Senin, 25 Oktober 2010

BALI DIBAWAH MAJAPAHIT


1.      GAJAHMADA MENYERANG BALI
              Pengangkatan Gajah Mada sebagai patih mangkubumi pada tahun 1331, adalah tindakan yang sangat tepat
dan bijaksana bagi pemerintah di kerajaan Majapahit pada waktu itu. Ia ternyata seorang negarawan besar pada jamannya, sehingga selama ia berkuasa hampir seluruh kepulauan nusantara bernaung di bawah panji-panji Majapahit. Cita-citanya amat tinggi untuk membentuk negara kesatuan di bawah kekuasaan Majapahit. Di dalam sebuah sidang para pembesar-pembesar tinggi di Majapahit, Gajah Mada pernah mengemukakan kesanggupannya untuk mempersatukan seluruh kepulauan Nusantara. Ksanggupannya itu disertai dengan sumpah, yang disebut “Sumpah Palapa”.
              Berkat kecakapan Gajah Mada memutar roda pemerintahan, kerajaan Majapahit yang mula-mulanya lemah dan terkebelakang, lama kelamaan menjadi Negara makmur dan kuat. Kelemahan Majapahit sebelumnya, disebabkan karena kurang cakapnya raja-raja memerintah yang sering menimbokan bentrokan-bentrokan, bahkan sampai beberapa kali terjadi pemberontakan berdarah. Hal itu memberi kesempatan kepada pegawai-pegawai kerajaan berbuat tidak jujur, yang mengakibatkan nasib rakyat terlantar. Akan tetapi semenjak Gajah Mada diangkat menjadi Patih Mangkubumi, keadaan menjadi berubah. Gajah Mada sangat menguatamakan kepentingan rakyat, baik lahir maupun kepentingan rohani. Dalam waktu singkat menjelmalah Majapahit menjadi sebuah kerajaan makmur dan kuat. Angkatan perangnya berjumlah besar, baik di laut maupun di darat. Keadaan yang demikian itulah ditunggu-tunggu oleh Gajah Mada. Ia yakin bahwa saatnya sudah tiba untuk mewujudkan cita-citanya seperti yang telah diucapkannya di depan sidang, disertai dengan sumpah yang disebut sumpah Palapa. Inginlah Gajah Mada menguji kekuatannya pertama dengan kerajaan Beda Ulu di Bali yang menjadi negara tetangganya. Bali akan dijadikannya satu loncatan kelak, untuk menguasai daerah-daerah yang lebih jauh.
              Demikianlah pada suatu hari didalam tahun 1338 Gajah Mada mengirim beberapa orang pemimpin Agama Buddha ke Bali. Mereka itu ditugaskan oleh Gajah Mada berusaha di Bali untuk mendirikan sebuah pura bernama “Tathagata-pura Gerhastadara”. Denganjalan ini Gajah Mada ingin memikat hati Baginda raja di Bali beserta dengan rakyatnya untuk mengakui kerajaan Majapahit sebagai Pimpinannya. Setelah ternyata siasat itu tidak berhasil, maka Gajah Mada sedirilah lalu pergi ke Bali, seperti yang telah diuraikan di dalam pasal yang lalu. Ternyata perjalanan Gajah Mada ii berhasil, dengan terbunuhnya patih Kebo Iwa di Jawa Timur, Kematian patih Kebo Iwa menjadi pangkal pokok sakitnya Baginda Sri Asthasura Ratna Bhumibanten, sehingga menemui kemangkatannya pada tahun 1342.
              Berita kemangkatan Baginda raja di Bali, menimbulkan keyakinan Gajah Mada, bahwa kemenangan Majapahit pasti tercapai. Maka segeralah digerakkannya laskar Majapahit yang besar jumlahnya menuju arah ketimur. Penyerangan itu langsung dipimpin oleh Gajah Mada selaku panglima Perang Tertinggi, serta dibantu oleh wakil Panglima Perang Majapahit yang bernama : Arya Dasar. Sampai di Banyuwangi diadakanlah perundingan denan sekalian kepala-kepala Perang yang akan memimpin penyerbuan ke Bali. Dalam perundingan yang sangat rahasia itu diputuskanlah antara lain :
1)      Penyerbuan akan dilakukan dari 4 jurusan ;
a.       Induk pasukan dipimpin oleh Gajah Mada, dan mengadakan penyerbuan serta pendaratan dipantai Timur pulau Bali.
b.      Arya Damar dengan kekuatan 20.000 orang tentara Palembang mengadakan pendaratan dipantai Utara pulau Bali.
c.       Tentara Sunda (Jawa Barat) yang berjumlah 2.000 orang, dipimpin oleh Adipati Takung dengan dibantu oleh seorang perwira bawahan bernama Lagut, mengadakan pendaratan dipantai Barat pulau Bali.
d.      Pendaratan di pantai Bali Selatan, harus dilakukan serentak oleh 6 orang perwira, masing-masing dibawah pimpinan : Arya Kenceng, Arya Sentong, Arya Bleteng, Arya Belog, Arya pengalasan dan Arya Kanuruhan. Mereka masing-masing memimpin pasukan ± 15.000 orang.
2)      Kemudian apabila kelihatan api menyala atau asap mengepul di lereng Gunung Agung, itulah suatu tanda bahwa induk pasukan dipantai Bali Timur sudah memperoleh kemenangan. Dengan tiada usah menunggu perintah lagi, semua pasukan dari segala penjuru harus digerakkan serentak, untuk menghancurkan istana Beda-Ulu.
Setelah selesai mengadakan perundingan dan mengatur segala persiapan serta perlengkapan, angkatan perang Majapahit yang besar jumlahnya itu lalu diseberangkan dengan perahu-perahu layar menuju sasarannya masing-masing. Sementara itu tersebutlah Pasung Gerigis di Bali, ia bertindak sebagai raja patih, menggantikan Baginda raja Asthasura Ratna Bhumi banten yang telah mangkat itu. Berita tentang kematian patih Kebo Iwa di Jawa Timur, menimbulkan keinsyafan pasung Gerigis, bahwa kerajaannya terncan bahaya. Kerajaan Majapahit yang menjadi negara tetangganya sewaktu-waktu pasti akan menyerang pulau Bali. Oleh karena itu segeralah ia memanggil sekalian pemimpin-pemimpin rakyat di Bali, untuk menghadiri persidangan yang diadakan di istana Beda-Ulu. Pemimpin – pemimpin rakyat tersebut ialah ;
1)      Cori Kmona berkedudukan di Denbukit (Bali utara),
2)      Tunjung tutur berkedudukan di Tianyar (Bali Timur),
3)      Tunjung Biru berumah di desa Tenganan (Bali Timur),
4)      Ki Buwahan berumah di desa Batur (dipegunungan)
5)      Ken Tambyak berumah di desa Jimbaran (Bali Selatan)
6)      Ki Kopang berumah di desa Seraya (Bali Timur) dan
7)      Ki Walungsingkal berumah di desa Taro (di pedalaman).
              Kecuali 7 orang pemimpin rakyat tersebut di atas, turut hadir pula 2 orang pembesar negeri yakni : Demung Gudug Basur dan Tumenggung Ki Kala Gemet. Didalam persidangan yang diadakan di istana Beda-Ulu, telah dibahas secara mendalam kemungkinan penyerbuan tentara Majapahit ke Bali yang akan dilakukannya sewaktu-waktu. Mendengar keterangan yang demikian itu sekalian pemimpin-pemimpin rakyat Bali serentak menyatakan kebulatan tekadnya, untuk berjuang mati-matian mempertahankan keagungan negeri leluhurya. Semenjak itu mulai diatur segala persiapan yang diperlukan di dalam pertempuran. Sepanjang pantai pulau Bali, pada tempat – tempat yang mungkin akan dilakukannya pendaratan, didirikanlah kubu-kubu pertahanan yang sangat kuat. Kecuali pertahanan pantai; berteng-bentengnya telah dibangun di beberapa tempat, lebih-lebih disekitar istana sendiri. Setiap hari rakyat selalu siap berjaga-jaga dengan senjata. Demikianlah keadaan rakyat Bali, yang telah mengadakan benteng-benteng pertahanan yang kuat, jauh sebelum Gajah Mada mendaratkan pasukannya di Bali.
              Tersebutlah Gajah Mada yang akan mendaratkan induk pasukannya di pantai timur Pulau Bali. Dari jauh sudah tampak olehnya, kubu-kubu pertahanan yang dibangun sepanjang pantai. Makin dekat makin jelas, bahwa ribuan rakyat Bali telah berjajar sepanjang pantai, siap dengan tombak dan keris menyambut kedatangan musuhnya yang akan mendarat. Gajah Mada menjadi yakin, bahwa kurban yang besar jumlahnya tak dapat dielakkan lagi. Maka denan kebulatan tekad mendaratlah tentara Majapahit dengan penuh keberanian. Pendaratan dilakukan bertubi-tubi, sehingga pantai Timur pulau Bali menajdi penuh sesak.
              Pertempuran pecahlah Tentara Bali dibawah pimpinan Tunjung Tutur dan Ki Kopang segera mengadakan perlawanan yang sengit. Tiada terhitung jumlahnya prajurit-prajurit yang tewas dan luka-luka dari kedua belah pihak. Akhirnya pihak Bali menderita kekalahan, sebelum tunjung Tutur dan Ki Kompang gugur dalam pertepuran itu. Kemudian desa Tianyar yang terletak disitu segera diserbu dan diduduki. Jatuhlah benteng pertahanan Bali dipantai bagian Tiur. Setelah Gajah Mada mendapatkan kemenangan dan berhasil menduduki pulau Bali bagian Timur, segeralah ia memerintahkan sepasukan tentaranya untuk membakar  hutan dilereng Gunung Agung. Tindakan itu adalah merupakan komando, bahwa penyerangan kepusat ibu kota di Beda-Ulu harus segera dimulai. Melihat kepulan asap yang hebat itu, dannyala api di waktu malam, maka kepala-kepala pasukan tentara Majapahit serentak menyerbu kubu-kubu pertahanan rakyat Bali yang dibangun disepanjang pantai. Dimana-mana tentara Majapahit mendapat perlawanan yang sengit.
              Perlawanan rakyat Bali dipantai Utara ternyata perlawanan yang paling tangguh. Sejumlah ± 20.000 orang tentara Palembang dibawah pimpinan Arya Damar, serentak melakukan pendaratan disitu. Tiap-tiap tentara yang mendapat pukulan hebat dari pasukan Geri Kmana yang memimpin pertahanan tersebut. Sesudah 2 hari lamanya kedua pasukan itu bertempur mati-matian, ternyatalah pihak penyerang menderita kekalahan besar. Tiada kurang dari 17.000 tenrara Palebang yang gugur dalam pertempuran itu. Sisanya yang amsih ± 3.000 orang lalu melarikan diri kejurusan Barat, menuju sebuah desa bernama Ularan. Benteng alam yang terdapat disitu, ternyata sanggup melindungi dan menyelamatkan mereka dari pengejaran lawannya. Disitulah mereka bertahan sambil menunggu kedatangan Arya Damar yang tergesa-gesa pulang ke Mahapahit untuk mencari bala bantuan.
              Melihat kedatangan Arya Damar itu, Baginda raja majapahit menjadi amat murka, dituduhnya Arya Damar tidak dapat menuaikan dharmanya selaku k3esatrya. Akan tetapi segtelahArya Damar menjelaskan seluruhnya, barulah Baginda insyaf akan ketangguhan rakyat Bali mempertahankan negerinya. Akhirnya Baginda meperkenankan Arya Damar bala bantuan yang lebih besar lagi ditambah dengan seorang perwira yag bernama Arya Kutawaringin.
              Arya Damar bertolak lagi ke Bali dengan tentara pilihan yang cukup besar jumlahnya. Setelah berhasil melakukan pendaratan dan menggabungkan diri dengan sisa-sisa pasukan yang bertahan di desa Ularan, Arya Dadmar bersama-sama denan Arya Kutawaringan segera mengadakan serangan-serangan kepada kubu-kubu pertahanan tentara Bali. Pertempuran sengit terjadi lagi, masing-masing memperlihatkan ketangkasannya. Dengan tiada memperdulikan banyak kurban yang jatuh, Arya Damar mengadakan serangan-serangan balasan. Akhirnya daerah Bali utara bagian Barat berhasil diduduki oleh pasukan majapahit, setelah Giri Kmana pemimpin tentara Bali disitu gugur dalam pertepuran. Akan tetapi daerah-daerah bagia timur masih tetap utuh dibawah pimpinan Ki Buwahan yang bermarkas di desa Batur. Untuk penguasaan daerah ini, tiada sedikit jumlahnya lagi tentara yang gugur dari kedua belah pihak. Alam pulau Bali yang berbukit-bukit ditambah dengan hutan-hutannya yang masih lebat, menyebabkan peperangan itu berlangsung lama. Tiada kurang dari 7 bulan lamanya Arya Damar dengan Arya Kutawaringin melakukan serangan mati-matian, barulah daerah Bali utara dapat dikuasai, setelah Ki Bawahan gugur dalam pertempuran.
              Pertempuran dipantai Bali Selatan tiada kalah pula hebatnya. Gelombang laut yang besar tiada sedikit membawa keuntunga bagi pasukan Gudug Basur dan Ken Tambyak yang bertahan disitu. Banyak perahu-perahu Majapahit yang tenggelam sebelum sempat melakukan pendaratan. Walaupun demikian pertempuran sengit terjadi pula, setelah tentara Majapahit melakukan pendaratan yang tak henti-hentinya. 6 orang perwita Majapahit yang masing-masing memimpin pasukan ± 15.000 orang, disambut oleh pasukan Bali yang sejak lama telah mengadakan perthanan disitu.
              Medan yang luas dan datar, ditambah pula dengan tiadanya hutan-hutan yang melindungi pertahanan pasukan Bali sangat memudahkan pihak penyerang untuk mengadakan serangan-serangan langsung. Demikianlah disana-sini terjadi pertempuran-pertempuran yang serentak, sehingga hanya dalam tempo 7 hari pesisir pantai Bali Selatan telah dapat diduduki oleh pasukan Majapahit yang sangat besar jumlahnya. Gudug Bsur dan Ken Tambyak gugur dalam pertempuran itu bersama-sama dengan ribuan tentara lainnya darikedua belah pihak. Walaupun tentara Majapahit telah mendapat kemenangan disitu, namun mereka tiada berani melakukan penyerbuan kepusat kota, mengingat dengan keberanian dan kegigihan rakyat Bali mempertahankan negerinya. Mereka tinggal menetap di desa-desa yang telah lanjut.
              Dalam pada itu kesatuan-kesatuan tentara sunda yang melakukan pendaratan dipantai bagian Barat, boleh dikatakan selamat. Mereka tiada menjupai perlawanan yang berarti. Hal itu mungkin terjadi, karena kebetulan mereka melakukan pendaratan pada tempat yang sunyi, dan segera menyusup ketengah-tengah hutan menuju ke kota Beda-Ulu.
              Kembali diceritakan Arya Damar dan Arya Kutawaringin yang telah memperoleh kemenangan di Bali Utara. Mereka bersama-sama pasukannya terus menuju ke Bali Selatan, untuk menghancurkan Beda-Ulu. Setel;ah r hari menempuh perjalanan yang amat sulit, berdualah mereka dengan Gajah Mada bersama induk pasukannya di desa Tawing. Gajah Mada lalu mengemukakan rencananya yang baru di dalam penaklukan Bali untuk menghindari jumlah koraban yang akan jatuh. Gajah Mada yakin bahwa pertahanan rakyat Bali makin dekat ke Beda-Ulu makin kuat dan berlapis-lapis. Sedangkan untuk menguasai daerah pantai saja telah menelan korban puluhan ribu prajudir. Untuk rencana mselanjutnya Gajah Mada akan mempergunakan siasat perdamaian, karena Gajah Mada yakin dengan keahliannya berdiplomasi. Akhirnya setelah mendapat kata sepakat, Gajah Mada lalu berangkat menuju kota Beda – Ulu diiringkan oleh beberapa orang pengikutnya tanpa senjata.
              Dengan mengibarkan bendera putih Gajah Mada diperkenankan masuk ke istana Beda-Ulu, setelah menerangkan maksudnya untuk menemui Pasung Gerigis.
              Kedatangan Gajah Mada yang tiada terduga-duga itu, menibulkan rasa curiga bagi pasung Gerigis, apalagi mengingat Kebo Iwa yang tiada berdosa itu telah dibunuh oleh Gajah Mada di Jawa. Gajah mada lalu mengemukakan maksur kedatangannya, tiada lain untuk menyerahkan diri bersama seluruh tentaranya yang kini telah berada di Bali.
Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa mereka tiada berani kembali ke Mahapahit, dan tiada sanggup pula menunaikan tugasnya untuk menaklukan kerajaan Beda-Ulu. Ia sangat mengagumi keberanian dan kegigihan rakyat Bali di dalam pertempuran mempertahankan keagungan tanah airnya. Ia bermohon dengan sangat agar bisa diampuni, dan berjanji untuk mengabdikan diri demi kebesaran dan kejayaan keraton Beda-Ulu.
              Pasung Gerigis yang mula-mula curiga dengan kedatangan Gajah Mada itu, akhirya timbul rasa iba dan belas kasihan mengenangkan nasib Gajah Mada bersama-sama dengan pasukannya yang berada dalam keadaan terjepit itu. Pasung Gerigis melakukan permintaan Gahan Mada itu, dan segera mengumumkan kepada rakyatnya gar meletakkan senjata, karena peperangan telah berakhir. Pengumuman itu dikeluarkan setelah Gajah Mada terlebih dahulu menyatakan bahwa pasukannya sudah mendapat perintah agar menyerahkan dirinya kepada penduduk-penduduk desa yang didiaminya.
              Gajah Mada diajak oleh pasung Gerigis kerumahnya di desa Tangkulak, dan diterima sebagai kawan. Ia mendapat peladenan yang cukup baik, berkat pandainya Gajah Mada merendah diri. Semenjak itu pasukan Mahapahit dibebaskan leluasa ikut bertempat tinggal di kota Beda-Ulu. Mereka pandai bergaul dan ramah-tamah terhadap penduduk di situ. Sesudah penuh sesak orang-orang Majapahit di kota Beda Ulu, tiba-tiba mereka mengangkat senjata kembali dan mengadakan pemberontakan. Pasukan tentara Sunda mengepung desa Tengkulni dari segala jurusan pasukan Gerigis tiada sempat mengadakan perlawanan. Ia ditangkap dan dipenjarakan. Peristiwa itu terjadai didalam tahun 1343. Semenjak itulah Bali berada di bawah kekuasaan Majapahit.
             
2.      SRI KRESNA KEPAKISAN
              Setelah pulau Bali dapat ditaklukan oleh Gajah Mada pada tahun 1343, ternyata pemerintah Majapahit tiada lekas-lekas mengangkat wakilnya di Bali. Hal itu dapat menunjukkan, bahwa keamanan di Bali masih terganggu, disamping kesibukan-kesibukan lain yang terjadi di Majapahit.
              Penahanan raja patih pasung Gerigis di Tengkulak, ternyata menjadi benih-benih kemarahan penduduk di Bali. Akhirnya setelah Pasung Gerigis menyatakan setia kepada kerajaan Majapahit, dipindahkanlah ia dari Bali ke Jawa. Untuk menguji kesetiaanya itu, pasung Gerigis lalu diangkat menjadi Panglima Perang untuk menggempur kerajaan Sumbawa. Raja disitu bernama Dedela Natha, yang tiada sudi tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Dinegeri sumbawalah pasung Gerigis yang malang itu mengakhiri hidupnya. Ia gugur bersama  Dedela Natha, ketika melakukan perang tanding.
              Kematian pasung Gerigis di Sumbawsa, menyebakan timbulnya pula pemberontakan hebat di Bali. Orang-orang Bali Aga serentak mengangkat senjata, dibawah pimpinan Mraja Dharnawa. Dimana-mana kedudukan tentara Majapahit dikepung dan diserbunya. Tiada sedikit jumlah korban yang diderita oleh tentara Majapahit. Menerima laporan itu, dikirimlah bala bantuan yang besar jumlahnya dari majapahit, untuk memadamkan pemberontakan itu.
              Pasukan majapahit yang besar jumlahnya lalu mengadakan pendaratan dipantai Bali Selatan. Ternyata daerah itu sudah dikuasai oleh orang-orang Bali Aga dibawah pimpinan Mradja Dhanawa. Pertempuran sengit segera terjadi, masing-masing pihak memperlihatkan keunggulannya. Akhirnya pasukan Majapahit mendapat kemenangan setelah Mradja Dhanawa gugur dalam pertempuran itu. Tiada kurang dari 20.000 orng tentara yang mati dan luka-luka didalam pertempuran itu. Tepat terjadinya pertempuran yang dahsyat itu kini bernama Yeh Slukat (Gianyar).
              Demikianlah antara lain disebutkan di dalamkitab Usana Jawa, mengenai suatu pemberontakan yang terjadi di Bali, sebelum kerajaan majapahit menempatkan wakilnya. Sehubungan dengan pemberitaan yang terdapat di dalam kitab Usaha Jawa tersebut, rupanya sebuah pura besar yang bernama Pura Kontel Gumi didesa Tusan (Klingkung) didirikan pada waktu itu. Nama pura itu mengesankan, bahwa ketentraman di Bali telah dapat dipulihkan. Disitulah diumumkan penaklukan pulau Bali, setelah pasukan Majapahit mencapai kemenangan. Pura besar tersebut dapat dipandang sebagai Tugu kemenangan serta melambangkan kekuasaan Mahapahit di Pulau Bali.
              Di dalam sebuah ktiab yang bernama pamancangah pasek menerangkan bahwa Ki Patih Ulung pernah menghadap Baginda raja di Majapahit. Keberangkatanya disertai oleh dua orang, masing-masing bernama : Arya pamacekon dan Arya Kapasekan. Utusan yang datang dari Bali itu, diterima oleh patih Gajah mada dan segera dihantarkan keistana. Dihadapan Baginda raja Sri Hayam wuruk, Ki Patih Ulung melaporkan tentang suadana di Bali yang tetap mengkhawtirkan. Dikatakannya bahwa orang-orang Bali Aga tidak mau bergaul denan orang-orang Majapahit yang menduduki desanya. Mereka berbondong-bondong mengungsi ketanah pegunungan, untuk menjauhkan diri. Akhirnya Ki Patih Ulung bermohon, agar segera ditempatkan seorang wakil yang berwenang mengatur pemerintahan di Bali.
              Tidak antara lama sesudah Ki Patih Ulung beserta denan 2 orang kawannya pulang kembali ke Bali, Gajah Mada lalu megnangkat Ida Ketut Kuda Wandira menjadi Cakra Dala atau Adipati di Bali. Beliau adalah putra seorang pendeta bernama : Mpu kepakisan, yang menjadi Purohito atau pendeta pribgadinya Gajah Mada. Kecuali Ida Ketut Kuda Wandira yang ditempatkan di Bali, juga Adipati di Pasuruhan dan di Blambangan beserta Prabhu Sukaniya (Raja Putri) yang ditempatkan di Sumbawa, adalah putra dan putri dari Mpu Kepakisan. Pengangkatan 3 orang Adipati dan seorang Prabhu Sukaniya yang berasal dari putra dan putri Mpu Kepakisan tersebut dimaksudkan agar kedudukan Gajah Mada sebagai patih Mangkubumi di Majapahit bertambah kuat.
              Keberangkatan Ida Ketut Kuda Wandira sebagai Adipati di Bali, diiringkan oleh para menak (bangsawan) yang berasal dari Kediri (Jawa Timur). Mereka adalah keturunan Baginda raja Airlangga, bekas raja basur yang pernah berkuasa di Jawa Timur. Dengan demikian Gajah Mada berkeyakinan bahwa rakyat Bali akan dapat menerimanya. Para menak (bangsawan) yang mengiringkan keberangkatan Ida Ketut Kuda Kandira ke Bali, ialah Arya Kepakisan yang dipandang paling terkemuka, disertai oleh Arya Kanuruhan, Arya Dalancang, Arya Wangbang, Arya Kenceng, Arya pangalasan dan Arya Delog yang disebut juga Arya Tan wikan disumping beberapa para Arya lainnya yang terlebih dahulu telah menetap di Bali. Lain dari pada itu turut pula seorang Brahmana yakni Sira Wangbang, Keturunan Ida Mani Angkeran.
              Demikianlah banyaknya para bangsawan Kediri yang berasal dari keturunan Airlangga, beserta seorang Brahmana yang akan memperkuat kedudukan Ida Ketut Kuda Wandira menjadi Adipati di Bali. Setelah pengangkatannya disyahkan, Ida Ketut Kuda Wandira lalu diberi gelar “Sri Kresna Kapakisan”. Karena ditugaskan sebagai Adipatik Ida Ketut Kuda Wandira yang mula-mulanya adalah seorang Brahmana lalu digolongkan menjadi ksatriya.  Sedangkan para bangsawan yang biasa disebut pada Kesatriyeng Kediri diberi julukan para Arya. Tindakan Gajah Mada dalam menentukan kasta-kasta Ksatrya adalah berpedoman pada kitab Slokantara. Kitab itu menghargai keahlian tiap-tiap orang didalam menunaikan tugasnya di masyarakat. Para ahli Agama digolongkan dalam Kasta Brahmana, sedangkan kasta Ksatrya dimiliki oleh orang-orang yang memegang kekuasaan dan para prajurit. Demikian pula kasta waisiya dan Sudra dipergunakan oleh para pedagang dan petani. Jadi pengabdian tiap-tiap orang menurut keahliannyalah menentukan kastanya masing-masing, seperti pembagian dalam catur warna.
              Keberangkatan Adipati Sri Kresna Kepakisan beserta denan sekalian pengiringnya itu, diperlengkapi dengan tanda-tanda danpakaian kebesaran menurut tinggi rendah kedudukannya didalam pemerintahan. Selain tanda-tanda dan pakaian kebesaran, Sri Kresna Kepakisan mendapat pula sebilah keris pusaka yang bernama Ganja Dungkul. Romgonganitu mula-mula mendarat dipantai desa lebih (Gianyar) dan kemudian meneruskan perjalanannya menuju sebuahdesa bernama “Samprangan. Disitulah akhirnya mereka menetap, membangun istana dan perubahan, sebagai pusat pemerintahan di “Bali di bawah panji-panji kerajaan majapahit.
              Kedatangan rombongan Adipati itu ternyata tidak mendapat sambutan baik dari orang-orang Bali Aga di Bali. Mereka tetap tinggal menjauhkan diri, dan tidak mengakui adanya kekuasaan Pemerintahan baru di Samprangan. Akhirnya timbullah huru hara yang sukar diatasi. Tiga puluh sembilan desa menyatakan dirinya tidak mau tunduk dibawah kekuasaan pemerintah. Desa-desa tersebut ialah :
Batur, Cempata, Songan, Kedisan, Abang, Dinggan Munti, Bonyoh, Tarobayan, Serai, Sukawana, panarajon, Cintamani, Pludu, Manikliyu, Patani, Culik, Tista, Margatiga, Muntig, Bgot, Basanglasas, Lokasana, Djuntal, Gurinten, Nasi-Kuning, Puhan, Ulakan, Simbanten, Asti, Batu Ajang, Kedampal, Paselatan, Bantas, Tulamben, Carucut, Datah, Batu Dawa dan Kuta Bayem.
              Adanya kebulatan tekad orang-orang Bali Aga yang demikian itu, menimbulkan kekhawatiran para penguasa pemerintahan di Kota Samprangan. Lebih-lebih bagi Sri Kresna Kepakisan yang belum berpengalaman, segeralah hal itu dipermaklumkan kepada Gajah Mada di majapahit. Tiada lama berselang mendaratlah lagi pasukan Majapahit di Bali, untuk memperkuat kedudukan Sri Kresna kepakisan. Penyerangan dari Barat dipimpin oleh 3 orang bersaudara masing-masing bernama Tan Kober, Tan kawur, dan Tan Mundur, sedangkan penyerangan dari Timur dipipin oleh seorang panglima Perang yang bernama Arya Gajah Bara. Pasukan-pasukan terebut adalah pasukan tepur yang sudah berpengalaman, yang sanggup mengadakan gerak cepat di dalam peperangan. Akhirnya orang-orang Bali Aga yang menduduki Desa-desa seperti tersebut diatas, dapat dipaksa untuk tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Walaupun sudah demikian keadaannya, Sri Kresna Kepakisan masih selalu cemas menjadi Adipati di Bali. Sikap orang-orang Bali Aga masih sangat diragukan, seolah-olah api didalam sekam dan sewaktu-waktu rasanya akan timbul pemberontakan kembali. Rasa cemas dan ragu-ragu inilah menyebabkan Sri Kreesna Kapakisan berputus asa dan kehilangan akal. Terpaksalah beliau mengirimkan utusan lagi ke Majapahit, untuk mempermaklumkan suasana di Bali yang selalu menibulkan kekhawatiran. Lebih lanjut beliau bermohon agar dibolehkan meletakkan jabatannya untuk pulang kembali ke Jawa.
              Kedatangan uturan itu sangat mengejutkan hati Gajah Mada. Terasa benar olehnya kesukaran-kesukaran yang dihadapi oleh Sri Kresna Kepalakisan di Bali. Para kesatrya Kediri yang diharapkan akan mendapat dukungan orang-orang Bali Aga, ternyata suatu pertimbangan yang tidak berhasil. Yakinlah Gajah Mada bahwa orang-orang Bali Aga tidak dapat ditundukkan hanya dengan kekerasan. Setelah dipikirkannya masak-masak tentang suatu tipu muslihat untuk menudukkan orang-orang Bali Aga, maka Gajah Mada lalu menolak permohonan Sri Kresna Kapakisan untuk berhenti. Kepada utusan itu lalu dibisikkan sesuatu yang rahasia, yang harus disampaikannya kepada Adipati di Saprangan. Disamping pesan yang amat rahasia itu Gajah Mada menghadiahkan pula pakaian kebesaran selengkapnya untuk Adipati, beserta sebilah keris pusakanya sendiri yang bernama Ki – Lobar. Keris itu telah terkenal keampuhannya, dan dapat disamakan dengan si Panca Janya, senjata Dewa Wisnu yang ditakuti oleh segenap musuhnya.
              Utusan itu berangkat meninggalkan kota Majapahit, dengan mepergunakan sebuah perahu, bertolak dari pelabuhan Canggu. Dari sana berlayar menyusur pantai arah ketimur melalui Selat Bali dan akhirnya endarat di pantai desa Lebih. Kedatangan uturan itu disambut dengan upacara kebesaran, karena seolah-olah Gajah Mada sendirilah yang datang berkunjung ke Samprangan. Segala pesan dan pemberian Gajah Mada kemudian disampaikan kepada Sri Kresna Kapakisan. Beliau amat gembira menerima pakaian kebesaran itu, apalagi dengan adanya Ki Lobar, yang telah terkenal keampuhannya.
              Pada suatu hariketika Sri Kresna Kapakisan mengadakan persidangan dipaseban, sengajalah beliau mengenakan pakaian kebesarannya yang baru, lengkap dengan alat-alat kebesaran keraton lainnya. Tampaklah keagungan perbawa wajah beliau, sehingga sekalian pembesar yang hadir kagum dan takut memandangnya. Lebih-lebih beberapa orang pemimpin Bali Aga yang kebetulan hadir pula disitu. Ketika beliau memperlihatkan Ki Lobar, semua orang terkejut dan menggigil ketakutan, karena pada keris itu terlihat bayangan Durga yang berlutut, yang rupanya amat dahsyat. Semenjak itu sekalian penduduk “Bali Aga tiada berani lagi mendurhaka, mereka menyatakan kesetiaannya untuk mengabdi. Dan kemudian Ki Lobar diganti namanya menjadi Durga dingkul, karena bayangan Durga pada keris itu menunjukkan sikap yang akan membinasakan.
              Tindakan Sri Kresna kapakisan di Bali sejak itu, ternyata menunjukkan perubahan. Beliau mengangkat pemimpin-pemimpin penduduk Bali, diantaranya : Kiyai Agung Pasek Gelgel, Kiyai Pasek padang Subadra, Pangeran Tohdjiwa, Kiyai pasek Prateka, Kiyai pasek Panataran, Kiyai Pasek Kubayan, Kiyai Pasek Kubakal, Kiyai pasek Kadangkan dan Kiyai Angukulin. Mereka bersal dari keluarga dan keturunan Ki Patih Ulung, yang dahulu pernah menghadap Gajah Mada, sebelum ada peralian Majapahit di Bali. Pemimpin-pemimpin inilah disebarkan diseluruh Bali, dengan mendapatkan kuasa penuh dari Adipati. Mereka harus bertanggung jawab atas ketertiban dan keamanan di tempatnya masing-masing terhadap pemerintah di Samprangan. Penempatan kaum keluarga itu ternyata dpat diterima oleh orang-orang Bali Aga dengan kepuasan hati. Maklumlah mereka itumemang asal pemimpinnya dari jaman dahulu, yang berhak memimpin adat dan Agama di desanya masing-masing. Tambahan pula dengan kesediaan Sri kresna Kapakisan kemudian bersembahyang di pura besar Besakih, menyebabkan makin tunduknya orang-orang Bali Aga terhadap kekuasaan pemerintah di Samprangan. Mereka menganggap bahwa Adipati trsebut sudah dapat menyesuaikan dirinya, turut bersama-sama memuliakan tempat pemujaannya disitu, yang diciptakan oleh bekas raja-rajanya dijaman dahulu.
              Sekarang dapatlah dikira-kirakan, apa sebenarnya yang dibisikan oleh Gajah Mada ketelinga utusan dari Bali itu, yang merupakan pesan rahasia untuk Adipati di Saprangan. Hal itu tiada lain dari suatu garis kebijaksanaan yang harus dilaksanakan oleh Sri Kresna Kapakisan, seperti pengangkatan keluarga dan keturunan Ki Patih Ulung, serta ikut bersembahyang dipura Besakih bersama-sama dengan penduduk di Bali. Dsaimping itu juga tentang istilah mengenai sebutan orang-orang Majapahit, yang mula-mulanya nyaring terdengar, akhirnya hilang lenyap. Sikap dan tindakan yang demikian itulah dikehendaki oleh orang-orang Bali Aga, sehingga terciptalah suasana aman dan tenteram di Bali. Jadi tunduknya orang-orang Bali Aga tiadalah semata-mata disebabkan karena pakaian kebesaran dan tuahnya keris Durga Dingkul, seperti diuraikan dalam kitab Babad Dalem maupun pada Kidung Pamancangah.
              Setelah Sri Kresna Kapakisan mampu menciptakan ketenangan di Bali, barulah beliau mulau menyusun pemerintahannya. Sebagai patih Agung diangkatlah Pangeran Nyuh aya, salah seorang putra dari Arya kapakisan. Kedudukan Demung dan Tumenggung masing-masing dipegang oleh Arya Wangbang dan Arya Kutawaringin. Sedangkan para Arya-arya lainnya menduduki pangkat Bahudanda yang biasa juga disebut tanda Manteri.
              Sementara itu didalam sebuahkitab yang bernama Negara Kertagama karangan Prapanca ada menyebutkan antara lain, bahwa Adipati Sri Keresna Kapakisan pernah mengirimkan utusan ke Jawa, Para utusan itu terdiri dari para Menteri-menteri terkemuka dari Bali, mereka membawa bermacam-macam persembahan, untuk menyatakan setia baktinya mengabdi kepada Baginda raja di majapahit. Utuswan itu diterima oleh Baginda, raja Hayam Wuruk pada sebuah desa yang bernama Tatukangan, dimana Baginda raja sedang berkemah. Adanya Baginda Raja di desa tersebut, ialah dalam rangka Baginda mengadakan perjalanan keliling di daerah-daerah di Jawa Timur di dalam bulan Agustus/September 1359.
              Demikianlah adanya perwalian kerajaan Majapahit di Bali kira-kira sejak pertengahan abad ke XIV, yang berpusat di kota Samprangan.[1]
Sayang kitab-kitab yang kini terdapat di Bali, antara lain kitab Babad Dalem maupun Kidung Pamancangah, yang menjadi sumber sejarah di Bali sejak abad tersebut di atas, tidak menyebutkan bilangan tahunnya dengan pasti tentang ternadinya sesuatu peristiwa. Sehiongga untuk penentuan itu, terpaksa dipakai suatu perkiraan dengan jalan membanding-bandingkan terhadap suatu kejadian lainnya yang sejaman. Serta perkembangan pulau Bali selanjutnya di bawah kebesaran panji-panji kerajaan Majapahit, diceritakan berturut-turut di bawah ini.
             
3.      SRI AGRA SAMPRANGAN
              Beberapa tahun lamanya Sri Kresna Kepakisanmenjadi Adipati di Samprangan, sama sekali tiada tersebut di dalam kitab Babad Dalem maupun kitab Kidung Pamancangah, yang menceritakan berturut-turut adanya keturunan Baginda it di Bali. Kitab tersebut lebih jauh menerangkan bahwa Sri Kresna Kepakisan kemudian diganti oleh putranya yang bergelar Sri Agra Samprangan.[2] Beliau mempunyai adik laki-laki 3 orang masing-masing bernama : Dewa Tarukan, Dewa Ketut Ngulesir  yang lahir dari seorang wanita golongan bangsawan, sedangkan adiknya yang ketiga bernama : Dewa Gogalbesung lahir dari seorang wanita golongan bawah.
              Tersebutlah Dewa Tarukan bertempat tinggal di desa tarukan (Klungkung). Ia meninggalkan kota Samprangan  dan menerap di tempat yang baru dibuka itu. Menilik dari namanya, kemungkinan desa tersebut baru didirikan. Tarukan berarti galgal atau membuka tanah-tanah baru untuk pertanian atau perkebunan. Boleh jadi juga perpindahan beliau kesana banyak membawa pengiring, sehingga merupakan suatu perpindahan penduduk untuk mengusahakan pertanian dan perkebunan.
Disamping bertani Dewa Tarukan terkenal gemar minum tuwak maupun arak, sehingga tiada jarang beliau mabuk.
              Sementara Dewa Tarukan meninggalkan kota Samprangan untuk melakukanpembukaan tanah-tanah baru, tersebutlah pula Deswa Ketut tiada pernah lamaa-lama diam di Samprangan. Beliau selalu mengembara memburu tadjen (sambungan ayam). Itulah sebabnya beliau mendapat julukan Dalem Ketut Ngulesir. Dalem berarti susuhunan, dan Ngulasir berarti mengembara. Hanya Dewsa Togalbosung yang tetap tinggal di Samprangan, turut membantu seudaranya di dalam memutar roda pemerintahan di Bali.
              Di bawah pemerintahan Sri Agra Samprangan, pulau bali mengalami kemunduran. Semua pembesar-pembesar negeri merasa tidak puas, karena Baginda Adipati tiada pernah memperhatikan nasib rakyat.
Syukurlah ketentraman rakyat di desa-desa masih bisa gterpelihara, berkat kebijaksanaan para pemimpin setempat untuk memenuhi tutuntannya. Sikap Adipati yang kelihatannya acuh tak acuh didalam pemerintahan itu, disebabkan karena terlalu lambatnya beliau berhias. Amat sering terjadi sesuatu persidangan terpaksa dibatalkan karena Baginda Adipati tiada hadir. Para patih dan Bahudanda yang sejak pagi-pagi telah menunggu dipaseban, terpaksa kembali pulang kerumahnya masing-masing dengan kesal. Sedangkan pada waktu itu Baginda Sri Agra Samprangan sedang sibuk berhias diistananya, diladeni oleh beberapa istri dan selirnya yang cantik-cantik. Maklulah pada waktu itu di Bali belum terdapat kaca untuk bercermin, terpaksa Baginda mempergunakan beberapa tempayan yang berisi air sebagai penganttinya. Inilah yang menyebabkan Baginda selalu terlambat. Karena itu Baginda digelari Dalem Ile oleh kebanyakan penduduk di Bali. Ile berarti lambat atau malas.
              Di desa Tarukan lain pula keadaannya. Dewa Tarukan yang sudah lama menetap disitu sering mabuk karena kebanyakan minum arak atau tuwak. Rakyat memandangnya bahwa Dewa Tarukan sudah dihinggapi penyakit ingatan. Jalan pikirannya amat dangkal, bahkan beliau seringmarah-marah terhadap rakyatnya. Syukurlah beliau ditemani oleh seorang anak angkatnya, yang bernama Kuda penandang Kajar. Anak angkat itu berasal dari kerajaan Blambangan (Jawa timur), yang masih ada hubungan keluarga dengan beliau. Pangeran muda itu perasnya tampan, serta pandai memikat hati Dewa Tarukan, demikian pula kepada sekalian penduduk di desa itu.
              Pangeran Muda Penandang Kajar telah sering pergi kekota Saprangan, menghadap ramanda Baginda Adipati diistana. Entah berapa tahun lamanya pangeran muda itu berada di Bali, akhirnya ia jatuh cinta kepada Dewa Ayu Muter, yakni putri Baginda Sri Agra Saprangan. Percintaan pangeran muda itu akhirnya diketahui oleh Dewa Tarukan, sehingga beliau menjyarankan agar Dewa Ayu Muter dilarikan saja, dengan tidak usah dilakukan pinangan terlebih dahulu.
              Memperhatikan saran Dewa Tarukan yang demikian dapatlah diketahui betapa dangkalnya jalan pikiran beliau itu. Arak dan tuwak sangat mempengaruhinya, sehingga tiada terpikir oleh beliau, kalau saran yang sangat gegabah itu akan mengakibatkan keruntuhan martabat beliau kelak. Demikianlah pada suatu malam Dewa Ayu Muter dilarikan oleh Pangeran Muda Panandang Kajar ke desa Tarukan.
              Hilangnya Dewa Ayu Nmuter dari istana, sangat menggemparkan kota Samprangan. Kulkul (kentongan) kerajaan disuarakan terus menerus, suatu tanda bahwa bahaya telah terjadi. Rakyat ibu kota keluar beramaia-ramai, semua memanggul senjata untuk menghadapi musuh. Maka dititahkanlah kepada rakyat Samprangan untuk mengadakan penyelidikan atas hilangnya putri Baginda Dewa Ayu Muter. Bila perlu jangan segan-segan mengadakan pertempuran, karena tindakan musuh itu sangat menodai kehormatan nama Baginda. Suasana ibu kota menjadi hiruk pikuk dan sekalian rakyat telah dikerahkan mengadakan penyelidika ke desa-desa.
              Sementara itu tersebutlah senjata pusaka keraton Sapranganyang bernama Si Tnda Langlang. Berkat kesaktiannya, senjata pusaka tersebut, telah dapat membunuh kedua mempelai itu didalam peraduannya. Melihat kematian yang ajaib itu, timbullah rasa takut Dea Tarukan, yang memaksa beliau harus lari meninggalkan desanya. Pengejaran rakyat Samprangan yang kemudian sampai di desa itu, ternyata sia-sia karena Dewa Tarukan telah mengosongkan rumahnya. Lebihjauh sebuah kitab perpustakaan yang berjudul “BABAD PULASARI”, menceritakan perjalanan Dewa Tarukan sampai dengan keturuannya. Diceritakan bahwa Dewa Tarukan diterima baik oleh rakyat dipegunungan, terutama oleh Kepala-kepala Desa yangmasih tetap menghormati majikannya. Beliau mendapat perlindungan dan peladenan yang memuasakan. Untuk memperkuat kedudukan beliau di daerah pegunungan, maka kawinlah beliau disitu dengan beberapa orang wanita. Gadis-gadis pegunungan terseut adalah anak-anak dari kepala-kepala desa dimana Dewa Tarukan pernahmendapat pertolongan. Dari perkawinan itulahirlah 6 orang putra laki-laki yang masing-masing bernama :
Dewa Pulasari,
Dewa Sekar,
Dewa Balayu,
Dewa Balangan,
Dewa Bebandem, dan
Dewa Kedampal yang disebut juga Dewa Dangin.2)
              Memperhatikan nama-nama yang dipergunakan oleh putera-putra Dewa Tarukanitu, maka dapatlah dipanjatkan, bahwa ibu dari tiap-tiap putra itu brasal dari desa-desa seperti tersebut didalam namanya sendiri. Dewa Tarukanyangmalang itu setelah berusia lanjut, akhirnya meninggal diunia didesa Pulasari (Bangli). Berita kemangkatannya itu tiada dipermaklukan oleh para putranya kehadapan Baginda Adipati di Samprangan. Atas pertolongan Kepala-kepala desa disekitar tempat itu, maka mayat Dewa Tarukan lalu dibakar pada suatu tempat yang bernama cungkup Tampuagan.3)
              Dalam upacara pembakaran mayat Dew Tarukan itu, bertindaklah Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan dan Dukuh Jantituhu sebagai pendeta (Pinandita). Mereka itu berasal dari ketuunan Mpu Geni Jaya yang didharmakan di Gunung Lempuyang, yang dahulu disebut Bujangga Bali.
              Kembali diceritakan sri Agra Samprangan, yang selalu mengasingkan diri di dalam istananya. Bermacam-macam penderitaan yang dirasakannya, antara lain tentang kemangkatan putrai Baginda Dewa Ayu Muter akibat penghianatan Dewa Tarukan yang tiada tahu tata cara adat sopan santun itu. Beliau juga salah terima terhadap rakyatnya di kota Samprangan, karena tiada mampu membunuh Dewa Tarukan yang mendurhaka itu. Bahkan timbullah dugaannya, bahwa rakyat Samprangan tiada setia lagi terhadap dirinya. Karena terdorong oleh rasa malu dan benci, maka semenjak itu beliau tiada suka lagi keluar dari istananya. Roda pemerintahan menjadi macet dan nasib rakyat tiada terurus. Para patih dan Bahudanda bertambah-tambah kesal hatinya, melihat Sri Agra Samprangan sebagai adipati tiada mau menjalankan pemerintahan lagi.
              Pada suatu hari datanglah Kiyai Kubon Tubuh kekota Samprangan, bermaksud hendakmenghadap keistana. Ia adalah anak dari Arya Kutawaringin yang telah lama menetap di desa Gelel. Kedatangannya di kota Samprangan gternayta sia-sia, karena sampai tengah hari ia belum juga diteria menghadap. Karenanya terpaksa ia mendatangi beberapa orang Bahudanda dan para Menteri, untuk mengadukan halnya Adipati yang sudah tiada meperhatikan lagi roda pemerintahan. Didalam pembicaraan yang diadakan dengan para Menteri dan Bahudanda itu, semua setuju untuk menurunkan Sri Agra Samprangan sebagai Adipati, karena sejak lama sudah tidak menghiraukan pemerintahan. Sebagai penggantinya, para Mengteri dn Bahudanda itu sependapat agar Dewa Ketut Ngulesir suka menjadi Adipati, untuk menyelamatkan pulau Bali dari keruntuhan. Setelah terdapat kata sepakat, Kiyai Kubon Tubuh lalu meninggalkan kota Samprangan. Ia tiada singgah lagi pulang kerumahnya di desa Gelgel, akan tetapi terus segera pergi kedesa-desa untuk mendapatkan Dewa Ketut Ngulesir. Beberapa hari lamanya Kiyai Kubon Tusuh masuk desa keluar desa akhirnya bertemulah ia didesa pandak (Tabanan), dimana Dewa Ketut Ngulesir sedang asyiknya berjudi. Beliau agak kemalua-maluan melihat kedatangan Kiyai Kubon Tubuh, karena merasa seolah-olah beliau bukan keturunan dari seorang yang berkasta tinggi. Kiyai Kubon Tubuh mengemukakan maksud kedatangannya, serta mendesak agar Dewa Ketut Ngulesir dapat memenuhi keinginan para Menteri dan Bahudanda, yakni menggantikan kedudukan saudaranya menjadi Adipati di Saprangan. Mendengar permohonankiyai Kubon tubuh yang tiada terduga-duga itu, maka timbullah rasa ragu-ragu, karena merasa dengan diri belum pernah berpengalaman dibidang pemerintahan. Disamping itu beliau takut kena kutuk dari saudaranya, karena disangkanya beliau sengaja ingin menggulingkan kedudukan saudaranya sebagai Adipati. Dari berbagai-bagai faktor telah diperhitungkannya, akhirnya Dewa Ketut Ngulesir menolak permohonan Kiyai Kubon tubuh dengan alasan bahwa beliau tiada layak untuk dijadikan Adipati. Ketika Kiyai Kubon Tubuh megeukakan pertimbangannya lagi, bahwa penolakan itu akan mengakibatkan lenyapnya kekuasaan dinasti Kapakisan di Bali untuk selama-laanya, barulah Dewa Ketut Ngulesir menginsyafi akan pentingnya masalahyang dihadapinya itu. Akhirnya beliau menerima akan keangkatan dirinya, asalkan pusat pemerintahan dipindahkan darikota Saprangan. Saran beliau itu dimaksudkan agar jangan sampai terjadi pertentangan dengan saudaranya, sebab kedudukan saudaranya sebagai Adipati adalah masih resmi. Kiyai Kubon Tubuh dapat menerima pendapat Dewa Ketut Ngulesir itu, karenanya ia menghadarpkan agar Dewa Ketut Ngulesir suka bertepat tinggal di desa Gelgel. Ia bersedia menyerahkan rumahnya bagi kepentingan tempat tinggal beliau nanti, dan  ia sendiri akan pindahke kebon kelapanya yang tiada jauh letaknya da4ri tempat itu. Demikianlah permupakatan yang telah terjadi antara Dewa Ketut Ngulesir degan Kiyai Kubon Tubuh di desa Pandak, dan kemudian mereka berangkat bersama-sama menuju desa Gelgel. Disanalah akhirnya Dewa Ketut Ngulesir bertempat tinggal serta menyusun suatu pemerintahan baru dibawah kekuasaannya. Desa Gelgel yang sebelumnya adalah desa yang sepi, sejak itu makin harimakin bertambah ramai. Para pegawai negeri di kota Samprangan semua mengalih kedesa Gelgel, mengabdi dibawah kekuasaan pemerintahan yang baru di Bali. Sebaliknya kota Sampranganyang pernahmenjadi pusat pemerintahan di Bali, lama kelamaan kembali menjelma sebagai keadaannya semula, yakni menjadi sebuah dewa yang sepi. Walaupun demikian keadaannya, Sri Agra Samprangan tiada juga menghinraukan hal itu, malah beliau merasa lebih berbahagia ditinggalkan oleh sekalian rakyatnya itu. Karena dengan keadaan yang demikian itu, beliau merasa lebih puas dapat megyias diri, serta bermalas-malas dengan para isteri kesayangannya didalam istana.
              Demikianlah keadaan pulau Bali dibawah kekuasaan Sri Agra Sampranganyang lebih terkenal denan sebutan Dalem Ile. Beliau tiada pernah menumpahkan pikirannya dibidang pemerintahan, malah membenarkan adanya suatu pemerintahan baru timbul di desa Gelgel, yang dipimpin oleh Dewa Ketut Ngulesir, adik beliau sendiri. Ternyata dibawah pimpinan Deswa Ketut Ngulesir, Bali mengalami banyak kemajuan, seperti diuraikan dalam pasal berikut ini :
1)      Disebelah Selatan pura Penataran Agung di Besakih terdapat sebuah meru beratap 11 tingkat, ialah untuk memuja arwah Sri Kresna Kepakisan.
2)      Keluarga, Pulasari, Sekar, Balaju, Balangan, Bebandem dan Kedampal atau Dangin, yang kini banyak terdapat di Bali adalah keturunan Dewa Tarukan.
3)      Ditempat itu kini terdapat sebuah pura bernama Dalem Tampungan.

4.      SRI SMARA KEPAKISAN
              Munculnya pemerintahan baru di desa Gelgel, adalahkarena kelemahan Sri Agra Samprangan mengendalikan roda pemerintahan di Bali. Beliau terlalu sibuk mengurus dirinya sendiri. Sehingga kepentingan rakyat dan negara menjadi terlantar. Syukurlah ayah beliau almarhum banyak berbuat jasa semasa hidupnya, sehingga pembesar-pebesar negeri masih menghormati beliau sebagai keturunannya. Akan tetapi ketika beliau sudah jelas-jelas tidak mau mengurus pemerintahan, terpaksalah para pemesar-pembesar negeri mengalihkan pandangannya untuk memilih Dewa Ketut Ngulesir sebagai penggantinya. Walaupun demikian, mereka masih tetap menghormati kedudukan Sri Agra Saprangan sebagai seorang yang berkasta tinggi, terbukti dengan adanya sikap para Menteri dan Bahudanda, maupun sikap pembesar-pembesar tinggi lainnya, seorangpun tiada berani yang menentangnya. Lebih-lebih Kiyai Kubon Tubuh yang memelopiri berdirinya pemerintahan baru di Gelgel, dengan rela telah mengorbankan rumah dan pekarangannya. Tiada lain maksudnya ialah untuk tetap menghormati kedudukan Sri Agra Samprangan selaku bekas pemimpinnya, agar jangan sampai terjadi pertumpahan darah diantara kedua orang yang dijunjungnya itu.
              Demikianlah berhati-hatinya para kesatyang Kediri itu bertindak, sehingga pergeseran kekuasaan dari Samprangan ke Gelgel tetap diliputi oleh suasana aman dan tenteram. Ketenangan suasana itulah memberi kesempatan kepada pemerintahan baru di Gelgel untuk meletakkan dasar-dasar kepercayaan kepada rakyatnya dibawah pimpinan Adipati Sri Smara Kepakisan. Demikianlah gelar kehormatanyang dipergunakan oleh Desa Ketut Ngulesir, sesudah beliau dinobatkan menajadi Adipati. Didalam pemerintahan beliau mendapat dukungan sepenuhnya dari kepala-kepala desa di Bali maupun dari para arya yang dahulu bersama-sama dikirim oleh Gajah Mada dari Jawa ke Bali. Diantara para Arya yang mula-mulanya datang itu, sudah banyak yang meninggal dunia, namun keturunannya tetap melanjutkan pengabdiannya. Sekedar mempunyai gambaran mengenai para Ksatyang Kediri beserta keturunannya, baiklah dibawah ini diuraikan namanya masing-masing.
1)      Arya Kepakisan mempunyai w orang anak laki-laki masing-masing bernama : Pangeran Anak dan pangeran Yuh Aya. Sedangkan anak pangerah Nyuh Aya bernama : Pangeran Petandakan.
2)      Arya Kanuruhan mempunyai 3 orang anak laki-laki masing-masing bernama Kiyai Bangsinga, Kiyai Tangkas dan Kiyai Pegatepan.
3)      Sira Wangbang (Brahmana) mempunyai 3 orang anak laki-laki masing-masing bernama : Kiyai Pinatih, Kiyai Penataran dan Kiyai Tohjiwa.
4)      Arya Wangbang mempunai 3 orng anak laii-laki masing-masing bernama : Kiyai Sukahet, Kiyai pering dan Kiyai Cangahan.
5)      Arya Kenceng mempunyai 2 orang anak laki-laki masing-masing bernama : Kiyai Tabanan dan Kiyai Tegehkori..
6)      Arya Belog mempunyai 2 orang anak laki0laki masing-masing bernama : Kiyai Kaba-kaba dan Kiyai Beringkit.
7)      Arya Penalasan mempunyai 2 orang anak laki-laki masing-masing bernama : Kiyai Jelantik dan Kiyai Camenggaon.
8)      Arya Kutawaringin mempunyai seorang anak laki-laki bernama : Kiyai Kubon Tubuh.
9)      Arya Dalancang mempunyai seorang anak laki-laki bernama : Kiyai Kapal.
10)  Arya Manguri mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kiyai Tianyar.
11)  Arya Gajah Para mempunyai seorang anak laki-laki bernama : Kiyai Tianyar.
12)  Tan kawur mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kiyai Pacung.
13)  Tan Mundur mempunyai seorang anak laki-laki bernama : Kiyai Abiansemal.
14)  Tan Kober mempunyai seorang anak laki-laki bernama Kiyai Cacaha.
Sekian banyaknya para Ksatriyang Kediri yang mendukung Sri Smara Kepakisan menjadi Adipati, didalam pemerintahan di angkatlah pangeran patandakan sebagai Patih Agung, sedangkan kedudukan Demung dan Tumenggung masing-masing ditempati oleh Kiayi Pinatih dan Kiyai Kubon Tubuh. Para Arya lainnya sebua diangkat mejadi pegawai kerajaan dengan sebutan Anglurah. Mereka berkedudukan di kota Gelgel, dan dari sana mereka memerintah rakyatnya didaerahnya masing-masing. Selain dari pada para Arya yang mendapat kedudukan didalam pemerintahan juga para pemimpin yang berasal dariketurunan keluarga Ki Patih Ulung cukup mendapat perhatian dari Sri Smara kapakisan. Malah para pemimpin ini lebih diutamakan, terbukti dengandidirikannya sebuah pura besar di kota Gelgel yang bernama pura Dasar Bhuwana. Pada halaman pura itu dibangun 2 buah meru, masing-masing bertingkat 3 dan 11. Meruyang bertingkat itu dimaksudkan untuk pemujaan arwah leluhur Sanak Pitu yang disebut : Pasek, Bendesa, Kubayan, Ngukuhin, Salahin, Dangka dan Gaduh. Sedangkan meru yang bertingkat 11 itu dimaksudkan untuk memuja arwah leluhur yang dimuliakan oleh Adipati Sri Smara kapakisan sendiri. Melihat adanya pura Dasar Bhuwana itu, maka timbullah dugaan para pemimpin di Bali, bahwa Sri Smara Kepakisan telah mengakui mereka berasal dari satu keturunan, terbukti dengan adanya w buah meru yang terletak pada satu halaman. Justru anggapan mereka itu dapat memperkuat kedudukan beliau di Bali, karena segala perintahnya selalu diturutnya dengan patuh. Dengan demikian kedudukan ?Sri Smara Kepakisan sebagai Adipati makin kuat, ketertibgan dan keamanan dapat terpelihara dengan baik. Sesuailah degnan adanya pura “dasar Bhuwana seperti disebut kan diatas, karena pnama pura itu telah mengesankan bahwa dasar kemasyarakat di Bali telah ditegakkan kembali. Selain dari pura Dasar Bhuwana, beliau mendirikan pula sebuah gedung yang besar, tempat memutar roda pemerintaha. Gedung tersebut bernama : SWECALINGGARSAPURA, yang melambangkan kebesaran dan kemuliaan kota Gelgel sebagai pusat pemerintahan di Bali.
              Demikianlah dasar-dasar kebijaksanaan yang telah diambil untuk memikat hati penduduk di Bali, sehingga kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya bertambah kuat. Apalagi beliau selalu bertindak tegas didalam meutuskan sesuatu, denan tiada membeda-bedakan antara rakyat maupun keluarga. Makin bertambah teballah kepercayaan rakyat, bahwa beliau adalah seorang Adipati yang bijaksana dan adil.
              Pada suatu hari beliau dikejutkan oleh sebuah berita yang menyatakan, bahwa dua buah sungai yang terletak di seelah Barat Kota banyak menghanyutkan bubur dan uang kepeng bolong. Setelah diselidiki ternyatalah itu berasal darisisa-sisa pembakaran jenazah Dewa Tarukan, yang diselenggrakan oleh para putranya dengan mendapat bantuan dari kepala desa Pulasari dan sekitarnya. Mendengar berita tersebut, terkenanglah beliau kepada saudaranya yang malang itu. Maka dititahkanlah kepada beberapa orang pegawai istana, untukmenjemput para putra Dewa Tarukan agar dibawa kekota Gelgel. Akan tetapi para putra Dewa Tarukan itu tiada mengindahkan kedatangan uturan tersebut, karena mereka kawtir kalau-kalau nanti mereka mendapat hukuman. Mereka mengetahui, bahwa ayahnya pernah berbuat dosa semasa hidupnya, sehingga ayahnya terpaksa melarikan diri kedaerah pegunungan. Terpaksalah utusan itu kembali ke Gelgel dengan sisa-sisa dan melaporkan keadaan para putra Dewa Tarukan yang tiada mau mengindahkan perintah yang disampaikannya. Akan tetapi Sri Smara Kepakisan belumjuga berputus dan dalam hal itu, dan segera mengirimkan suatu pasukan untuk menangkapnya. Penangkapan itu bukanlah dimaksudkan untuk menjatuhi hukuman, melainkan untuk mengembalikan kepada kedudukannya semula. Tetapi anggapan para putra Dewa Tarukan sangat berlainan. Setelah mereka mendengar adanya suatu pasukan yang hendak menangkapnya, terlebih dahulu mereka melarikan diri bersembunyi kehutan-hutan. Sia-sia pulalah kedatangan pasukan itu, sehingga sesampainya kembali di Gelgel pasukan itu melaporkan bahwa para putra Dewa Tarukan telah semua melarikan diri kedalam hutan. Mendengar laporan itu, terpaksalah Sri Smara Kepakisan menjatuhkan derajat kebangsawanan para putra Dewa Tarukan sampai dengan keturunannya kelak. Jadi peristiwa pembakaran jenazah Dewa Tarukan di Tampungan itu, menimbulkan kenang-kenangan sejarah hingga kini, dengan adanya tukad bubuh dan Tukad Jinah, dan berakhir dengan penghapusan gelar Dea bagi seluruh keturunan Dewa Tarukan yang diamanatkan oleh Sri Smara Kapakisan.
              Memang didalam persoalan kasta Sri Smara Kapakisan selalu bertindak tgeas dengan tiada memilih kasih antara orang lain maupun terhadap keluarganya. Adanya penduduk Pandak (Tabanan) mempergunakan gelar Sanghyang, yang sama kedudukannya sebagai kasta Ksatrya, adalah pemberian beliau juga. Gelar itu diberikan, adalah untuk membalas kebaikan penduduk disitu karena besar jasanya ketika beliaumasih malarat. Ketegasan beliau bertindak dibidang kewangsaan ternyata mendapat penghargaan besar dari sekalian rakyatnya. Tiap-riap orang yang berbuat jada akan mendapat penghargaan yang setimpal, demikian pula sebaliknya, sehingga seluruh rakyat di Bali memuji kebijaksanaan pemerintahnya. Mereka tunduk dibawah kekuasaan pemerintah yang adil dan bijaksana itu. Tak seorangpun terdengar keluhan dimayarakat, selama Sri Smara kapakisan menjadi Adipati di Bali.
              Tiada lama berselang sesudah Gajah Mada meninggal pada tahun 1364, Sri Smara Kapakisan mendapat panggilan untuk menghadap ke Majapahit. Beliau diiringkan oleh Pangeran Padandakan, Kiyai Pinatih, Kiyai Kubon tubuh dan banyak lagi pembersa-pebesar lainya terdiri dari para Anglurah. Tujuhhari lamanya rombongan itu didalam perjalannya, baru mendarat dipelabuhan Bubat. Disana rombongan itu menginap semalam, dan keesokan harinya barulah menuju ke kota Majapahit bersama-sama denan barisan kehormatan yang datang menjemputnya. Sri Smara Kapakisan beserta ksekalian pengiringnya mendapat sebuah pesanggrahan bernama Kemegatan yang terletak dilingkungan istana. Selain Adipati dari Bali, turut hadir pula Adipati palembang, Madura, Pasuruhan dan Blambangan yang telahpula disediakan penginapannya masing-masing.
              Sesudah beberapa hari lamanya para Adipati gtersebut berada di ajapahit, maka tibalah saatnya suatu musyawarah besar untuk dimulai. Musyawaran besar itu langsung dipimpin oleh Baginda raja wijaya Rajasa yang disebut Sri Adji atau raja Wengker. Selain dari pada utusan dari Bali, Palembang, Madura, pasuruhan dan Blambangan, muyawarah itu dihadiri pula oleh para pemimpin-pemimpi Agama dan para pembesar-pembesar tinggi dari kerajaan Majapahit itu sendiri. Sebuah ruangan yang besar di dalam istana, yang segnaja disediakan untuk musyawarah besar itu, telah pula dihiasi dengan indah. Semua hadirin mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing, demikian pula Baginda raja Sri Hayam wuruk yang memimpin langsung musyawarah itu. Pokok penting yang dibicarakan didalam musyawarah, ialah tentang kesukaran yang dihadapi oleh pemerintah di Majapahit, berhubung dengan meninggalnya patih mangkubui gajah mada. Sedangkan untuk penggantinya, Baginda belum menemukan  seoirang calon yang mempunyai kecakapan yang sebanding denan Gajah mada. Itulah suatu kesulitan yang sedang dihadapi oleh Baginda raja Sri hayam Wuruk. Sebab baginda yakin, tanpa adanya orang kuat, kerajaan Majapahit akan mengalami kemunduran. Setelah dibicarakan semasak-masaknya maka diambillah suatu keputusan untuk memecah jabatan itu menjadi 4 kementerian, dan masing-masing dipimpin oleh seorang menteri yang cakap, Dengan demikian diharapkan tenaga 4 orang Menteri yang terpilih itu akan dapat menyamai kecakapannya Gajah Mada didalam mengatur pemerintahan. Disamping itu juga kepada sekalian Adipati diberikan petunujuk-petunjuk tentang masing-masing. Dengan demikian seluruh rakyat di Nusantara ini akan tetap bernaung dibawah panji-panji kerajaan majapahit. Demikianlah antara lain hasil musyawarah besar yang telah dicapai, dan para Adipati semuanya menyatakan kesanggupan dan kepatuhannya untuk tetap menjunjung tinggi kedaulatan kerajaan Majapahit. Setelah musyawarah besar itu berakhir, maka kepada sekalian Adipati dibagi-bagikan hadiah yang indah-indah sebagai tanda kenangan-kenangan sebelum mereka kembali kedarahnya masing-masing.
              Lebih kurang sebulan lamanya Sri Smara kapakisan beserta rombongannya berada di Majapahit. Beliau mendapat hadian seharganya. Akhirnya beliau mohon diri kehadapan Baginda raja ketika beliau melangkahkan kakinya naik keatas perahu,tiba-tiba keris hadiah yang diperolehnya jatuh didalam sunai. Alangkah terkejut dan sedihnya hati Baginda mengenangkan nasib kerisnya yang bertuah itu. Maka dicobanyalah untuk mengacungkan sarung keris itu kebawah, maka dengan tiba-tiba muncullah mata keris tadi dan terus masuk kedalam sarungnya. Sebagai kenang-kenangan atas peristiwa itu, keris itupun kemudian dinamai Bengawan Canggu, karena disitulah keris itu pernah jatuh.
              Kedatangan Baginda kembali dikota Gelgel mendapat penghormatan yang luar bgiasa ramainya dari penduduk ibu kota. Upacara adat dan agama lebih dahulu telah tersedia, yang menunjukkan kebesaran dan kemuliaan Baginda sebagai seorang Adiopati yang berwibawa. Kecuali kehadirannya pada musyawarah besar di majapahit beliau pernah pula menghadiri suatu perayaan besar di Madura. Perayaan itu disebut …. Ialah suatu pupacara pemujaan yang paling tinggi tingkatannya terhadap arwah leluhur, yang diselenggarakan oleh Adipati disana.
              Entah berapa tahun lamanya Sri Kapakisan menjadi Adipati di Bali, maka beliau pernah menyelenggarakan suatu perayaan besar di kota Gelgel yang disebut “ABHISEKA”. Perayaan itu ialah upacara penobatan beliau sebagai Raja Resi, setelah beliau berusia lanjut. Kemungkinan perayaan itu diselenggarakan sesudah Baginda raja Sri Hayam Wuruk mangkat, yakni sesudah tahun 1389. Mulai saat itu kira-kira kerajaan Majapahit sudah mengalami kemunduran, sebab penobatan seorang Raja – Resi hanya dimungkinkan oleh seorang raja yang berdaulat penuh diats wilayahnya yang merdeka. Rupanya Sri Smara kapakisan yang mendapat dukungan penuh dari sekalian rakyatnya di Bali, telah meperhitungkan sekali perkembangan politik yang terjadi di Majapahit. Kemunduran yang menimpa kerajaan Majapahit, adalah suatu kesempatan yang paling tepat dipandang oleh Baginda Sri Smara kapakisan, untuk mengantarkan rakyat Bali kealam kerajaan yang merdeka.
              Demikianlah keadaan pulau Bali semasa Sri Smara Kapakisan berkuasa di Gelgel. Baginda adalah seorang Adipati yang cakap dan bijaksana, tegas didalam pemerintahan, sehingga keadilan dan kemakmuran dapat diwujudkan. Beliau berkuasa di Bali kira-kira sampai permulaan abad ke XV, dengan kedudukan mula-mula segagai Adipati dan berakhir dengan gelar Raja Resi.[3]


[1] Disebelah selatan pura panatara Agung di Besakih, terdapat sebuah meru beratap 11 tigkat, jalan untukmemuja arwah Sri Kresna Kapakisan.
[2] Disebelah selatanpura panataran Agung di Besakih, terdapat sebuah meru beratap 11 tingkat, jalan untuk memuja arwah Sri Kresna Kapakisan.
[3] Dipura Besakihkini terdapat sebuah meru beringkat 9, untukmemuja arwah Baginda Sri Smara kapakisan.

1 komentar:

  1. SAYA ORANG JAWA TIMUR TINGGAL DI DALAM IBUKOTA KERAJAAN MAJAPAHIT, SAYA SAMA SEKALI TAK PETCAYA DENGAN DENGAN ISI BLOG INI, MAJAPAHIT ADALAH KEKUATAN BESAR YANG MENGGETARKAN SELURUH KEKUATAN LAIN DI NUSANTARA DAN TAK TERKALAHKAN DI SELURUH PALAGAN PERTEMPURAN DI JAGAD NUSANTARA. SIRA MPU GAJAH MADA ADALAH BHAYANGKARA NAGARA YANG CERDAS CERDAS ATAU WIWEKA YANG MAMPU MEMBANGUN KEBESARAN MAJAPAHIT DARI SEBUAH DESA KECIL. DAN GAJAH MADA TAK MEMERLUKAN TIPUAN MURAHAN KALAU CUMA UNTUK MENAKLUKAN KERAJAAN BEDULU FI BALI TAK ADA SATUPUN KEKUATAN PADA SAAT ITU YANG MAMPU MENANDINGI MAJAPAHIT. SOAL KEBO IWA DIA TAK LEBIH DARI SEORANG PRIA MATA KERANJANG YANG DOYAN PEREMPUAN DAN MPU GAJAH MADA PAHAM BETUL KEBODOHANNYA ITU. OK, KALAU ANDA TAK SUKA MAJAPAHIT ITU HAK HAK ANDA, TAPI BERSIKAPLAH KONSISTEN, SILAHKAN ANFA KELUAR SAJA DARI AGAMA HINDU KARNA AGAMA HINDU DI BALI 100% ADALAH HINDU MAJAPAHIT, JANGAN JUGA SRMBAHYANG DI PURA PURA BESAR, KAN JUGA PENINGGALAN MAJAPAHIT

    BalasHapus