamping untuk menghancurkan sekutu-sekutu VOC di Bali.
Kesanggupan baginda raja Badung dan Buleleng, sangat membesarkan hati Pangeran Jambe di dalam perjuangannya menumbangkan kekuasaan Kyai Agung Di Madhe di kota Gelgel. Maka diadakanlah suatu pertemuan rahasia untuk merundingkan suatu rencana penggempuran ke kota Gelgel. Di dalam pertemuan itu telah dibicarakan secara mendalam, tentang kekuatan-kekuatan Kyai Agung Di Madhe, dan dari mana penyerangan akan dilancarkan. Setelah pertemuan itu berakhir, maka bersiap-siaplah angkatan perang dari kerajaan Badung dan Buleleng untuk diberangkatkan ke kota Gelgel.
Pada suatu hari telah siaplah ditiga buah tempat angkatan perang yang besar jumlahnya. Pasukan Taruna Gowak dari angkatan perang kerajaan Buleleng dipimpin oleh panglima Perangnya bernama Ki Tambelang. Mereka bermarkas di sebelah Barat Laut kota Gelgel, yakni pada sebuah desa bernama Penssan – Hadji. Penggempuran dari sebelah Selatan akan dilakukan oleh angkatan perang dari kerajaan Badung dibawah pimpinan panglima Perangnya yakni I Gusti Nyoman Pamedilan yang disebut juga Kyai Jambe Pole. Sedangkan pasukan rakyat Sidemen yang besar jumlahnya bermarkas di Timur Laut Kota Gelgel, yakni pada sebuah desa yang bernama Sumpulan, yang kini disebut desa Sampalan. Pasukan tersebut dipimpin langsung oleh Anglurah Sidemen. Pada waktu itu Pangeran Jambe berada di desa Dawan dikawal oleh suatu pasukan yang kuat di bawah pimpinan Kyai Paketan. Sementara itu bergerak pula sepasukan laskar Pering Gading dari Desa Bengkel. Pasukan tersebut dipimpin oleh I Dewa Manggis, yang menjadi Kepala Desa Disana. Bala bantuan itu adalah inisiatif I Dewa Manggis sendiri, karena merasa bahwa ia adalah putra Sri Sagening, yang beribukan seorang putri dari daerah hutan Manggis.
Demikianlah keadaan angkatan perang yang sangat besar jumlahnya telah mengurung kedudukan Kyai Agung Di Madhe dari tiga jurusan. Maka pada hari yang telah ditetapkan, menyerbulah angkatan perang Badung dari arah Selatan. Rumah-rumah rakyt ditepi pantai dibakarnya dan penduduk kampung semua lari ketakutan.
Dengan mudah angkatan perang Badung telah berhasil menduduki sebuah desa yang bernama Djumpai. Tiada antara lama berselang datanglah pasukan Gelgel yang langsung dipimpin oleh Kyai Agung Di Madhe dengan penuh kebulatan tekadnya. Terjadilah pertempuran sengit di desa Jumpai, masing-masing pasukan mempertahankan kekuatannya.
Di dalam pertempuran yang dahsyat itu, ternyatalah angkatan perang Badung bukan menjadi saingan yang berat bagi pasukankerajaan Gelgela yang sudah berpengalaman itu. Apalagi Kyai Agung Di Madhe memang keturunan darah Ksatrya, tiada gentar menghadapi ribuan senjata yang menghadang jiwanya. Dengan sebuah pasukan yang menjadi kepercayaannya, Kyai Agung di Madhe menyerbu ketengah-tengah pertempuran yang sedang hebat itu. Tiada terbilang banyaknya pasukan Badung dapat dibunuhnya, sehingga inti pasukannya hancur lebur. Sedangkan pasukan yang melakukan penyerangan dari pinggir, segera melarikan dirinya karena tiada sanggup lagi menghadapi pasukan Gelgel yang sedang mengganas. Melihat keadaan yang demikian itu pasukan Gelgel makin bersemangat, dan terus melakukan pengejaran sampai kepinggir pantai.
Mereka khawatir agar jangan sampai pasukan yang sedang cerai berai itu mempunyai kesempatan untuk mengumpulkan kekuatannya lagi. Demikianlah pengamukan angkatan perang ‘gelogel yang tiada mengenal ampun, hingga sampai kepantai mereka terus mengganas terhadap pasukan yang sudah tiada berjaya itu. Di dalam pengejaran yang sengit itu, panglima perang kerajaan Bedung I Gusti Nyoman Pemedilan dapat dikurung rapat pada suatu tempat yang bernama Batu Klotok. Walaupun demikian keadaannya, iapun mengadakan perlawanan yang sengit dengan keris pusakanya. Teryata banyak juga tentara Gelgel yang menderita luka-luka bahkan ada pula yang gugur disampingnya. Akan tetapi pasukan yang banyak itu tiada terlawan olehnya sendiri, dan akhirnya iapun gugur ditempat itu sebagai pahlawan yang gagah berani. Melihat kematian panglimanya itu, lalu pasukan Badung segera mengundurkan diri, dan kemudian terus lari tunggang langgang meninggalkan medan pertempuran. Sementara pertempuran sedang berkobar dipantai Selatan, ketiga pasukan yang berdiri di belakang Pangeran jambe telah pula bergerak mendekati ibu kota. Laskar rakyat sidemen yang dipimpin langsung oleh Anglurah Sidemen mengadakan penyerangan dari arah Timur Laut. Dengan suara gemuruh, mereka berlomba-lomba menyeberangi sungai Unda. Beberapa buah rumah yang terletak di pinggir kota, mereka bakar dengan kejam. Orang-orang ibu kota kelihatan sepi, sehingga penyerangan laskar Sidemen tiada mendapat perlawanan. Untuk menghindari suatu serangan balasan yang mendadak, maka Anglurah Sidemen lalu segera memerintahkan rakyatnya untuk menggali parit-parit pertahanan disebelah Utara istana. Disekitar parit-parit itu dilingkari dengan ranjau-ranjau tajam, serta dibeberapa tempat didirikan pos-pos penjagaan. Sedang pasukan Taruna Gowak dari Angkatan Perang Kerajaan Buleleng menyerang dari arah Barat laut. Pertempuran sengit terjadi disebelah Barat sungai Jinah. Pasukan Gelgel yang sejak semula telah bersembunyi di semak-semak, mereka lebih dahulu dapat menyergap lawannya. Di bawah pimpinan Ki Kreta mereka menyerang lambung pasukan Taruna Gowak, yang dipimpin oleh Ki Tamblang sebagai panglima Perangnya. Penyerangan yang tiba-tiba itu menelan koraban yang tiada sedikit jumlahnya. Banyak pemuda-pemuda dari pasukan Taruna Gowak, jatuh tersungkur kena tikaman lawannya. Diantaranya banyak pula yang jatuh ke dalam jurang sungai jinah. Didalam keadaan yang kacau itu tampillah Ki Tamblang untuk memimpin serngan balasan. Ia maju kedepan dengan beberapa orang pasukan intinya. Berkat kepandaiannya mengatur siasat, akhirnya pasukan Gelgel dapat dibendungnya. Kemudian menyusullah serangan-serangan yang dilancarkan dari sebelah kanan dan kirinya silih berganti, sehingga pasukan Gelgel kembali menalami kekacauan. Dalam pada itu Ki Kreta dapat dijebak dan segera direbut oleh lawan-lawannya. Ia gugur di dalam pertempuran sebagai seorang kesatrya yang tangguh dan berani. Melihat kematian Ki Kreta itu, maka pasukan Gelgel yang telah patah semangatnya itu lalu lari tunggang langgang. demikian pula pertempuran yang terjadi antara pasukan Gelgel dengan laskar Pering Gading dari desa Bengkel. Laskar ini jumlahnya amat kecil, dan langsung dipimpin oleh Kepala Desanya yang bernama I Dewa Manggis. Dengan bersenjatakan tombak pusakanya yang amat ampuh, I Dewa Manggis memimpin pertempuran dengan sangat mengagumkan. Akhirnya pasukan gelgel yang tiada tahan lagi berhadapan dengan tombak pusakanya I Dewa manggis, mereka sema lalu melarikan dirinya. Dengan demi keadaan kota Gelgel makin mengkhawatirkan. Gemuruhnya sorakan-sorakan dari Laskar penyerang makin keras kedengaran. Hal ini menandakan bahwa pertahanan-pertahanan rakyat Gelgel telah dapat dihancurkannya. Apalagi telah banyak kelihatan rakyat yang mengungsi keibu kota. Mereka kebanyakan terdiri dari orang-orang tua, kaum wanita dan anak-anak, yangrumahnya telah dihancurkan dan dibakar olehmusuh. Mereka menceritakan bahwa kampung-kampungnya telah menjadi lautan api, dan nasib orang tuanya sudah tiada menentu. Melihat keadaan musuh yang demikian banyaknya, lagi pula telah berhasil menduduki tempat-tempat disekitar kota maka yakinlah Kyai Agung Di Madhe akan kekalahannya. Dengan peretujuan beberapa pemuka-pemuka rakyat yang masih setia, lalu diputuskanlah untuk mengungsi kedaerah lain dibandingkan dengan menyerah ketangan musuh. Maka kemudian berangkatlah Kyai Agung Di Madhe meninggalkankota Gelgel bersama keluarganya, diiringkan oleh sekalian penduduk yang masih mencintai rajanya. Perjalanan mereka menuju keselatan, dan kemudian menyusur pantai arah barat. Engah beberapa hari di dlam perhalanan akhirnya mereka sampai pada suatu tempat bernama Desa Jimbaran. Ternyatalah daerah itu menjadi kekuasaan baginda raja di kerajaan Badung, yang baru beberapa hari yang lalu telah dapat dikalahkannya didalam pertempuran di desa Jumpai. Karenanya terpaksalah Kyai Agung Di Madhe besserta pengiringnya tergesa-gesa lagi meninggalkan desa Jimbaran danmenuju arah ketimur. Sampai pada suatu tempat bernama Kuramas, disitulah mereka akhirnya menetap bersama dengan sekalian pengiringnya itu.
Tiada antara lama sesudah Kyai Agung Di Madhe mengosongkan kota Gelgel bersama sekalian rakyatnya, datanglah angkatan perang dari kerajaan Buleleng, desa Bengkel dan Sidemen menyerbu ibu kota dengan ganasnya. Tiada suatu perlawanan yang terjadi didalam kota, karena kota Gelgel sudah menjadi kota yang sunyi. Walaupun demikian tentara yang sedang mengganas itu sukar dibendung kemarahannya, sehingga dengan tiada menaruh belas kasihan mereka lalu membakar rumah-rumah rakat. Ada pula yang menyerbu keistana, mereka menghancurkan semua bangunan-bangunan yang ada, sampai ketembok-tembok istanapun dirobohkannya, sehingga semua bangunan-bangunan menjadi hancur lebur karenanya. Barulah mereka puas melihatnya setelah kota Gelgel menjadi lautan api, yang menerangi kehancuran kota itu sendiri.
Demikianlah riwayat hancur leburnya kerajaan Gelgel dibawah kekuasaan Kyai Agung Di Madhe yang lebih terkenal dengan sebutan I Gusti Agung Maruti. Sayang sekali kitab “Kidung Pamancangah” maupun kitab “Babad Dalem” tiada menyebutkan dengan pasti kapan terjadinya peristiwa yang amat menyedihkan itu.
Walaupun demikian, sebelum mendapat suatu ketentuan yang pasti dari para ahli sejarah, dapatlah sementara dipakai pegangan bahwa runguhnya kerajaan Gelgel terjadi kira-kira di dalam pertengahan abad ke XVII bagian kedua, atau kira-kira dalam tahun 1677.
Setelah runtuhnya kerajaan Gelgel, maka kekuasaan di Bali selanjutnya menjadi terpecah belah, tidak lagi terletak dibawah satu pimpinan. Timbullah beberapa kerajaan-kerajaan kecil, yang masing-masing bebas menentukan nasibnya sendiri-sendiri. Di dalam perkembangannya, kerajaan Buleleng dan Karangasem sungguh mengagumkan, disamping kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang selalu bermusuhan satu dengan yang lainnya, seperti diterangkan didalam Kitab Sejarah Bali “Timbul-Tenggelamnya kerajaan – kerajaan di Bali.
kawitan rage digelgel puk
BalasHapusBagus skali postingannya, klo bisa sjarah hancurnya desa tulamben kuno di uraikan biar kami tahu, klo bisa bserta nama keturunan arya taskas tulamben klo bisa di uraikan , suksma pk ode
BalasHapusmenyedihkan. sesama semeton Bali saling bunuh karena nafsu, loba akan harta dan tahta
BalasHapus